Showing posts with label Sofie Dewayani. Show all posts
Showing posts with label Sofie Dewayani. Show all posts

Wednesday, August 16, 2017

Arah Baru Literasi Indonesia
Ahmad Wiyono

United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut. Tentu ini kenyataan memilukan. Posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.

Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.

Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir bukan dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan capaian literasi internasional merupakan hal yang wajar.

Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan rendahnya literasi bangsa adalah Suara dari Marjin, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan dan cara berpikir.

Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.

Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literacy Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.

Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.

Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihan-pilihan hidupnya di kemudian hari (hal. 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.

Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam literasi![]

Ahmad Wiyono, Pegiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Artikel ini dimuat di Koran Sindo, Edisi Minggu, 13 Agustus 2017.

Monday, June 19, 2017


Komentar Atas Buku Suara dari Marjin 
Oleh: Satria Dharma


Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8


Apa itu literasi dan mengapa harus ‘dibumikan’? Literasi selama ini memang boleh dikata hanya berupa definisi canggih yang belum benar-benar membumi.  Ia hanya dikunyah-kunyah dan dirumus-rumuskan oleh para akademisi di menara gadingnya.

Tentu saja kegiatan literasi telah ada sebelumnya dan itu bisa dijejaki pada zaman-zaman sebelumnya. Tapi itu masih merupakan inisiatif-inisiatif perorangan yang sangat elitis, belum merupakan sebuah gerakan, apalagi berlandaskan semangat keagamaan atau spiritual seperti dalam Islam.

Bangsa mana saja yang memiliki budaya literasi tinggi akan menjadi bangsa maju dan berkembang, sebaliknya bangsa yang meninggalkannya akan tertinggal. Literasi menjadi tonggak kebangkitan peradaban, baik di dunia Barat maupun di dunia Islam. Jadi upaya membangun bangsa sejatinya ialah membangun kembali budaya literasi umat atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali.

Rod Welford, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland, Australia, telah memberi perhatian khusus untuk literasi. Ia berkata :“Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.

Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan Abad Ke-21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan buku Literacy the Key to Learning: Framework for Action untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.

Bagaimana dengan pendidikan literasi di Indonesia?

Rendahnya reading literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. “70 persen anak Indonesia sulit hidup di Abad Ke-21,” demikian kata Prof. Iwan Pranoto. Peringkat siswa kita di tes PISA terus berada di bawah sejak tahun 2000 sampai sekarang.

Alhamdulillah, sejak turunnya Permendikbud 23/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang mencantumkan adanya kewajiban bagi sekolah untuk membudayakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), maraklah kegiatan literasi di berbagai daerah, utamanya di sekolah-sekolah. Gerakan Literasi Sekolah ini bak oasis bagi hilangnya budaya membaca dan menulis bagi siswa di sekolah selama ini.

Sejak gerakan Gerakan Literasi Sekolah diluncurkan, berbagai daerah seolah berlomba untuk menunjukkan gairah membaca dan menulis siswa dan guru. Contoh, sejak dideklarasikan sebagai Provinsi Literasi setahun lalu, DKI Jakarta berhasil mendorong siswanya untuk membaca sebanyak satu juta buku. Di Surabaya program Tantangan Membaca Surabaya 2015 berhasil memotivasi 39.000 lebih siswa membaca 20 buku per orang. Siswa di SMAN 5 Surabaya berhasil membaca 1.851 buku hanya dalam dua bulan. Berbagai sekolah berhasil mendorong siswanya untuk menulis dan menerbitkan karya tulis dalam bentuk buku. Untuk guru program SAGUSABU (Satu Guru Satu Buku) yang digawangi oleh Media Guru dan SAGUSABU yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) berhasil mendorong ribuan guru untuk mulai menulis dan menerbitkan buku mereka sendiri. Literasi telah dibumikan kembali setelah selama ini menghilang dan tidak pernah dipahami urgensinya.

