Wednesday, December 17, 2008



Sedikit Bantu-bantu Ultimus Pindahan
------------------------------------
--Anwar Holid


Ultimus, toko buku independen yang banyak berkontribusi pada gerakan literasi di Bandung, pindah ke lokasi baru, di jalan Jakarta, persis di depan rumah tahanan Kebon Waru. Pada Minggu itu (14/12) saya ikut sedikit bantu-bantu bareng mereka.


BANDUNG - Meskipun cukup terlambat datang, ternyata saya masih sempat bantu-bantu pindahan toko buku Ultimus dari daerah Lengkong Besar ke jalan Jakarta, Bandung. Waktu datang, saya lihat Bilven, sang manajer toko buku dan penerbitan ini, tengah terlelap kecapean sehabis kerja keras seharian. Di antara para pendirinya, kini hanya Bilven yang benar-benar total menangani semua operasional perusahaan. Hakim, pendiri lain, meski masih rutin ke Ultimus minimal sebulan sekali, saya dengar kini berkarir di perusahaan telekomunikasi seluler. Sang Denai, seorang penulis & editor yang juga kerja di sana bilang bahwa packing sudah dilakukan beberapa hari lalu.

Begitu tiba di sana, telah berkumpul puluhan anak muda lain yang juga sibuk membereskan ini-itu. Mereka sigap bergerak ke sana-sini, mengerahkan tenaga. Kaos mereka basah kuyup. Meski begitu, mereka mengerjakannya dengan santai, tertawa-tawa, dan heureuy. Jelas mereka tampak capek, tapi tetap semangat.

Yang perempuan tengah sibuk menyiapkan makan siang. Mereka menggoreng, memasak, memotong, mengiris-iris bahan makanan. Seorang anak lelaki dengan banyak tato di tubuhnya juga penuh semangat menanak nasi menggunakan rice cooker. Di depan, sekelompok anak muda sibuk menumpuk segala barang ke depan, agar memudahkan disiapkan begitu pick up dan truk pengangkut datang. Waktu saya datang, pick up dan truk itu sudah dua kali bolak-balik mengangkut semua isi toko buku.

Karena masih ngontrak, kepindahan niscaya terjadi pada toko buku yang aktif sejak lima tahun terakhir ini. Dalam empat tahun terakhir ini mereka buka di jalan Lengkong Besar, menempati bangunan yang cukup luas, sehingga berbagai acara dengan leluasa terselenggara di sana, mulai dari diskusi, peluncuran buku, berbagai workshop, pemutaran film, tak lupa konser musik, teater, juga festival penyair.

Ultimus merupakan ruang publik yang cukup penting bagi sebagian anak muda Bandung. Sejumlah komunitas dan subkultur kerap menjadikan Ultimus sebagai ruang pertemuan, antara lain kelompok mahasiswa, penulis, underground, punk rock, dan kelompok alternatif lain. Waktu pindahan ini mencerminkan betul kepedulian mereka pada Ultimus. Mereka dengan semangat bantu-bantu mengangkat, menurunkan, dan membereskan barang yang harus dibawa. Solidaritas mereka patut diacungi jempol. Gotong royong itu sungguh mempercepat dan memudahkan proses perpindahan. Semua orang berpartisipasi, mengambil peran yang bisa mereka sumbangkan. Bahkan kawan mereka yang telah kerja di Jakarta menyempatkan dulu untuk ikut sibuk.

Saya sendiri menganggap Ultimus merupakan salah satu nama besar yang ada di dalam hati. Saya kenal para pegiatnya sejak mereka siap berdiri. Meskipun orang luar, saya cukup intens berinteraksi dengan mereka. Saya bukan saja kerap menerima kebaikan dan keramahan mereka, atau juga menyeruput kopi Aroma di sana, melainkan juga mendapat wawasan, militansi, dan semangat di dunia literasi. Dari toko buku, mereka berkembang jadi penerbit, menyediakan fasilitas internet, dan perpustakaan. Saya mengamati perkembangan mereka, meminta pendapat, berharap bahwa bisnis mereka baik-baik dan terus berkembang. Mereka telah mengalami suka dan duka dalam dinamika kota Bandung.

Sejumlah orang menanggap Ultimus merupakan rumah kesayangan mereka. Salah satunya dirasakan oleh Wida (Widzar Al-Ghifary), penyair yang kerap menggunakan nama Sireum Hideung, "Saya telah menjadikan Ultimus sebagai rumah kedua. Saya tak pernah benar-benar meninggalkan Ultimus. Sejak lima tahun yang lalu, saya diam-diam menitipkan nama saya pada salah satu ruang kosong, mungkin di sela-sela buku, di rak-rak yang agak longgar, atau bahkan sekadar menitipkan gumam yang samar." Kesan serupa dirasakan Desiyanti Wirabrata, "Buatku Ultimus sudah seperti rumah seorang kerabat dekat. Ultimus selalu jadi tempat pulang... Pulang ke kelapangan hati kawan-kawan."

Setelah ujian banyaknya toko buku independen Bandung yang rontok 3-4 tahun lalu, Ultimus merupakan salah satu dari sedikit yang bertahan. Sejauh pengamatan saya, selain Ultimus, toko buku setipe yang masih bertahan dengan baik ialah Rumah Buku, Omuniuum, dan Tobucil--dengan dinamika dan positioning masing-masing. Rumah Buku misalnya, baru-baru ini mendapat julukan "the coolest library in town" dari Rolling Stone Indonesia.

Lokasi baru Ultimus kini lebih kecil. Saya sedikit sangsi bagaimana mereka akan mengadakan berbagai program dan agenda yang sudah dijadwalkan. Alternatifnya ialah harus ekspansi ke tempat lain, seperti dulu waktu pertama kali berdiri. Mereka menggunakan banyak tempat lain yang tersedia di Bandung. Saya sempat tanya pada Bilven, apa yang kali ini Ultimus prioritaskan, toko buku atau penerbitan. "Kayaknya penerbitan, mas," jawabnya. Jumlah terbitan Ultimus tambah banyak, mayoritas puisi dan pemikiran. Merekalah yang menerbitkan Das Kapital jilid I dan II edisi Indonesia. Buku puisi terbitan mereka pernah dua kali berturut-turut jadi nominee KLA.

Saya tahu mengembangkan perusahaan merupakan pekerjaan berat, butuh konsistensi, strategi, pengorbanan, keseriusan, berani mengambil risiko, perlu loyalitas. Saya lihat sendiri, Ultimus telah melahirkan loyalitas yang kuat di antara pengikut dan gerombolannya. Namun gerombolan harus memberi kontribusi signifikan bagi kemajuan komunitas dan toko.

Selamat berbenah dan terus bergerak Ultimus! Hasta la victoria siempre! Keep up the good work![]

Copyright © 2008 oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@yahoo.com | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Informasi lebih banyak di:
http://ultimusbandung.info
e-mail: ultimus_bandung@yahoo.com

Kontak: Bilven: 0812 245 6452

No comments: