Showing posts with label penulisan. Show all posts
Showing posts with label penulisan. Show all posts

Tuesday, May 06, 2014

Kriteria, Inspirasi, dan Masalah Menulis
--Anwar Holid


Jujur saja, sekarang ini aku rada sungkan setiap kali diminta jadi guru menulis. Aku suka malu berusaha menyemangati orang lain menulis dan berbagi ilmu kepenulisan, padahal aku sendiri punya masalah dengan motivasi dan disiplin, pernah mengecewakan pemberi order, punya wanprestasi, banyak draft tulisan masih berlepotan, editan atau revisi naskah belum beres, dan kesulitan menyelesaikan berbagai kendala penulisan.

Tapi setiap kali mendapat tawaran, biasanya aku langsung antusias. Ini jelas karena aku memang punya hasrat pada penulisan dan penerbitan. Aku mau berbagi apa saja mengenai hal itu. Aku juga banyak belajar dan dapat ilmu baru dari pertemuan-pertemuan yang aku hadiri, sekalipun statusku ialah fasilitator.

Ketika mengutarakan keberatan, pengundang malah menguatkan. “Ini kan menyampaikan ilmunya, bukan soal teknis. Semua orang bermasalah kok kalau berhadapan dengan pekerjaan, apalagi deadline.” Walhasil, aku mengiyakan. 


Jadi setiap kali diminta jadi guru, aku bersikap sebagai khatib yang rendah hati. Sebenarnya khotbah itu ditujukan buat diri sendiri, untuk belajar dan mendapat ilmu, bersama-sama menekuni semoga yang  didengar bermanfaat, mengantarkan kita pada kebaikan. Bukankah suara dari mulut pasti terdengar lebih nyaring bagi telinga sendiri dibanding telinga orang lain? Saat itulah aku juga belajar, berinteraksi dengan sesama pembaca, penulis, dan orang-orang yang  boleh jadi suatu ketika makin menyuburkan dunia sastra dan industri buku Indonesia. Salah satunya ketika beberapa waktu lalu kawan Aksara Salman ITB bertanya tiga hal soal kepenulisan.

* Apa ada kriteria untuk jadi penulis yang baik dan profesional?
Ciri penulis yang baik ialah dia mampu menyelesaikan setiap proyek penulisan yang menjadi tanggung jawabnya.

Sekadar info, statistik penerbitan di dunia ini menunjukkan betapa kemungkinan seorang penulis mampu mencapai sukses secara komersial ternyata sedikit sekali, apalagi sukses gila-gilaan seperti J.K. Rowling. Coba cari di sekitar kita berapa banyak orang yang hidupnya semata-mata dari menulis? Kalau ada, perhatikan apa yang terjadi dengan dirinya. Apa dia punya rahasia?

Di sebuah workshop penulisan aku pernah dapat nasihat bahwa kalau benar berniat jadi penulis, ingatlah empat poin ini:
1. Bersikaplah realistis. Hidup semata-mata dari menulis itu sulit, bahkan bagi penulis yang sudah terkenal sekalipun.
2. Jangan mudah putus asa oleh penolakan.
3. Milikilah selalu rencana cadangan. Ingatlah bahwa tidak semua orang pada akhirnya bisa menerbitkan karyanya.
4. Memiliki sumber penghasilan yang dapat diandalkan di luar dunia menulis bisa merupakan suatu keuntungan demi menunjang upaya seseorang untuk jadi penulis yang berhasil.

Fakta
Seniorku cerita ada seorang penulis cerita buku anak-anak yang nyaris meninggalkan dunia tulis-menulis dan beralih ke bisnis sablon kaos. Kenapa? Karena menulis sudah tidak menguntungkan buat dirinya lagi. Dia tidak bisa hidup dari menulis. Royalti dari penjualan buku-buku tidak lagi bisa diandalkan, karena datang lama dan jumlahnya pun kecil dibandingkan kebutuhannya. Mendengar kondisi penulis itu demikian, seniorku langsung tergerak untuk menawarinya menulis buku dan memberi uang muka. Semoga buku ini laris, terlebih kalau bisa dibeli pemerintah lewat proyek pengadaan buku, dengan begitu bisa menyelamatkan karir dan penghidupannya. Dia tahu penulis ini berbakat, berpengalaman menulis buku dengan baik. Tapi bakat masih kurang bila sesuatu tidak berjalan sesuai semestinya. Ia harus disalurkan dan diwadahi dengan benar.