Buku Suara dari Marjin ini unik dan menarik karena ditulis oleh dua orang doktor di bidang bahasa yang sama-sama menggawangi program Gerakan Literasi Sekolah. Tentu saja mereka berdua sangat otoritatif untuk berbicara tentang literasi dan bagaimana membumikannya karena sama-sama berprofesi sebagai dosen yang mengajarkan kemampuan literasi. Yang lebih unik adalah bahwa buku ini berangkat dari penulisan ulang disertasi mereka ketika mengambil program doktor. Sofie di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, Pratiwi di University of Melbourne, Australia. Yang membuatnya sangat menarik adalah bahwa penulisan ulang disertasi ini dilakukan dengan gaya bahasa populer yang membuatnya seperti sebuah novel saja laiknya. 

Buku ini sangat penting untuk dibaca oleh para pengambil kebijakan pendidikan, pelaku pendidikan, maupun para aktivis yang bergerak di bidang pendidikan, baik di sekolah maupun masyarakat. Pemahaman akan konsep literasi yang kontekstual dan autentik dari para pemangku kepentingan di bidang pendidikan akan mampu memberikan arahan dalam upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam kegiatan literasi. Apa yang telah dilakukan pemerintah melalu berbagai programnya akan diperkuat dan diperkaya oleh praktik literasi lokal yang mengakar pada praktik budaya dan jati diri bangsa.

Satria Dharma, Penggagas Gerakan Literasi Sekolah – IGI (Ikatan Guru Indonesia).

Wednesday, June 07, 2017



Ke Mana Arah Gerakan Literasi Kita?
Membaca dan Merenungkan Suara dari Marjin (Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah)
--Hernowo Hasim

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8


Ketika menerima kiriman draft buku Suara dari Marjin, saya langsung bilang ke Mbak Tiwik--panggilan akrab Pratiwi Retnaningdyah--dan Mbak Sofie bahwa Bab 2 dan Bab 3 sangatlah mengesankan. Dua bab tersebut berisi pengalaman literasi kedua penulis yang juga menjadi anggota satuan tugas Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud.

Mbak Tiwik adalah doktor literasi dari Universitas Melbourne, Australia, sementara gelar doktor Mbak Sofie diraih di Universitas Illinois, Amerika Serikat. Sebelum saya memperoleh buku karya kolaborasi mereka, saya sudah membaca banyak tentang pengalaman literasi Mbak Tiwik lewat website IGI (Ikatan Guru Indonesia) yang diposting oleh Pak Satria Dharma. Tulisan-tulisan Mbak Tiwik sangat menginpsirasi saya untuk menggerakkan literasi sejak dini.

Saya baru mengenal secara dekat Mbak Sofie ketika diundang oleh satgas GLS—yang diketuai oleh Dr. Pangesti Wiedarti—dalam acara FGD (focussed group discussion) yang membahas topik penjenjangan buku. Sehabis ketemu di acara tersebut, Mbak Sofie kemudian mengirimkan beberapa file artikel yang ditulisnya tentang literasi kepada saya via email. Saya pun banyak mendapat sudut pandang baru dalam memandang literasi.

"Menjadi literat lebih kompleks dari sekadar memahami simbol tertulis," tulis Mbak Sofie di halaman 26 ketika menjelaskan pengalaman literasinya di negara Paman Sam. "Perlakuan yang diberikan kepada kelompok minoritas yang tidak berbicara dengan bahasa kaum mayoritas, tidak berperilaku, atau berpikir, atau memahami konsep tentang kebersihan, keamanan, gaya hidup sehat, memuat diskursus tentang literasi yang bukan sekadar aksara, namun juga cara hidup dan berbudaya."

Salah satu pengalaman literasi Mbak Tiwik yang saya ingat hingga kini--saya memposting di Facebook pada 24 Juni 2012 dan memposting ulang pada 2 Maret 2015--adalah tentang "reading centre." Mbak Tiwik menulis, "Yang dimaksud Reading Centre ini sebenarnya hanyalah salah satu ujung ruang bermain seluas 1 X 1 meter persegi. Ada rak buku kecil dan beberapa buku. Di atas rak yang lain ada beberapa kardus berisi buku. Empat kursi sofa untuk ukuran anak-anak ditata seperti ruang tamu. Tidak luas, namun nyaman.

