Tuesday, December 02, 2008




Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi
--------------------------------------------------
--Oleh Anwar Holid


Bentang Pustaka meluncurkan Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam suasana amat meriah.

JAKARTA - "Andrea Hirata memang fenomenal ya?" kata Aendra H. Medita keras-keras di dekat telinga saya, berusaha mengalahkan riuh suara ratusan orang yang memadati halaman dalam MP Bookpoint. "Kok kamu ada di sini?" tanya saya. "Memang nggak boleh?" tawa dia. Rupanya dia juga akan bertemu dengan Iman Soleh, aktor monolog yang malam itu didaulat membawakan puisi legendaris "Jante Arkidam" secara dramatik dan menukil mozaik dari novel terbaru Andrea Hirata.

Tadi siang saya melihat novel itu sedang dipasang besar-besaran di satu ruang MP Bookpoint. "Baru datang tadi pagi mas," ujar seorang karyawan sambil beres-beres. Ruang itu langsung penuh hanya oleh Maryamah Karpov ditambah tiga novel Andrea yang lain. Buku lain disingkirkan. Hari itu, Jumat, 28/11/08, adalah hari tetralogi Laskar Pelangi.

Meski hari pertama perjualan Maryamah Karpov belum resmi dilakukan, saya dengar dari Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, bahwa di toko buku Gramedia Citraland, novel itu dalam dua jam sudah terjual lebih dari 500 kopi. Di MP Bookpoint banyak pengunjung tak tahan menunggu lebih lama lagi untuk membeli. Sebagian orang telah membeli via toko buku online. Bentang menyediakan 100 ribu kopi untuk cetakan pertama, boleh jadi itu merupakan rekor untuk cetakan pertama di Indonesia.

Saya bertemu dengan Andrea Hirata di kantor Bentang, hanya beberapa rumah dari MP Bookpoint. Dia sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya, sekalian nonton konser jazz dengan keponakan-keponakannya, ditemani EO dan kuasa hukumnya. Saya baru saja menerima satu kopi novel itu dari Gangsar, dengan ucapan, "Kamu harus resensi buku ini ya." Di meja itu sudah menumpuk lebih dari 100 kopi Maryamah Karpov untuk ditandatangani. Itu buku pesanan. Tangan Andrea terus sibuk menulis nama satu per satu.

Beberapa saat kemudian wartawan Koran Tempo mewawancarai. Wawancara ini cukup intens karena belum ada media lain yang datang. Andrea menyatakan tekad untuk sementara berhenti dari dunia perbukuan. "Untuk sementara, tetralogi ini cukup," katanya. Dia ingin menyepi dan merenungi lagi perjalanan karirnya sebagai penulis, pertemuan mengesankan dengan John Berendt, keinginan menggali lebih serius genre yang disebut pihak Bentang sebagai "cultural literary nonfiction." Juga upaya menghasilkan buku sekelas karya Truman Capote atau Amin Maalouf.


"Dalam batas tertentu, menulis butuh perenungan. Saya punya kapasitas nggak sih? Saya mau menulis dengan benar. Apabila nggak mutu, jangan menulis," ucapnya tegas. Sang wartawan berkali-kali berusaha meyakinkan apa benar Andrea mau mundur dari dunia yang telah memberikan hal mengejutkan pada dirinya.

Tetralogi Laskar Pelangi adalah hip. Anak berusia 7 tahun hingga orang berumur 70 tahun membaca novel-novel itu. Ada anak SD yang terobsesi ingin bertemu dengan Andrea setelah membaca ketiga novelnya kala terbaring sakit. Maryamah Karpov, buku ke-4 seri itu, sudah ditunggu sejak dua tahun lalu, baru resmi diumumkan penerbitannya pada September lalu, ketika Mizan mengadakan ulang tahun ke-25, persis menjelang premiere film Laskar Pelangi. Andrea sendiri terus-terus menjadi pemberitaan, termasuk muncul kontroversi pernikahannya pada awal November ini.

Andrea mengaku berdarah-darah menyelesaikan novel ke-4 ini. Meski bila digabung waktu penulisannya hanya sekitar satu bulan, jeda di antaranya cukup lama. "Dalam beberapa hal, intensitas penulisan Maryamah Karpov mirip Laskar Pelangi," kata dia. "Saya juga ingin novel ini mendapat tanggapan seperti pembaca menanggapi Laskar Pelangi. Saya seperti menulis Laskar Pelangi jilid dua."