Di lain pihak, ada kawan seorang penulis buku anak-anak yang hidup semata-mata dari menulis. Dia tidak punya pekerjaan lain di luar menulis, selain mengurus kolam dan kebunnya. Dia menulis apa pun, dari buku anak-anak bergambar simpel di bawah 50 halaman, sampai menerima order menulis novel dari penerbit. Dari ketekunan, pembelajaran, konsistensi, dedikasi, dan prestasinya di dunia menulis, dia mampu menghidupi keluarga, memiliki kebun dan kolam yang sekaligus diolah menjadi taman bacaan bagi anak-anak warga setempat. Dia pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional, bukunya menang lomba penulisan novel agama di Kementerian Agama, bukunya pernah terpilih sebagai buku terbaik versi IKAPI Pusat.

Dia bilang, ‘Bisa bermanfaat untuk keluarga dan tetangga-tetangga terdekat saja sudah sangat berharga, apalagi kalau kita dianggap bermanfaat bagi bangsa, bagi pembaca yang tidak kita kenal, yang tinggalnya entah di mana, jauh sekali dari kita, namun mereka ikut bahagia karena sama-sama membaca, dapat sesuatu yang berguna dari karya kita.’ Sungguh ungkapan yang rendah hati. Dia tidak peduli hal-hal remeh di luar esensi profesinya. Dia tidak peduli andai namanya tidak dikenal orang atau media massa, tidak peduli karyanya dianggap rendahan, tidak mengurusi skandal sastra yang bakal menghabiskan energi dan waktunya untuk berkarya. Yang penting buatnya ialah dia terus belajar memperbaiki diri, merevisi karya-karya yang masih ditolak, agar pada akhirnya bisa terbit dan menghasilkan manfaat.

Saran
* Berhentilah bila menulis tidak menguntungkan, tidak berguna, atau tidak menjadi hasrat yang sangat kuat buat diri sendiri. Tinggalkan saja. Ada banyak hal lain di dunia ini yang sama-sama menarik untuk dieksplorasi selain menulis. Richard Oh menyatakan, ‘Kamu pasti tak pernah mempertanyakan soal penulisan bila kamu sendiri terdorong untuk menulis. Ia ada di dalam dirimu. Ini rasanya seperti kalau kamu tidak menulis maka ada sesuatu dalam dirimu yang mendadak mau mati.’

Dunia menulis bukan untuk orang yang suka mengandalkan atau mengira bahwa semua ini bisa diambil gratis begitu saja.

* Belajar dari kegagalan. Ambil masukan dari kritik paling pahit yang pernah Anda terima.
Brian Hill dan Dee Power bilang: Kegigihan merupakan kunci utama keberhasilan para penulis sukses.

* Bertanyalah kepada teman dekat yang mau mengkritik terus terang dan jujur,
editor, pembaca kritis, para ahli, atau bagian marketing penerbit kenapa kira-kira tulisan Anda bisa sampai gagal.

* Kalau serius mau jadi penulis profesional, terimalah setiap tawaran untuk menulis. Apa pun jenisnya. Kerjakan sebaik mungkin. Setiap jenis tulisan punya tantangan masing-masing. Dari tantangan itu penulis bisa belajar tentang banyak hal, seperti cara mengatasi masalah menulis, belajar hal baru, mengolah informasi dan data, membungkus fakta, menyampaikan maksud, berkompromi dengan pihak lain, termasuk mencari baru mengungkapkan sesuatu.