"Ada sebuah poster tertempel di dinding yang menyebutkan fungsi Reading Centre sebagai tempat anak-anak untuk bersantai, menikmati dan mengeksplorasi buku-buku dalam suasana yang tenang dan menyenangkan. Anak-anak bisa merasakan pengalaman memegang dan membaca buku, terlibat dalam komunikasi non-verbal, memaknai gambar dan teks, dan bercakap-cakap tentang apa yang mereka temukan dalam buku-buku tersebut. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membawa mereka ke ‘pengalaman membaca yang sebenarnya."

Terus terang pengalaman literasi Mbak Sofie dan Mbak Tiwik tersebut kemudian sedikit "memaksa" dan mengarahkan saya untuk membaca secara mendalam Bab 7. Judul Bab 7 buku Suara dari Marjin kemudian saya pakai untuk menjuduli tulisan saya ini. Mbak Sofie dan Mbak Tiwik dengan bagus mempertanyakan arah gerakan literasi kita. Katanya, literasi saat ini diperlakukan seperti fashion. "Kita beramai-ramai memakainya agar tak tertinggal gerbong pendidikan modern. Pada gerbong ini, kriteria kemelekaksaraan menjadi usang. Kita mengamini bahwa seseorang tak cukup dapat membaca. Ia harus dapat memahami bacaan tersebut, menganalisis, memilahnya, lalu menggunakannya untuk meningkatkan taraf kehidupan…. Namun, apakah gerakan literasi kita melangkah ke arah yang seharusnya?"

Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial (PT Remaja Rosdakarya, Mei 2017) sangat mencerahkan diri saya. Apakah suara-suara yang berasal dari buku ini akan didengarkan oleh bangsa yang sedang mabuk literasi saat ini? Apakah arah gerakan literasi--yang dicoba dikritisi oleh buku ini--akan benar-benar melangkah ke arah yang seharusnya? Apakah literasi lokal yang mengakar pada kekhasan praktik budaya dan jati diri bangsa--sebagaimana dibahas dengan sangat menarik oleh buku ini—akan mendapat perhatian pula?

Terima kasih Mbak Sofie Dewayani dan Mbak Tiwik yang sudah menulis buku bagus dan penting ini.[]

Hernowo Hasim, perumus konsep “mengikat makna”, penulis buku Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza

Thursday, June 24, 2010


Diaspora Orang Indonesia di Amerika Serikat
---Anwar Holid

Mantra Maira (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: Jalasutra, 2010
Tebal: xxiv + 108 hlm
ISBN: 978-602-8252-27-0
Harga: Rp. 20.000,-


Mantra Maira (Jalasutra, 2010, 132 hal.) karya Sofie Dewayani punya tiga ciri khas: mungil, tipis, dan serius. Buku berformat mungil ini berisi sebelas cerpen yang hampir semua pernah dipublikasi media massa kelas nasional, antara lain Femina, Koran Tempo, dan Republika. Kalau mau, kita bisa menamatkan buku ini hanya dalam beberapa jam. Meski begitu, subjek cerpen dia rata-rata kategorinya serius, dengan bentuk khas sastra koran Indonesia.