Malam itu Andrea mendapatkan yang diharapkannya. Ratusan orang hadir di MP Bookpoint sampai membuat tempat itu sesak buat bergerak sedikitpun. Mereka menunggu sejak sore, berjubel di setiap pojok. Mereka riang menyambut ajakan menyanyi "Bunga Seroja" dan "Englishman in New York". Mereka terkesima oleh penampilan Iman Soleh yang lucu, teatrikal dan menggelegar.

Mereka terus bersorak-sorai sampai akhirnya Andrea Hirata datang dalam kawalan polisi. Apalagi Giring Nidji dan sejumlah pendukung film Laskar Pelangi ternyata mau beramai-ramai menyanyikan theme song itu. Massa, terutama wartawan, tambah heboh begitu ada pernyataan pers tentang status perkawinannya. Sebagian bertanya dengan teriakan. Untung dia segera diselamatkan oleh acara tanda tangan, yang berlangsung sangat padat. Baru kira-kira pukul 10 malam acara itu selesai. Saya melihat display Maryamah Karpov sudah lenyap di ruangan MP Bookpoint, hanya tersisa yang ada di dinding-dinding kacanya.

Putut Widjanarko, VP Operations Mizan Publika yang saya tahu rakus membaca, sulit menyembuyikan pujian pada Maryamah Karpov. Dia telah melahap buku itu sejak awal produksi. "Cara berceritanya luar biasa," kata dia penuh penekanan. "Detail-detail suasana desanya mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari."

"Kamu pernah melihat peluncuran buku seperti ini?" tanya Gangsar pada saya ketika hendak pulang. Saya tersenyum, membatin, "Setiap penulis punya hari keberuntungannya." Ini launching paling heboh yang pernah saya saksikan.

Segera setelah ini akan muncul berbagai komentar atas novel 504 halaman itu, baik di media massa atau Internet. Ribuan pembaca, terutama book blogger dan pecandu buku, akan menuliskan kesan masing-masing, termasuk kritik, bahkan dari kalangan yang mengaku sulit menyelesaikan oleh Laskar Pelangi. Tapi bagi Andrea Hirata, tugas sudah dituntaskan. Jilid terakhir sudah dipersembahkan. Kini tinggal dia melaksanakan rencana-rencana selanjutnya, termasuk menghilang sementara.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak di:
http://www.mizan.com
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)

2 comments:

Bahtiar Baihaqi said...

Mas (eh Aa ya) Kholid, salam kenal. Saat sedang belajar ngeblog, tiba-tiba saja aku sampai ke sini. Kalo soal tulisan-tulisan Mas (ya Mas aja ya soalnya aku yang jawa jadi mudah manggilnya) sebenarnya sih dah kenal lama. Salah satunnya kan dah beken di Republika. Sejak semula aku dah cocok dengan gaya Mas yang lembut dan low profile. Gak meledak-ledak (emosinya). Idiih, kok aku jadi sok tahu sih. Sok akrab.
Tapi, gak papa ya Mas. Namanya juga lagi ngrayu biar blog Mas bisa aku link di blogku: awamologi.wordpress.com. Eh, tapi gimana cara ngelinknya ya? Masih awam nih.
Terakhir, bagaimana komen Mas soal klaim "cultural literature non-fiction" itu? Kenapa gak dibilang fiksi aja, toh konon ada beberapa ketidaksesuaian dengan kenyataan semisal Bu Muslimah aja (konon pula) gak tau siapa yang dirujuk sebagai tokoh Lintang.

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

Salam, dalam ngeblog, saya juga belum sangat ahli. Tapi, semua pusatnya ada dashboard. Kita harus terbiasa dengan itu dan menguasainya. Saya juga sangat terbatas akses internetnya, jadi sulit memberi tahu; pokoknya coba-coba dan lihat perubahannya di blog.

Soal "cultural literature non-fiction" itu juga masih kontroversial, sebab Andrea selalu bilang bahwa Laskar Pelangi adalah novel, yaitu fiksi.

Tapi mari kita lihat perkembangannya nanti.

Terima kasih sudah baca tulisan saya.
Wasalam.