 


* Berdasarkan pengalaman, apa saja yang biasanya jadi inspirasi menulis?
Apa saja, dari hal yang sangat sepele seperti membaca surat cinta, soal rapido, pertanyaan simpel dan terdengar bodoh, ngobrol atau dengar cerita sopir, sampai hal-hal yang barangkali di luar pemahaman penulis sendiri, misalnya soal virus, kosmos, membuat opini, budaya, stem sel, atau pengalaman mistik dan mimpi-mimpi yang ajaib.

Inspirasi bisa datang begitu saja, terus menghantui untuk segera dituntaskan, atau malah langsung disodorkan ke hadapan penulis, entah lewat order, setelah ngobrol seru dengan kawan, baca buku, nonton film, dengar album musik yang hebat dan menggugah. Juga dari semua denyut kehidupan.

* Masalah apa yang sering muncul dan dialami penulis? Apa solusinya?
Penghalang terbesar penulis ialah kemalasan. Buktinya adalah aku sendiri. Ada berapa proyek penulisan yang gagal, ada berapa editan yang tidak selesai,  berapa banyak draft yang belum beres atau akhirnya didelete, juga berbagai kesempatan yang batal menjadi keuntungan atau tambahan income.

Kalau penulis berhasil mengalahkan kemalasan, writer’s block hanya jadi cerita, karena penulis seperti akan terus mendapat energi dan inspirasi untuk menyelesaikan tulisan.

Masalah serius lain ialah menemukan/membentuk jalan cerita. Untuk ini penulis harus terus belajar menulis dan mencari berbagai cara untuk menyampaikan maksud dengan jernih, lentur, dan imajinatif. Penulis harus menemukan karakternya sendiri, ciri khasnya. Untuk bisa menuturkan cerita tulisan yang bisa membetot pembaca, terus memukau dari awal hingga akhir jelas butuh teknik tertentu, inovasi, eksperimen, pengulangan, bolak-balik, kalau perlu berguru secara khusus kepada penulis senior atau guru menulis.

Obat mujarabnya? Bawa terus notes. Catat yang mau ditulis. Keep your hand moving!

--Anwar Holid, dulu ikut SKAU---unit pendahulu Aksara Salman ITB. Sekarang editor di Penerbit Rosda Bandung.

Tuesday, November 09, 2010


Energi Menulis: Dari Mana Datangnya?
---Anwar Holid

Penulis punya pengalaman khas masing-masing yang menyebabkan mereka mampu bertahan untuk menghasilkan karya.

Kita lihat misalnya Jamal berlatar belakang seni rupa; dulu Clara Ng menerbitkan buku sendiri; Veven SP Wardhana terinspirasi fakta sejarah; Anjar sudah "mengandung" kisah dalam novel Beraja sejak 2000; sementara Djenar Maesa Ayu sejak awal kemunculannya konsisten membawa subjek seksualitas dari beragam aspek.

Tujuh tahun lalu aku dengar seorang peserta diskusi bertanya kepada Djenar Maesa Ayu kenapa kebanyakan ceritanya bertema seks. Dia menjawab, "Barangkali karena saya suka seks ya?" Ada kejujuran di sana, dan itu jadi salah satu pokok dalam proses menulis. "Kalau tidak jujur waktu menulis, buat apa karya itu?" dia balik tanya. Karena inti menulis ialah mengungkapkan perasaan secara kreatif, melepaskan gagasan, mencari pengakuan, sejumlah orang berpijak pada sesuatu yang sangat dekat dengan dirinya. Itulah hal yang dapat mereka ungkapkan dengan tepat dan tegas. Penulis harus tahu persis yang dihadapi dan ditulisnya.