Kesan serius tampak dari cara penyajian buku ini. Faruk H. T. memberi kata pengantar dengan topik 'sastra pasca-aksara' dengan pendekatan Saussurean, sembari menyatakan bahwa cerpen dalam buku ini cenderung membenturkan tulisan dengan dunia pengalaman, sehingga terkesan sekadar mereproduksi ketegangan lama, yaitu ketegangan antara bahasa dengan dunia pengalaman (hal. xi). Sang penulis mengantarkan bukunya dengan esai mengenai hubungan aksara dan manusia memanfaatkan pemikiran Jack Goody, Walter J. Ong, Shirley Brice Heath. Faruk dan Sofie sama-sama mengusung tema literasi. Secara tersirat mereka sepakat menganggap itu merupakan budaya manusia yang lebih unggul dan reflektif dibandingkan lisan. Keseriusan makin menghebat manakala sebelas cerpen itu dibagi tiga dengan komposisi 4-4-3, masing-masing menggunakan judul ala makalah ilmiah, yaitu 'teks dan internalisasi individual,' 'modernitas dan identitas,' dan 'kelas dan literasi.' Buat apa kumpulan cerpen ini dibagi-bagi? Apa mereka benar-benar berbeda satu sama lain, sehingga perlu dengan tegas dipisah? Subjek tentang individu pasti mudah terkait dengan identitas, dan teks pasti mudah menyerempet ke soal literasi.

Lengkap sudah prasyarat bahwa buku ini merupakan teks sastra. Kelengkapan ini makin sempurna oleh komentar Budi Darma, salah seorang legenda hidup sastra Indonesia, yang menyatakan buku ini menarik berkat kewajarannya mempergunakan nuansa-nuansa wanita, melalui pilihan kata yang biasa dipergunakan wanita, gaya bahasa khas wanita, dan permasalahan yang dihadapi oleh wanita. Otomatik karya sastra ini juga bisa masuk dalam kategori ecriture feminine alias tulisan perempuan.

Sejumlah cerpen di buku ini bercerita tentang perempuan Indonesia yang tinggal di Amerika Serikat karena berbagai latar belakang dan alasan. Ada yang ke sana demi melanjutkan studi, ada juga yang terdampar sebagai tenaga kerja ilegal. Dunia baru ini membuat mereka menjadi misfit, yakni orang yang jadi canggung karena kesulitan berbaur dengan lingkungan atau situasi tertentu. Cerita seperti ini tampaknya khas sastra diaspora, yaitu sastra yang lahir dari orang, bahasa, budaya yang awalnya berkumpul di satu tempat tertentu, kini tercecer ke mana-mana. Contoh terbaik dari sastra diaspora ialah karya-karya Jhumpa Lahiri, yang menulis mengenai orang Amerika Serikat keturunan India atau orang India yang akhirnya menetap di sana. Karena Sofie menulis dalam bahasa Indonesia, kita bisa segera menyadari kecenderungan itu. Sebenarnya wajar Sofie menulis tema diaspora, sebab dia sendiri sekarang tengah berada di Urbana-Champaign, Illinois, Amerika Serikat. Bagi pembaca Indonesia, tema diaspora ini mungkin bisa mengingatkan pada buku Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (Umar Kayam) atau Orang-Orang Bloomington (Budi Darma).

Kecanggungan berinteraksi dengan dunia sekitar ini merupakan tema paling menonjol dalam buku ini, sampai melahirkan persoalan psikologis bagi sang pelaku atau merusakkan hubungan antar personal. Mantra Maira, cerpen pembuka, bercerita tentang seorang gadis remaja Indo yang kesulitan menghadapi ibunya yang munafik. Gadis ini lebih paham bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Perkawinan ayah dan ibunya gagal, sementara ibunya ingin terus dekat dengan dirinya. Terpaksalah dia hidup dengan ibu yang suka mengarang cerita, menutup-nutupi hubungan barunya dengan lelaki lain, dan mencari nafkah secara ilegal di Amerika Serikat. Begitu menjengkelkan ibunya, hingga Maira berniat memantrai ibunya biar celaka, soalnya dia suka memaksa agar Maira mau berbohong juga demi kepentingan dirinya. Begitu juga dengan Sri Prihatini dalam Dialog Dua Nama (hal. 61-74) yang awalnya memenangi Lomba Cerpen Femina tahun 2004. Wanita Jawa setengah baya ini mengubah nama jadi Fabiana Martinez, memanipulasi umur, berpenampilan seperti keturunan Hispanik agar mudah mencari nafkah sebagai pelayan toko di Amerika Serikat untuk membiayai keluarga. Namun kondisi ini jadi rumit ketika dia jatuh cinta pada pemuda setempat seumuran anaknya, sementara dirinya masih kesulitan mengucapkan kosakata Meksiko. Dalam Bangku Belakang (hal. 46 - 52), Sam kesulitan berkompromi dengan kehidupan dan teman-teman masa remajanya yang kemungkinan jauh lebih sukses dari dirinya, sampai dia membohongi diri sendiri baik di dunia maya maupun rela menutup-nutupi kondisi asli dirinya ketika bertemu dengan kawan-kawan lama yang membuatnya minder. Dia hanya berani jujur pada Tino, sebab Tino lebih canggung lagi menghadapi kawan-kawan lama itu, sampai membuatnya menghindari mereka semua baik di dunia nyata ataupun maya.

