Thursday, December 11, 2008



Bagaimana Menghargai Tulisan Sendiri
---Anwar Holid


Menghargai tulisan sendiri ternyata agak sulit, persis karena baru-baru ini saya membaca pernyataan Ignatius Haryanto di Matabaca: "Mungkinkah meneliti tentang diri sendiri?"

Saya pernah menulis tentang pilihan (ketetapan hati) seseorang yang ingin jadi penulis. Memang mengakui apa jadi penulis itu "takdir" atau "kerja keras" dan latihan disiplin, sulit juga ditentukan. Kriteria saya lebih sederhana dalam menentukan apa sesuatu layak dijalani atau ditinggalkan; misalnya apa orang itu ikhlas atau senang hati atau dia malah mendapat kesulitan (kegagalan) dari pilihan tersebut. Kalau dia ikhlas, jalani---sesulit apa pun konsekuensinya, setidak populer apa pun jalan yang dia pilih. Bila orang rela dan yakin, kemungkinan besar dia bisa senang hati meski sesulit apa pun kondisi faktualnya.

Saya juga sering menyatakan bahwa menulis atau jadi penulis itu sama saja dengan mencangkul atau jadi petani. Jadi penulis itu tidak lebih hebat atau mulia dari jadi direktur atau tukang goreng tahu. Biasa saja. Ini tentu bukan untuk merendahkan, tapi justru ingin menegaskan ada juga jalan lain yang sama mulia dan menarik di dunia ini. Kalau seseorang ditakdirkan jadi tukang becak, tentu itu sama mulianya dengan jadi wartawan. Kalau ada orang yang dapat kesenangan sejati dengan jadi penulis, tentu ada juga tukang sampah yang bahagia dengan pekerjaannya. Jadi kalau ada orang yang dengan jadi penulis malah sengsara atau tertekan dan tidak mendapat kebahagiaan, tentu ada yang salah di sana, dan karena itu harus ditinggalkan atau diperbaiki. Di sini, kita bukan sedang bicara tentang konsekuensi, melainkan lebih pada orang bisa senang dengan pilihannya atau tidak.

Dalam bahasa Inggris ada kata "bliss" yang artinya kira-kira "kebahagiaan sempurna" atau "kenikmatan spiritual." Kalau orang mendapat kenikmatan spiritual atas pilihan yang dia ambil, saya yakin semua akan beres dan persoalan dia dengan dunia dan seluruh isinya "selesai."

Pendapat tersebut membuat saya sulit menjawab pertanyaan mendasar tentang topik ini, ialah bagaimana cara seseorang menghargai tulisan sendiri?

Sebagian orang menulis yang betul-betul ideal, dia inginkan, lepas bahwa tulisan itu bisa dijual atau mendatangkan pendapatan (nafkah) atau tidak. Sebagian orang menulis karena pekerjaannya memang penulis, yaitu kuli tinta (wartawan, jurnalis.) Dia harus menulis walau mungkin subjek tulisan itu di luar yang dia sukai. Jujur, saya sendiri jauh lebih bisa menikmati tulisan yang saya tuangkan di [HALAMAN GANJIL] karena menurut saya itu ditulis dengan kejujuran yang lebih tinggi daripada tulisan yang saya hasilkan (jual) ke media massa. Sering saya terdorong ingin memaki atau menulis sekasar mungkin di [HALAMAN GANJIL], melampiaskan perasaan sedalam mungkin, tapi sejauh ini masih bisa tertahan karena pertimbangan kesopanan dan reputasi atau menimbang konsekuensi buat diri sendiri dan keluarga. Mungkin saya pengecut, tapi di sisi lain saya belajar memahami diri dan menaklukkan perang dalam diri.

Menulis untuk media massa juga menyenangkan karena selain mendatangkan pendapatan, itu melatih menulis dengan standar tertentu yang bisa diterima suatu lembaga. Tapi menulis di media massa seolah-olah melarang orang melampiaskan perasaan sekasar mungkin (jelas!), dan itu membuat saya merasa kurang ekspresif menulis. Penulis harus belajar "memelintir" ungkapan yang bisa mewadahi maksud. Menulis di media massa juga melatih kita disiplin, melakukan riset, mencari kedalaman, menawarkan sesuatu yang memenuhi logika umum kepada pembaca dan orang lain.