Kenapa sejumlah orang memilih menulis fiksi? "Sebab dalam fiksi segala kemungkinan ada," jawab Veven. Ada dunia imajinasi dalam diri manusia atau angan-angan maha luas yang coba mereka isi dengan upaya pencarian makna. Di sana mereka mencari kemungkinan untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pelampiasan emosi, mental, maupun spiritual setelah lelah menghadapi alam fisikal yang kering, sukar berkompromi, bahkan kerap dipenuhi kebohongan. Jamal mendapat kenikmatan menulis fiksi karena dia mampu mereka-reka jalan hidup seseorang, menentukan nasib tokoh ciptaannya. Rupanya keinginan berperan bebas sebagai Tuhan (playing God) memotivasi Jamal dalam berkreasi.

Karena ada keinginan bermain-main dengan bahasa, jelas para penulis harus kreatif melakukan sejumlah eksplorasi literer. Perhatikan frasa "matahari malam hari" pada judul Centeng karya Veven. Apa frasa tersebut terkesan janggal atau malah membangkitkan rasa penasaran para pembaca? Clara Ng menjuduli novelnya Tujuh Musim Setahun, dan itu membuat orang terangsang untuk bertanya-tanya: di manakah tempat yang punya tujuh musim dalam setahun? Atau dia ingin menggunakan perlambang untuk mengungkapkan sesuatu secara khusus?

Permainan bahasa menunjukkan bahwa manusia memiliki dinamika dalam komunikasi dan persisten mencari kemungkinan baru. Misal, sebagian pengguna bahasa Indonesia masih merasa asing dengan kata "beraja", padahal sebenarnya bisa ditemukan di berbagai kamus bahasa Indonesia yang otoritatif. Anjar, seorang novelis tinggal di Bandung, dalam hal ini berusaha mengingatkan bahwa kita memiliki kekayaan bahasa luar biasa. Memang, demi menjaga dan mengembangkan bahasa, kita berutang banyak kepada penulis. Merekalah yang secara sinambung membangkitkan lagi kata yang lama dilupakan atau mencoba menciptakan kemungkinan makna dengan inovasi, menempuh cara ungkap berbeda yang sebelumnya di luar imajinasi generasi terdahulu.

Fiksi memiliki logika sendiri. Segila-gilanya imajinasi dalam fiksi, penulis biasanya tetap merujuk pada sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Ada alasan masuk akal kenapa sebuah dunia dalam ceritanya bisa berlangsung secara ajaib atau di luar nalar. Kekayaan pengetahuan, kedekatan dengan seseorang, atau subjek yang mereka kuasai, juga latar belakang kehidupan, biasanya kerap dirujuk untuk menjelaskan bahwa sejumlah peristiwa, percakapan, dan kejadian dapat ditelusuri jejak-jejaknya. Dalam novelnya, Clara Ng perlu menulis halaman bibliografi untuk membuktikan dirinya menolak berspekulasi tanpa dasar eksperimen yang pernah dilakukan orang lain, baik itu ilmuwan, sejarahwan, dan kritikus. Jamal melampirkan biografi filsuf Soren Kierkegaard dalam novelnya. Kini ada banyak novel yang ditambahi catatan kaki---baik yang sama-sama fiktif ataupun faktual.

Di luar latar belakang dan subjek karya, para penulis otomatik memberi pelajaran tentang proses dan kesabaran. Menurut pengakuan Clara Ng, total sekitar empat tahun dia habiskan untuk mewujudkan Tujuh Musim Setahun. Sebelum jadi novel, naskah itu awalnya berupa catatan berserak baik di kertas, komputer, juga ingatan. Dia mencoba menyimpan iktikad itu sekuat tenaga, memelihara, menjaga agar tak lenyap, bahkan ketika proses penciptaan terhenti oleh banyak hal. Sujinah, penulis In a Jakarta Prison, tak menyerah menulis meski di penjara tanpa proses pengadilan lebih dari lima belas tahun lamanya karena alasan politik. Dia menjadikan karya sebagai kesaksian atas hidupnya yang getir, keras, penuh perjuangan dan idealisme.

