Showing posts with label proses kreatif. Show all posts
Showing posts with label proses kreatif. Show all posts

Tuesday, November 20, 2012

Karya Saya Harus Memunculkan Emosi yang Kuat 
---Wawancara dengan Maradilla Syachridar

Meski sebagian orang bilang pertanyaan soal proses kreatif itu so yesterday, sudah ketinggalan sepuluh tahun lalu, ternyata orang seperti aku masih saja penasaran tentang hal itu. Mungkin karena aku yakin bahwa berkarya merupakan kerja keras, usaha mewujudkan sesuatu yang awalnya cuma ada dalam imajinasi menjadi nyata, bisa diraba dan dihayati. Dalam menulis, kerja keras itu ialah perjuangan terus-menerus seseorang menghajar halaman kosong.

Aku bertemu Maradilla Syachridar di Kineruku, Bandung, perpustakaan yang rutin aku jadikan tempat kerja. Maradilla telah menghasilkan tiga novel, yaitu Ketika Daun Bercerita, Turiya, dan Ruang Temu. Dia juga berkontribusi di buku Perkara Mengirim Senja, Menuju(h), dan Memoritmo yang baru terbit pada tengah November 2012. Aktivitas lain Maradilla ialah menjadi additional player Homogenic, band berbasis di Bandung, kota tempatnya tumbuh.

Berikut wawancara dengan dia.


Seperti apa rasanya jadi penulis seperti kamu?
Ada beban tersendiri, karena saya pribadi merasa bakat saya dalam menulis itu sebenarnya biasa saja, namun karena saya banyak membaca karya yang hebat, usaha untuk menjadi penulis yang lebih baik dari hari ini terus-terusan tertanam di kepala saya.

Apa saja buku favorit yang sangat menginspirasi kamu menulis?
1Q84 (Haruki Murakami), Olenka (Budi Darma), Fraction of the Whole (Steve Toltz).

Apa sih motivasi terbesar kamu menulis?
Ketika melihat karya dalam bentuk apa pun yang begitu bagus dan kuat, itu bisa mendorong saya untuk terus menulis.

Mengapa menulis itu penting menurut kamu?
Karena menulis menjadi salah satu proses saya untuk berkomunikasi dengan orang lain dan diri saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang perasa namun suka dipendam, sehingga saya membutuhkan media untuk mengabadikan pemikiran dan sisi lain saya yang tidak tampak di permukaan.

Apa menulis merupakan aktivitas terpenting dalam hidup kamu? Aktivitas apa yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian kamu dari menulis?
Ya, saya memiliki aktivitas lain selain menulis, namun menulis menjadi begitu penting dalam hidup saya, sama seperti saya menganggap berumah-tangga juga sangat penting. Jadi, ada tarik-menarik antara aktivitas menulis dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang bisa menjadi saling mengalihkan.

Apa uang (penghasilan) bisa menjadi alasan sangat besar bagi kamu untuk menulis?
Dulu awalnya salah satu alasan besar menerbitkan buku adalah ingin memiliki penghasilan sendiri dengan cara yang menyenangkan (sesuai passion), tapi sekarang alasannya lebih dari sekadar penghasilan.

Apa ide penting buat kamu dalam berkarya?
Ya. Ide itu asal-muasal bagaimana sebuah karya bisa lahir.

Bagaimana dan di mana kamu bisa mencari atau mendapatkan ide?
Dari kehidupan sehari-hari, dari sarung bantal yang harus dicuci hingga perkataan orang lain yang terlontar begitu saja.

Saat mulai menulis, apa kamu merencanakan dulu dalam draft, mencatat poin per poin ide, membuat story line (alur cerita), atau malah langsung segera menulis mengandalkan insting dan kekuatan pertama?
Langsung segera menulis saja dalam bentuk potongan-potongan, lalu materi tulisan yang baru ditulis tersebut bisa dibongkar pasang, disimpan di mana saja dalam sebuah naskah.

