Monday, April 05, 2010

[HALAMAN GANJIL]

Editor itu ialah Diplomat yang Ramah
---Anwar Holid

Suatu hari aku jalan-jalan ke sebuah kuil yang dilengkapi fasilitas tembok ratapan. Di dinding itu orang bisa menempelkan apa pun, baik tulisan pengharapan, doa, luapan emosi, segala macam perasaan, atau ajakan untuk bertindak. Karena sedang santai, aku perhatikan tempelan itu satu per satu dengan agak saksama, sampai mataku tertuju pada sebuah kertas Post-it bertuliskan: "menolak naskah".

Emm, pasti seorang editor yang menulis hal itu. Meski sama-sama editor, sekarang ini aku mustahil bisa menulis "menolak naskah", karena aku kini tidak ngantor di sebuah penerbit. Dulu sesekali aku melakukan hal serupa, walaupun aku agak yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah itu sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan. Tapi kita tahu pertaruhan penerbit macam-macam dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih menghasilkan. Beberapa bulan lalu aku pernah melihat pernyataan serupa di dinding sebelah lain. Seorang editor kenalanku menulis: "menolak 12 naskah seharian ini." Hebat banget.

Walah, ada apa dengan para penulis kita? Kenapa usahanya sia-sia, sampai para wakil penerbit itu menolak kerja kerasnya?

Di bawah ratapan sang editor tadi muncul tanggapan dari para koleganya. Entah rekan seperusahaan atau sesama editor yang sama-sama berkunjung ke kuil itu.

"Naskah apa mbak? Kalau jelek dan bikin pusing editor, tolak saja."

"Ini naskah dari penulis yang enggak kooperatif. Padahal isinya biasa aja. Kalau diusahakan bagus perlu banyak sekali upaya, dan kalau sukses toh tetap akan merepotkan dengan kemunculan kritik atau resensi yang tidak menyentuh esensi, belum lagi sms, telepon, kayak enggak kenal waktu, enggak ngerti mana editor, mana bagian marketing. Belum emotional costnya. Siapa kamu gitu? YUP. TOLAK SAJA!"

"Setuju. Apalagi pengarang yang belum apa-apa sudah merasa karyanya bagus. Ditalak saja, eh, ditolak saja!"

"Wah, persis pengalamanku tuh. Sudah naskahnya kacau banget, dibetulkan perlu waktu lama, sampai aku rewriting 156 halaman. (Helo.. aku kan 'cuma' editor), pengarangnya bilang aku lelet dan menelantarkan naskah, bilang it's so unfair-lah dan lain-lain... terus dia menentukan tanggal launching sebagai cara ngasih tahu deadline ke aku. Edan... banyak tuh yang enggak tahu diri kayak gini. Tolak saja ya penulis yang tidak akomodatif itu. Setelah mereka kita tolong dengan segala kemudahan, toh yang dapat nama juga mereka, sementara yang repot dan nanggung risiko dicaci maki kan kita."

Emm, aku membatin baca komentar agak panjang ini. Kayaknya ada yang tumpang tindih di sini. Kalau naskahnya kacau banget, kenapa diterima? Apa kualitas isinya sebanding dengan kekacauan penulisannya? Apa itu naskah pesanan? Kenapa juga seorang editor sampai harus melakukan rewriting atas sebuah naskah? Bukankah tugas editor itu memberi saran perbaikan pada naskah, sementara yang harus melakukan rewriting penulis bersangkutan? Lagi pula, tugas editor itu MEMANG menolong penulis. Kenapa harus pamrih nama? Editor dan penulis itu karir yang berbeda. Editor berkarir di penerbit---nama, reputasi, dan prestasinya ditentukan oleh sejumlah hal tertentu, misal target jumlah halaman yang harus dia edit per bulan, berapa judul yang harus terbit, berapa naskah yang dia akuisisi. Sementara tugas penulis menghasilkan karya sebaik mungkin. Kegagalan dan keberhasilan penulis juga banyak faktornya, misal dari segi penjualan dan kualitas karya.

Kita pasti mau ikhlas mengamini bahwa seorang penulis telah sukses bila buku-bukunya jadi bestseller, minimal sukses secara finansial.  Tapi jangan kira penulis yang buku-bukunya seret di pasar otomatis bisa dicap gagal, karena bisa jadi ia berhasil di sisi lain, misalnya berkat memenangi anugerah sastra, atau oleh media tertentu dianggap sebagai "buku terbaik tahun ini", atau masuk daftar "buku paling berpengaruh dasawarsa ini." Kegagalan dan kesuksesan punya wajah sendiri-sendiri.