Pada dasarnya upaya menulis sebuah karya merupakan proses berlanjut. Pengorbanan waktu dan energi untuk menyelesaikannya membutuhkan kesabaran luar biasa. Berproses lebih dari dua tahun demi menunggu kelahiran buku tentu belum bisa dihadapi setiap orang dengan mudah. Anjar membuktikan dia berhasil melewati masa sejak awal persemaian hingga memetik buah atas bukunya. Ada sejumlah karya yang baru bisa terbit setelah bertahun-tahun kesulitan menemukan penerbit.

Di awal abad ke-21 para penulis berdesak-desakan muncul ke ranah sastra dan industri perbukuan. Generasi terbaru juga beruntung dapat menikmati kemajuan teknologi dan beragam media ekspresi. Dunia penerbitan tambah dinamik meramaikan khazanah sastra Indonesia. Di luar media cetak umum, banyak penulis melatih kemampuan dan eksperimentasi melalui internet, blog, Facebook, situs pribadi, termasuk Twitter. Energi menulis mereka meluap-luap secara luar biasa, gagasannya kadang-kadang tak tertampung sarana umum, dan eksplorasinya menarik untuk diperhatikan.

Bagi sejumlah orang, energi menulis bisa jadi tak pernah terbayang kapan akan muncul dan menggerakkan proses kreatif. Namun belajar dari banyak penulis, kita tahu proses itu ialah gabungan antara tekad besar, proses menciptakan, dan upaya memenangi pertarungan melawan keragu-raguan.[]

Note: Versi ini merupakan revisi dari yang aku tulis pada Rabu, 28 Mei 2003.

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Copyright © 2010 oleh Anwar Holid

Wednesday, November 18, 2009



Berbagi Ilmu Penulisan
---Anwar Holid

Writing is a journey to the unknown.
--Charlie Kaufman


Selama tiga bulan terakhir ini saya menjadi guru workshop penulisan di sebuah yayasan di Bandung. Workshop tersebut berlangsung tiap Sabtu, akan berakhir pada Sabtu, 20 November 2009 nanti, ditandai dengan acara nonton bareng film tentang penulis---kami masih menimbang apa akan nonton tentang Beatrix Potter atau Harvey Pekar. Sekitar dua bulan sebelumnya saya juga menjadi instruktur kelas serupa di visikata.com. Namun karena gagal berkomitmen, saya mengundurkan diri dua minggu sebelum program tersebut akan selesai.

Sebenarnya saya enggan menjadi guru, sebab kemampuan pedagogi saya boleh dibilang nol. Yang lebih membuat saya suka ialah pengalaman berbagi dengan para peserta. Momen itu sangat berharga, dari sanalah saya bisa menyerap ilmu dan pengetahuan milik orang lain. Lepas dari kekurangan sebagai instruktur menulis, entah kenapa saya bersemangat sekali ingin merenung setelah workshop itu selesai. Ada apa dengan kemampuan menulis? Ini bisa jadi sangat terkait dengan kebiasaan baca juga.

Agak mengherankan ada peserta yang ikut pada pertemuan pertama, tapi setelah itu tak pernah muncul kembali. Atau sebaliknya, awalnya tampak bersemangat, menunggu-nunggu, bahkan janji akan terus hadir selama masa workshop, tapi begitu dimulai tak sekali pun batang hidupnya tampak. Ada juga yang persis tahu workshop sedang berlangsung, tapi ternyata dia memilih aktivitas lain. Kejadian ini membuktikan ternyata tak semua niat kuat itu akhirnya terlaksana. Ini mirip dengan sesal sebagian orang yang gagal membaca tumpukan buku, meskipun dia semangat berniat menghabisinya, tapi waktunya ternyata habis buat kerja dan merokok, sementara sampul bukunya terus tertutup rapat. Bisa jadi kemampuan retorika saya buruk dan ilmu saya cetek, jadi gagal menjadi guru menulis dengan pesona seperti magnet dan mampu memikat banyak peserta. Tapi bagaimana lagi, justru dengan berbagi ilmu itulah saya pun mendapat pengetahuan baru.