Sofie menghadirkan dunia gamang orang dewasa dan kanak-kanak. Kegelisahan dan kerusakan hubungan antar individu tergambar wajar, membuat salah pengertian mudah merebak dan memperburuk keadaan. Mereka rapuh, bingung, ingin memperbaiki diri, tapi kesulitan, karena ada banyak penghalang ketika hendak jujur menampilkan identitas---baik karena faktor internal maupun eksternal. Tapi tidak semua berakhir buruk. Ketika Tuhan Berjubah Putih (hal. 75-80) membuktikan betapa nasib nelangsa seorang ibu rumah tangga Muslim di Amerika Serikat bisa lungsur hanya oleh kebetulan kecil sederhana. Dia kembali mendapatkan lagi identitasnya dengan sempurna. Itu sudah cukup untuk menghadapi dunianya yang serba kekurangan dan hidup di lingkungan yang ekstrem berbeda dengan asal usulnya.

Berbeda dengan pendapat di back cover, teknik berkisah Sofie menurut saya cukup sederhana. Tanpa perlu bereksperimen aneh-aneh atau absurd biar terkesan punya kemampuan 'tingkat tinggi,' dia sudah terampil dan mampu menorehkan kesan kuat. Cerita-cerita dalam buku ini berpotensi mengganggu pembaca. Ini sudah cukup untuk melahirkan cerpen yang kuat. Kesan ini makin kentara betapa Sofie tahu kecenderungan cerpen di media massa Indonesia. Dia tidak berminat menulis cerpen sangat panjang (long-short story) yang mudah ditemui di media massa Amerika Serikat. Editing buku ini boleh dibilang bagus. Tiga-empat salah eja dan tanda baca di sana bolehlah kita anggap minor.

Sofie Dewayani kini tengah menempuh program doktoral di bidang pendidikan literasi di University of Illinois, Amerika Serikat. Dia kini memutuskan menanggalkan semua yang dulu dipelajarinya di Institut Teknologi Bandung (ITB), beralih ke sastra dan humaniora. Karya terdahulunya ialah novel berjudul Rumah Cinta Kelana (2002).

Anwar Holid ialah editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://dialogkecil.multiply.com/ --> blog Sofie Dewayani
http://www.jalasutra.com/

Sunday, April 25, 2010


[BUKU INCARAN]

Cerita, Mantra, Diaspora
---Anwar Holid

Pada Kamis sore, 22 April 2010 saya datang ke acara Kamisan FLP Bandung di halaman Masjid Salman ITB yang akan membicarakan Mantra Maira (Jalasutra, 2010, 132 hal.) karya Sofie Dewayani. Saya berharap kawan-kawan FLP sudah baca buku itu, atau sebagian dari karya Sofie, karena karyanya bisa digoogling atau sudah tersedia di sriti.com, dan Sofie juga punya blog di multiply. Tapi rupanya mereka yang berkumpul di awal pertemuan belum ada yang baca karya dia. Ini membuat saya jadi kesulitan mau menelisik beberapa topik yang muncul setelah baca buku tersebut.