Setahu saya, menurut semua penulis, menulis itu 99 % kerja keras dan sisanya bakat. Berdasar pengalaman sendiri, saya juga seperti itu; saya lebih yakin bahwa menulis itu kerja keras yang harus diwujudkan dengan latihan tiada henti, dengan eksplorasi, eksperimen, pengorbanan, dan pemahaman (wawasan), daripada mengandalkan bakat. Kalau kita punya mimpi yang kuat jadi penulis, biasanya selalu ada jalan ke arah sana. Untuk jadi penulis, menurut saya sederhana; orang hanya perlu motif (niat, alasan). Persoalan biasanya baru muncul bila menulis misalnya ternyata gagal dijadikan sandaran hidup atau mata pencaharian, padahal dia merasa itu panggilan jiwanya. Di situ letak penting kesempatan dan kemampuan, termasuk soal disiplin, skala prioritas dan lain-lain yang berhubungan dengan profesionalisme.


Baru-baru ini saya tanya ke Akmal Nasery Basral (wartawan Tempo dan penulis fiksi) tentang cara menyelesaikan proyek dua tulisan dalam sekali waktu. Jawaban dia menurut saya sangat bagus:
---------------------------------------------
ya, godaan seperti itu khas dialami oleh para penulis. karena itu ada sebuah ungkapan yang bilang bahwa writing is a continuing struggle between one self and a blank page. ini sebuah pertempuran yang harus "dimenangkan" oleh sang penulis dari halaman ke halaman, bukan dari ide ke ide.

sebab banyak sekali penulis pemula, atau yang bercita-cita menjadi penulis, mereka punya ide-ide cemerlang, tapi tak cukup punya strategi dan stamina untuk mewujudkannya dalam halaman per halaman, apalagi sampai bertemu dengan halaman terakhir dari idenya itu.

problem kebanyakan penulis sekarang adalah, termasuk saya sendiri, bukan karena tak punya bahan untuk ditulis. melainkan karena terlalu BANYAK yang ingin ditulis, sehingga tidak bisa fokus baik dalam melakukan manajemen waktu apalagi stamina.
---------------------------------------------

Kalau kita merasa tulisan itu jelek, tentu ada kriteria (nilai) kenapa bisa disebut jelek; dan kita tahu ada tulisan yang bagus. Standar saya sekali lagi juga sederhana: kalau sudah puas dengan tulisan itu, menurut saya itu sudah bagus/cukup. Kalau masih ragu, buktikan dengan cek ke teman atau orang yang kita nilai bisa menanggapi dengan pantas. Coba minta tanggapan orang, terlebih-lebih tanggapan orang jujur. Bila menurut dia sudah cukup, menurut saya penulis harus yakin bahwa tulisan itu sudah cukup bagus. Kalau tidak, memang harus mengakui tulisan itu jelek (gagal.)

Bila penulis masih sulit menilai tulisan sendiri, coba minta respons (nilai) ke orang lain, orang dekat, lebih bagus lagi ke kritik. Menurut sejumlah buku motivasi menulis, ada poin menarik yaitu kita harus mau "mengakui tulisan sendiri." Apa pun bentuknya, apa pun hasilnya, apa pun nilainya. Kalau suatu ketika kita sukses menulis dengan baik, akuilah bahwa itu MEMANG tulisan yang baik, meskipun kita sendiri terkejut entah bagaimana caranya pernah punya ide brilian seperti itu; kalau lain kali tulisan kita buruk, kita harus bilang bahwa itu tulisan jelek yang pernah kita hasilkan. Natalie Goldberg bahkan lebih berani: kalau perlu, sesekali menulislah dengan sungguh-sungguh, kemudian buang. Lupakan. Caryn Mirriam-Goldberg dalam Daripada Bete Nulis Aja bahkan bilang begini: pilihlah kalimat terbaik dalam tulisanmu, lantas coretlah. Waaaaah... ini kan mirip konsep "ikhlas" atau melupakan amal kebaikan yang kita lakukan. Jangan pamrih.