Kejutan lain ialah ternyata ada peserta yang benar-benar mengaku tidak bisa menulis apa-apa (blank), bingung cara memulainya, meskipun dia merasa ada sesuatu di dalam kepalanya yang ingin ia tumpahkan. Seseorang mengaku baru bisa menulis bila ada pendapat yang merangsang pengetahuannya, jadi tulisannya merupakan respons dan sumber polemik. Ada lagi peserta lain yang tampak mampu menulis, punya banyak pemikiran dan pendapat, berpengalaman membaca banyak literatur, namun merasa tidak punya waktu untuk menulis, dan Tuhan tampak belum menakdirkannya untuk menulis. Dia percaya sebagian penulis memang sengaja diberi waktu khusus untuk menulis, seperti Buya Hamka yang baru bisa menulis tafsir Al Quran ketika di penjara. Teman saya ini mengaku kehabisan waktu menulis karena kegiatannya tersita untuk mengurus warung. Dia agak yakin bahwa sebagian karya tulis itu seolah-olah lahir dari keadaan "terpaksa" kalau bukan memang sudah dirancang seperti itu. Dugaan ini benar. Sejumlah buku atau karya tulis tampaknya tidak lahir dari tangan, tetapi dari mulut pengarangnya. Contoh terkemuka dari "menulis" model ini ialah ribuan puisi Jalaluddin Rumi, yang konon lahir begitu saja dari ucapan beliau ketika dalam keadaan ekstase spiritual. Para muridnya yang mendengar itu langsung "mengikat puisi itu" dengan mencatatnya. Di Bandung, keprolifikan Jalaluddin Rakhmat salah satunya berkat rutinitas ceramah mingguan di masjid samping rumahnya. Koleganya---kalau bukan putranya sendiri---lantas mentranskripsi sekaligus mengedit hasil ceramah dan tanya jawab itu menjadi sejumlah buku dengan tema tertentu. The Autobiography of Malcolm X awalnya merupakan penuturan Malcolm X kepada penulis Alex Haley, dan akhirnya menjadi buku monumental. Jelaslah bahwa buku tidak mesti lahir dari tulisan atau ketikan, ia juga bisa lahir dari rekaman dan ucapan.

Belajar dari pengalaman, saya cukup percaya bahwa menulis berawal dari kebiasaan yang diteguhkan lewat disiplin. Kebiasaan bisa jadi bermula dari keberanian. Saya juga yakin bahwa menulis merupakan keahlian (kemampuan) yang bisa dipelajari. "Kamu hanya butuh alat, bukan aturan," demikian tegas Roy Peter Clark dalam bukunya Writing Tools. Alat menulis ialah bahasa dan seluruh unsurnya, alat untuk menyampaikan pesan dan luapan pesan sepenuh perasaan dan tepat seperti keinginan kita. Saya berpegang bahwa awal menulis bisa dipicu dengan adagium KEEP YOUR HAND MOVING dari Natalie Goldberg. Meski Alfathri Adlin, seorang teman saya, bilang yang lebih mendasar ialah KEEP YOUR MIND THINKING. Itu benar. Menulis maupun membaca merupakan keterampilan yang harus dipelajari manusia. Ia bukan bawaan orok. Dulu kita semua buta huruf dan buta menulis. Baru setelah belajar a-b-c, kita jadi bisa menyampaikan pesan lewat pernyataan.

Jadi lebih dari sekadar bisa menulis dengan baik, orang ingin mewujudkan isi kepala jadi tulisan persis sesuai keinginannya. Mungkin itu sebabnya sebagian mahasiswa heran kenapa dia pernah bisa menulis paper atau skripsi, tapi bingung dengan isinya, atau tulisan itu betul-betul buruk sampai malu bila harus dibaca kembali. Ini persis kata Joe Elliot, vokalis Def Leppard, yang pernah berseloroh begini: "Saya harus mabuk dulu kalau mau mendengarkan album pertama kami." Orang bisa geleng-geleng kenapa dahulu dia bisa menulis secara ajaib---baik bagus ataupun buruk. Penulis hanya perlu mengakui bahwa itu memang karyanya. Setelah itu lupakan atau lanjutkan. Kehidupan jalan terus, pikiran lain mendesak, emosi perlu diluapkan.