Bagaimana cara kamu mengolah ide, tema, draft, mengatur kepaduan paragraf, memilih kata (diksi), sampai ke editing, revisi, dan minta pendapat pembaca awal?
- Ide: ditulis di buku kecil (notes), lalu dikembangkan menjadi paragraf.
- Tema: tema biasanya datang setelah ide muncul, lalu mulai mencari bahan atau referensi sebagai penguat tema tersebut.
- Draft: draft biasanya terpisah-pisah (berbentuk potongan). Saya biasa masukkan dalam satu folder karena memang tidak berurutan.
- Mengatur kepaduan paragraf biasanya dilakukan setelah draft pertama selesai (potongan-potongan ide sudah disusun, lalu mulai memasukkan jembatan-jembatan paragraf yang pas dan bisa mengubungkan antara tulisan satu dengan yang lainnya).
- Memilih kata (diksi): setelah membuat kalimat, mulai dicari kata mana yang pas untuk melengkapi kalimat tersebut, bisa dilihat juga dari kamus padanan kata.
- Editing: editing biasanya dilakukan berkali-kali setelah draft pertama jadi. Bisa jadi draft pertama dengan draft yang selanjutnya perbedaannya besar.
- Revisi biasanya saya lakukan setelah draft terakhir selesai. Saya biasa meminta tolong kepada editor yang lebih memahami struktur kalimat yang baik dari saya.
- Minta respons atau pendapat dari pembaca pertama (terdekat) biasa diberikan hanya pada beberapa orang, soalnya semakin banyak orang yang dimintai respons (buat saya) semakin merepotkan dalam hal editing.

Seperti apa pola kerja kamu untuk menyelesaikan satu karya tertentu, apa lagi kalau karya itu berat, panjang, dan butuh energi besar untuk menyelesaikannya?
Tidak ada yang unik untuk menyelesaikannya. Hanya saya menyempatkan diri setiap hari selama sekian waktu untuk menulis, di manapun dan kapanpun. Tidak jarang juga sebelum melanjutkan menulis saya mendengarkan lagu dan bersepeda.

Buat karya sendiri, seperti apa yang menurut kamu sudah selesai atau sempurna, sehingga pantas dipublikasi atau dijual?
Sudah selesai ketika saya sudah menyusun dari prolog hingga epilog. Sudah sempurna setelah saya mengeditnya beberapa kali termasuk memperlihatkannya ke orang lain.

Berapa kali kamu menyunting dan merevisi karya sendiri sebelum akhirnya memutuskan bahwa itu karya yang sudah matang?
Yang pasti lebih dari tiga kali. Bahkan saya bisa mengendapkannya dulu dalam beberapa waktu sebelum diedit lagi.

Apa kamu melakukan riset untuk menulis?
Karena menganggap riset itu penting, saya biasa melakukannya dari buku, Internet, narasumber. Saya bahkan tidak keberatan jika harus ke luar kota untuk riset tersebut.

Apa kamu menetapkan standar mutu tertentu terhadap karya sendiri?
0h ya. Pertama, karya saya harus semakin mudah dipahami. Kedua, harus riset. Ketiga, harus memunculkan perasaan atau emosi yang kuat, setidaknya untuk saya pribadi.

Kondisi seperti apa yang buat kamu kondusif untuk menulis?
Kondisi yang tidak sumpek. Saya tidak terbiasa mengetik di meja yang penuh tumpukan buku maupun kertas, ruangan yang sempit, atau orang terlalu banyak. Saya selalu butuh meja yang rapi dan suasana nyaman, meski bukan berarti selalu tenang.

Kejadian apa yang bisa memaksa atau membuat kamu tertarik segera menulis?
Kejadian yang di luar kebiasaan sehari-hari, subjeknya bisa apa saja. Percakapan dengan orang-orang juga selalu menjadi hal yang menarik perhatian saya untuk ditulis.

Apa yang kamu lakukan bila suntuk menulis padahal sedang berusaha menyelesaikan proyek tulisan?
Meninggalkan tulisan tersebut dan mengerjakan tulisan lain, atau membaca buku, pergi makan bersama orang yang bisa diajak diskusi.

Bagaimana cara kamu menghubungi penerbit waktu berusaha mempublikasikan karya?
Untuk karya pertama saya yang diterbitkan, secara konvensional saya mengirimkan naskahnya ke penerbit dan menunggu untuk diterima atau ditolak. Alhamdulillah langsung diterima. Karya-karya yang selanjutnya prosesnya bermacam-macam. Ada yang ditawari penerbit langsung untuk dipublikasikan atau saya yang menghubungi editornya langsung untuk pengajuan naskah.