Di awal pertemuan, mula-mula sudah ada sekitar 20 orang berkumpul, dan terus berdatangan sampai menjelang magrib peserta bertambah lebih dari separo. Salah satunya ialah Wildan Nugraha. Dia sempat menulis esai tentang cerpen dan Facebook yang jadi subjek dalam cerpen Bangku Belakang karya Sofie, yang juga masuk dalam Mantra Maira. Dia bilang Bangku Belakang merupakan contoh cerpen yang mampu merespons fenomena sosial-kontemporer dengan pas dan halus.

Berisi sebelas cerpen, Mantra Maira ialah buku yang mungil, tipis, dan serius. Saking tipis, kalau mau kita bisa menamatkan buku ini hanya dalam beberapa jam. Meski begitu, subjek cerpen Sofie rata-rata serius, dengan bentuk khas sastra koran Indonesia, yaitu pendek-pendek. Kesan serius tampak dari cara penyajian bukunya. Faruk HT memberi kata pengantar dengan topik 'sastra pasca-aksara' dengan pendekatan Saussurean, sementara sang penulis juga mengawali bukunya dengan esai mengenai hubungan aksara dan manusia memanfaatkan pemikiran Jack Goody, Walter J. Ong, Shirley Brice Heath.

Faruk dan Sofie sama-sama mengusung topik literasi---yang secara tersirat sepakat mereka anggap merupakan budaya manusia yang lebih unggul dan reflektif dibandingkan lisan. Keseriusan tambah menghebat manakala sebelas cerpen itu dibagi tiga dengan komposisi 4-4-3 menggunakan judul ala makalah ilmiah, yaitu 'teks dan internalisasi individual,' 'modernitas dan identitas,' dan 'kelas dan literasi.' Apa masing-masing cerpen ini benar-benar berbeda satu sama lain, sehingga perlu dengan tegas dipisah? Subjek tentang individu pasti mudah terkait dengan identitas, dan teks pasti mudah menyerempet ke soal literasi.

Pertanyaan utama saya atas buku ini: apakah 'sastra pasca-aksara' itu?

Mayoritas cerpen dalam Mantra Maira berisi tentang diaspora orang Indonesia di Amerika Serikat. Ini mungkin akan mengingatkan orang pada Seribu Kunang-Kunang di Manhattan (Umar Kayam) atau Orang-Orang Bloomington (Budi Darma). Kadar diaspora dalam buku ini berlapis dengan tema keperempuanan yang sangat kuat, dan itu membuat saya berani melabeli buku ini sebagai salah satu contoh ecriture feminine alias tulisan perempuan.

Budi Darma, salah seorang legenda hidup sastra Indonesia, menyatakan buku ini "menarik berkat kewajarannya mempergunakan nuansa-nuansa wanita, melalui pilihan kata yang biasa dipergunakan wanita, gaya bahasa khas wanita, dan permasalahan yang dihadapi oleh wanita."

Karena para hadirin belum pada baca Mantra Maira, saya jadi bersemangat menyarankan agar kawan-kawan membaca buku ini, apa lagi buku ini cukup murah, hanya Rp.20.000. Lagian, Sofie Dewayani bersimpati pada gerakan FLP. Dia pernah bicara pada Silaturahim Nasional FLP 2008. 

Seorang peserta malah bertanya pada saya, "Karena mas terkenal rewel sama buku, bagaimana kualitas editing buku ini?" Jujur saja, untuk buku setipis ini, mestinya editing bisa sempurna. Tapi buku ini masih mengandung salah tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan pemenggalan kata.

Sofie Dewayani dulu kuliah di Jurusan Teknik Lingkungan ITB, tapi konon kini dia memutuskan menanggalkan semua yang dipelajarinya di sana dan beralih ke sastra dan humaniora. Dia sekarang tengah mengambil program doktoral di University of Illinois, Amerika Serikat. Buku dia sebelumnya ialah Rumah Cinta Kelana (2002).[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Tag: Seharusnya kamu merasa beruntung karena terganggu oleh bacaan. (Hal. 42).

Sofie Dewayani ikutan Facebook, bertemanlah dengan dia.

Situs terkait:
http://dialogkecil.multiply.com --> blog Sofie Dewayani
http://www.jalasutra.com