Aku ingat pernah menangani naskah dengan penulis muda. Rasanya kami sudah berusaha maksimal memberikan yang terbaik, berhati-hati, penuh dedikasi. Tapi ternyata buku itu segera dilupakan pembaca, sampai-sampai penulisnya tampak frustrasi pada cara penerbitan biasa dan kini lebih memilih menerbitkan novel barunya via online.

Dulu aku pernah kenalan dengan seorang penulis. Aku buta reputasinya seperti apa. Tapi kemudian aku tahu, ternyata dia sudah menerbitkan tiga buku yang semua bestseller. Buku pertamanya sudah cetakan lima, buku keduanya cetakan delapan, dan buku ketiganya (yang terbaru waktu itu) sudah naik cetakan ketiga. Di kelompok massa tertentu, namanya juga terkemuka. Bahkan dari cerita sang penulis ini, dirinya suka tiba-tiba dicurhati seseorang yang depresi atau gelisah. Pernah juga seorang pemilik jaringan hotel berbintang memintanya terbang ke luar Jawa khusus untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Orang ini yakin bahwa penulis itu orang yang tepat dan bisa memberinya jalan kebahagiaan. Ada juga orang yang mengaku jadi batal bunuh diri setelah baca buku-bukunya. Hebatkan? Jadi meski kupingku baru dengar nama dia sebagai penulis, pengalamannya menakjubkan. Memang siapa aku yang merasa bisa menghakimi ini-itu?

"Iya betul. Ternyata aku enggak sendiri.. aku rasa editor lain juga pernah deh ngalami seperti ini. Sudah dibaiki, ditolong, dikabulkan permintaaannya ini-itu, tapi kalau salah dikit saja, ngomong ke mana-mana deh, mending bener omongannya.. just blame the editor.. cukup sudah! Aku enggak mau lagi sama penulis kayak gini. Kamu aku talak dan aku tolak!"

"Orang-orang itu enggak tahu kali bahwa editor yang bikin buku jadi bagus dan berdaya jual... Kalau bawa maunya sendiri ya terbitin saja sendiri..."

Komentar ini mengesankan bahwa editor itu dewa yang bisa menentukan nasib buku. Esprit de corpsnya terlalu tinggi. Dia memandang profesi ini terlalu agung. Enggak juga. Kadang-kadang editor juga salah nilai dan salah spekulasi. "Blinknya" tumpul. Lihatlah para editor yang terbukti pernah menolak ribuan naskah, tapi setelah naskah itu diterbitkan penerbit lain, atau diterbitkan sendiri, ternyata meledak gila-gilaan menjadi buku hebat yang pernah ada. Maukah editor salah nilai dan prediksi itu mengakui kegagalannya? Bukankah naskah Harry Potter (J.K. Rowling) jilid pertama pun awalnya ditolak banyak penerbit? Pada tahun 1984, Louise Erdrich---penulis Amerika Serikat kelahiran 1954 keturunan Indian Chippewa & imigran Jerman---menulis naskah Love Medicine yang menurut banyak orang agak aneh cara bercerita dan isinya. Ketika dia menawarkan naskah itu ke sejumlah penerbit, semua menolak. Suaminya, Michael Dorris, memutuskan untuk jadi agen naskah Love Medicine sekaligus jadi teman kerja untuk memperbaiki naskah tersebut. Hasilnya, ada penerbit yang tertarik menerbitkannya. Cetakan pertama novel itu terjual 400.000 ribu eksemplar, dan pada tahun 1984 memenangi Book Critics Circle Award. Aku dengar Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko) ditolak sebuah penerbit sebelum akhirnya diterima GPU dan kini menjadi tesaurus otoritatif pertama bahasa Indonesia. Buku dan penulis punya nasib sendiri-sendiri.

"Kadang-kadang aku merasa kok begini amat ya posisi editor. :("

"Mesti pindah ke Inggris atau Eropa mbak, di sana editor itu dewa, he he he."

Orang ini jelas teringat tulisan Stephen King di On Writing, A Memoir of the Craft (2000). Di buku memoar tentang proses penulisan itu dia bilang: "menulis itu manusiawi, namun mengedit itu ilahiah."