Apa tanggapan kamu atas kritik pada tulisanmu, bahkan yang buruk atau menganggap rendah karya kamu?
Mengamini jika memang masuk akal. Saya harus semakin memahami kekurangan saya dan terus mencoba untuk memperbaikinya sesuai dengan karakter penulisan saya.


Apa kamu merasa perlu mendapat motivasi atau semangat dari orang lain untuk berkarya?
Dari orang lain mungkin saya hanya butuh dukungan. Motivasi untuk menulis selalu kuat walau hanya dari diri sendiri.

Ada tambahan lagi?
Saya merasa proses menulis bagi saya dapat menjadi alasan untuk melakukan hal lain. Misalnya dengan menulis saya jadi tertarik untuk bermusik (karena saya membuat lirik) atau bahkan kembali menari balet, karena siapa tahu suatu saat saya dapat membuat sebuah performance art yang menggabungkan semua bidang yang saya dalami.[]

Foto dari Internet.

Link terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com/2011/06/membangun-dan-meruntuhkan-mimpi-anwar.html
http://www.brainmelosa.blogspot.com
http://www.maradilla.com
Twitter: @maradilla

Tuesday, November 09, 2010


Energi Menulis: Dari Mana Datangnya?
---Anwar Holid

Penulis punya pengalaman khas masing-masing yang menyebabkan mereka mampu bertahan untuk menghasilkan karya.

Kita lihat misalnya Jamal berlatar belakang seni rupa; dulu Clara Ng menerbitkan buku sendiri; Veven SP Wardhana terinspirasi fakta sejarah; Anjar sudah "mengandung" kisah dalam novel Beraja sejak 2000; sementara Djenar Maesa Ayu sejak awal kemunculannya konsisten membawa subjek seksualitas dari beragam aspek.

Tujuh tahun lalu aku dengar seorang peserta diskusi bertanya kepada Djenar Maesa Ayu kenapa kebanyakan ceritanya bertema seks. Dia menjawab, "Barangkali karena saya suka seks ya?" Ada kejujuran di sana, dan itu jadi salah satu pokok dalam proses menulis. "Kalau tidak jujur waktu menulis, buat apa karya itu?" dia balik tanya. Karena inti menulis ialah mengungkapkan perasaan secara kreatif, melepaskan gagasan, mencari pengakuan, sejumlah orang berpijak pada sesuatu yang sangat dekat dengan dirinya. Itulah hal yang dapat mereka ungkapkan dengan tepat dan tegas. Penulis harus tahu persis yang dihadapi dan ditulisnya.

Kenapa sejumlah orang memilih menulis fiksi? "Sebab dalam fiksi segala kemungkinan ada," jawab Veven. Ada dunia imajinasi dalam diri manusia atau angan-angan maha luas yang coba mereka isi dengan upaya pencarian makna. Di sana mereka mencari kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pelampiasan emosi, mental, maupun spiritual setelah lelah menghadapi alam fisikal yang kering, sukar berkompromi, bahkan kerap dipenuhi kebohongan. Jamal mendapat kenikmatan menulis fiksi karena dia mampu mereka-reka jalan hidup seseorang, menentukan nasib tokoh ciptaannya. Rupanya keinginan berperan bebas sebagai Tuhan (playing God) memotivasi Jamal dalam berkreasi.

Karena ada keinginan bermain-main dengan bahasa, jelas para penulis harus kreatif melakukan sejumlah eksplorasi literer. Perhatikan frasa "matahari malam hari" pada judul Centeng karya Veven. Apa frasa tersebut terkesan janggal atau malah membangkitkan rasa penasaran para pembaca? Clara Ng menjuduli novelnya Tujuh Musim Setahun, dan itu membuat orang terangsang untuk bertanya-tanya: di manakah tempat yang punya tujuh musim dalam setahun? Atau dia ingin menggunakan perlambang untuk mengungkapkan sesuatu secara khusus?