Kunci lain ialah semoga kita tetap semangat dan mau terus belajar.

Tampaknya semua penulis yang baik melakukan itu. Penulis pasti belajar pada penulis lain, entah yang lebih senior atau lebih berhasil atau punya keunggulan tertentu. Semua buku menulis mengajarkan hal serupa. Seorang penulis harus belajar sungguh-sungguh tentang menulis, memperbaiki diri, menguasai tata bahasa, meningkatkan pencapaian, dan seterusnya. Itulah profesionalisme dan pengabdian; totalitas. Natalie Goldberg belajar dari Walt Whitman; saya belajar dari banyak orang, dari siapa saja yang memberi pencerahan dan tambahan wawasan. Saya belajar tega menyunting tulisan sendiri dari seorang wartawan. Belajar "analisis isi wacana" dari Farid Gaban dan Ignatius Haryanto. Dari penulis yang lebih disiplin kita belajar cara mendisiplinkan diri untuk menjalani hidup sebagai penulis. Biasanya buku panduan menulis selalu mencontohkan belajar menulis cara penulis lain. Kenapa ini selalu diajarkan? Saya yakin agar kita (penulis yang lebih junior) mau belajar demi mendapat ruh menulis, mengasah ketajaman, sensibilitas, dan seterusnya.

Sebagai penulis, saya juga masih punya banyak sekali kekurangan, kurang produktif dan disiplin, mudah mengeluh dan menyerah, mudah terganggu, kurang teguh. Kemampuan analisis saya juga jelek, sangat sering pilih-pilih, kurang bisa menjelajah topik-topik sulit. Maka setiap tawaran menulis selalu saya jadikan tantangan latihan disiplin diri. Hasilnya kadang-kadang mengecewakan, tapi ada juga yang memuaskan. Menulis Barack Hussein Obama kemarin membuktikan saya kesulitan menjelajahi topik yang pada dasarnya tak saya kuasai, terutama tentang sistem politik dan pemerintahan AS---tapi saya berusaha dan belajar dari seorang sarjana. Saya takut melakukan seperti kata Farid Gaban: jangan sampai kamu menulis sesuatu yang kamu sendiri tak paham. Jangankan pada pembaca (orang lain); HARAM hukumnya penulis menulis sesuatu yang tak dia pahami. Ini tantangan agar penulis betul-betul yakin dengan pekerjaannya; tahu yang dia maksud dalam tulisannya.[]

Anwar Holid, sehari-hari bekerja sebagai penulis, penyunting, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

TAG

3 comments:

Bahtiar Baihaqi said...

Mas, aku mengaku ada kenikmatan ketika mengikuti tulisan-tulisan Mas. Salah satu keunggulan yang aku temukan dari Mas adalah kelenturan memadukan “informasi pribadi dan gaya akrab pertemanan” dengan kekayaan data-data dari sumber bacaan yang lain. Ini misalnya aku rasakan sekali saat membaca tulisan Mas soal “kesulitan memahami buku kumpulan puisi Nirwan Dewanto”. Tentu, aku pun tidak selalu dapat menyerap semua “mutiara” dari Mas Kholid. Namun, aku tetap mencoba mengikat makna-maknanya dari sudutku sendiri seperti yang aku catatkan di awamologi.worpress.com ini: Memilih Kenikmatan Spiritual. Kerelaan Mas untuk aku nikmati tulisan-tulisannya kiranya dapat menimbulkan keikhlasan pula dalam diriku (mudah-mudahan sampai pada taraf kenikmatan spiritual).

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

Wah... berharga banget komentarnya!

Insya Allah tulisan mas juga akan segera saya baca.

ayu said...

ternyata kamu seorang penulis yang hebat, tentu saja semua itu sangat bermanfaat buat saya . saya harus banyak belajar dari kamu