"Penulis seharusnya memang kooperatif dan jika perlu selalu sehati dengan editor. Sayang memang di Indonesia ini penghargaan pada editor dan penulis sama-sama kacau. Konon di luar negeri kedudukan editor sama."

Komentator ini tampak mudah meremehkan bangsa sendiri dan terlalu memandang luhur bangsa lain yang tampak lebih unggul. Sebagai penulis, aku pernah bekerja sama dengan editor yang menurutku mereka sangat berdedikasi untuk menghasilkan naskah berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu, memberi pertimbangan tentang kemungkinan efek dari tulisan dan pembacaan, dan seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak. Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Memang kadang-kadang seorang editor harus mau menghadapi penulis sombong menjijikkan dan menyebalkan, yang mengganggap naskahnya seperti perawan tingting yang haram diutak-atik. Itu mungkin risiko bekerja di perusahaan. Editor seperti itu harus kuat dalam berargumen dan mengambil keputusan. Kalau jalan lain tertutup, minta saja atasan Anda menyelesaikan masalah seperti itu. Elsie Myers Stainton, dalam Author and Editor at Work (1982) bilang: An editor is the agreeable diplomat who offers suggestions, considers compromises, and even withdraws from the controversy if necessary. Editor itu ialah diplomat ramah yang memberi saran, menimbang kompromi, dan jika perlu bahkan mundur dari kontroversi.

Buku bisa lahir dari mana saja. Bahkan proses kelahirannya bisa jadi tak melibatkan editor. Ordinary People (Judith Guest) terbit berkat saran resepsionis di penerbit Fontana (1976) yang kebetulan baca-baca onggokan naskah. Kok bisa? Sebab para editornya merasa terlalu suci untuk mau melirik sebuah naskah tanpa agen kiriman penulis bukan siapa-siapa. Hasilnya? Buku itu sukses, baik sebagai bestseller maupun menuai kritik dan pujian di mana-mana. Buku itu dianggap melanjutkan tradisi The Catcher in the Rye (J.D. Salinger). Lantas Rebort Redford mengadaptasinya sebagai film yang sangat sukses pada 1980. Redford juga memenangi penghargaan sebagai Best Director baik di ajang Academy Award maupun Golden Globe Award.

"Jadi, apa ada saran lain yang ingin Anda sampaikan kepada para pengarang?" tanya Judy Mandell kepada Jackie Farber, editor senior dari Delacorte dan Dell. Jawab Farber: "Hendaklah pengarang mau mendengar perkataan editor. Seyogyanya mereka mau menimbang-nimbang gagasan dan usulan editor."[]

ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Eksponen TEXTOUR, Rumah Buku, Bandung. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

PENGAKUAN:
1/ Sebagian dari bahan tulisan ini berasal dari posting dan respons wall seseorang di Facebook. Saya edit sedikit biar jadi agak lebih baku.
2/ Wawancara Jackie Farber dengan Judy Mandell diambil dari posting "Membangun Hubungan Editor-Pengarang" terjemahan bang Mula Harahap di milis pasarbuku@yahoogroups.com.

1 comment:

divan semesta said...

:) Dulu saya sempat menyampaikan sebuah naskah ke Mas Anwar. Judulnya Kata Berlin Tuhan itu Babi, tapi kemudian saya koreksi (kalau tidak salah) dengan judul Riang Merapi.

Saya masih mengingat, Mas memberikan saran untuk merubah sudut pandang, bahkan sedikit merubah cerita... hm, saya sudah melakukannya.... dan rasanya capai sekali, --bahkan-- ketika sy mengatakan naskah itu dikirim dulu ke lomba DKJ, naskah itu belum jadi sama sekali. (kalau gak salah tahun 2006)

Dan baru di tahun 2008 kesampaian mengirimkan ke DKJ.
Dan ketika pengumuman saya datang datang terlambat ke acara tesebut. Sudah terlambat, kalah pula :)...

Saya ucapkan terimakasih benar apa yang mas Anwar sempat sampaikan.

Mungkin hasilnya tidak terlalu baik, tetapi i do my best... dan saya sudah merasa puas waktu itu...

Saya kirimkan kembali naskah tersebut sebagai tanda terimakasih karena telah memberi banyak saran berguna.

Salam hormat
Divan semesta/Fajarullah