Permainan bahasa menunjukkan bahwa manusia memiliki dinamika dalam komunikasi dan persisten mencari kemungkinan baru. Misal, sebagian pengguna bahasa Indonesia masih merasa asing dengan kata "beraja", padahal sebenarnya bisa ditemukan di berbagai kamus bahasa Indonesia yang otoritatif. Anjar, seorang novelis tinggal di Bandung, dalam hal ini berusaha mengingatkan bahwa kita memiliki kekayaan bahasa luar biasa. Memang, demi menjaga dan mengembangkan bahasa, kita berutang banyak kepada penulis. Merekalah yang secara sinambung membangkitkan lagi kata yang lama dilupakan atau mencoba menciptakan kemungkinan makna dengan inovasi, menempuh cara ungkap berbeda yang sebelumnya di luar imajinasi generasi terdahulu.

Fiksi memiliki logika sendiri. Segila-gilanya imajinasi dalam fiksi, penulis biasanya tetap merujuk pada sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada alasan masuk akal kenapa sebuah dunia dalam ceritanya bisa berlangsung secara ajaib atau di luar nalar. Kekayaan pengetahuan, kedekatan dengan seseorang, atau subjek yang mereka kuasai, juga latar belakang kehidupan, biasanya kerap dirujuk untuk menjelaskan bahwa sejumlah peristiwa, percakapan, dan kejadian dapat ditelusuri jejak-jejaknya. Dalam novelnya, Clara Ng perlu menulis halaman bibliografi untuk membuktikan dirinya menolak berspekulasi tanpa dasar eksperimen yang pernah dilakukan orang lain, baik itu ilmuwan, sejarahwan, dan kritikus. Jamal melampirkan biografi filsuf Soren Kierkegaard dalam novelnya. Kini ada banyak novel yang ditambahi catatan kaki---baik yang sama-sama fiktif ataupun faktual.

Di luar latar belakang dan subjek karya, para penulis otomatik memberi pelajaran tentang proses dan kesabaran. Menurut pengakuan Clara Ng, total sekitar empat tahun dia habiskan untuk mewujudkan Tujuh Musim Setahun. Sebelum jadi novel, naskah itu awalnya berupa catatan berserak baik di kertas, komputer, juga ingatan. Dia mencoba menyimpan iktikad itu sekuat tenaga, memelihara, menjaga agar tak lenyap, bahkan ketika proses penciptaan terhenti oleh banyak hal. Sujinah, penulis In a Jakarta Prison, tak menyerah menulis meski di penjara tanpa proses pengadilan lebih dari lima belas tahun lamanya karena alasan politik. Dia menjadikan karya sebagai kesaksian atas hidupnya yang getir, keras, penuh perjuangan dan idealisme.

Pada dasarnya upaya menulis sebuah karya merupakan proses berlanjut. Pengorbanan waktu dan energi untuk menyelesaikannya membutuhkan kesabaran luar biasa. Berproses lebih dari dua tahun demi menunggu kelahiran buku tentu belum bisa dihadapi setiap orang dengan mudah. Anjar membuktikan dia berhasil melewati masa sejak awal persemaian hingga memetik buah atas bukunya. Ada sejumlah karya yang baru bisa terbit setelah bertahun-tahun kesulitan menemukan penerbit.

Di awal abad ke-21 para penulis berdesak-desakan muncul ke ranah sastra dan industri perbukuan. Generasi terbaru juga beruntung dapat menikmati kemajuan teknologi dan beragam media ekspresi. Dunia penerbitan tambah dinamik meramaikan khazanah sastra Indonesia. Di luar media cetak umum, banyak penulis melatih kemampuan dan eksperimentasi melalui internet, blog, Facebook, situs pribadi, termasuk Twitter. Energi menulis mereka meluap-luap secara luar biasa, gagasannya kadang-kadang tak tertampung sarana umum, dan eksplorasinya menarik untuk diperhatikan.

Bagi sejumlah orang, energi menulis bisa jadi tak pernah terbayang kapan akan muncul dan menggerakkan proses kreatif. Namun belajar dari banyak penulis, kita tahu proses itu ialah gabungan antara tekad besar, proses menciptakan, dan upaya memenangi pertarungan melawan keragu-raguan.[]

Note: Versi ini merupakan revisi dari yang aku tulis pada Rabu, 28 Mei 2003.

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Copyright © 2010 oleh Anwar Holid