Selama workshop, saya menyadari bahwa mayoritas peserta sebenarnya sudah punya kebiasaan dan kemampuan menulis yang bagus, berani berekspresi dan bereksperimen, punya kebiasaan menulis yang hebat, bahkan sebagian dari mereka sudah berprestasi, misalnya memenangi sayembara penulisan. Sebagian orang punya blog yang rutin dia isi dan ternyata jadi favorit banyak orang. Bila dia menulis, tanggapan orang bersahut-sahutan. Peserta lain jadi redaktur buletin internal yayasan. Saya pikir itu tanda bahwa mereka telah jadi penulis. Di sisi lain ada juga teman yang masih ragu untuk berani mengirimkan tulisan ke media massa semata-mata dia merasa pemikirannya bertentangan dengan arus utama saat itu, meskipun argumennya kuat dan jelas. Fenomena ini muncul berbagai kesempatan workshop penulisan yang pernah saya hadiri. Jadi apa kekurangan mereka? Yang paling utama ialah mereka buta akan aturan umum (standar) menulis yang berlaku di media massa atau digunakan oleh penerbit yang bagus. Ini lebih dari sekadar menguasai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dengan baik, melainkan menulis secara efektif, hemat, fokus, tegas, langsung pada sasaran. Menguasai EYD tentu bisa membuat tulisan kita rapi, tapi belum menjamin tulisan kita "bernyawa" dan punya "suara" sendiri, yang kuat, mampu mempesona pembaca dari awal sampai akhir.

Ini persis kriteria Hetih Rusli terhadap tokoh cerita yang kuat. "Yang terpenting ialah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup dalam bentuk tiga dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas." Hal serupa berlaku pada tulisan nonfiksi. Feature profil orang dan biografi hebat pasti punya tokoh yang mengesankan.

Wajar kalau begitu banyak orang mampu menulis namun dia heran sendiri kenapa tulisannya diabaikan orang lain atau ditolak media massa. Perhatikan blog, zine, atau media tertentu lain. Mereka suka menulis suka-suka, sehendak hati, tak peduli apa orang lain kesulitan dengan cara berbahasanya. Ini membuktikan sebenarnya menulis sangat personal, khas, sesuai maksud masing-masing---sementara industri, akal sehat, kesepakatan umum, dan keinginan menyetarakan cara berpikir memunculkan standardisasi. Sejumlah orang mampu menulis di luar standar dan ternyata baik-baik saja. Saya pernah bertemu mahasiswa yang menerbitkan zine tapi buta EYD. Bagi dia yang penting ekspresinya terlampiaskan dan pikirannya tersampaikan.

Itu sebabnya saya berpendapat bahwa persoalan terbesar menulis ada pada proses editing (penyuntingan). Saat itu penulis harus berjarak dari karyanya dan tulisan mulai hendak menyapa pembaca luas. Jernihkah maksudnya? Mau apa dia dengan tulisannya? Bisakah tulisan itu dibaca? Bagaimana bahasanya? Kepaduan paragrafnya? Apa persis sesuai keinginan penulis? Adakah emosi mengalir di sana? Ketika diedit, tulisan dinegosiasikan. Saya pernah menghabiskan empat kali pertemuan hanya untuk membahas editing satu karya sebelum penulisnya benar-benar siap mengirimnya ke media massa. Apalagi saya ternyata bukan tipe editor killer yang tega main babat kalimat kabur tanpa diskusi lebih dulu. Di fase inilah berkah lain muncul, yaitu saya jadi membuka-buka rujukan baru. Mizan mengirimi Quantum Writer (Bobbi DePorter), dari Herry Mardian saya memfoto kopi Writing Tools (Roy Peter Clark) dan On Writing Well (William Zinsser), Ignatius Haryanto mengirimi The Quotable Book Lover (Ben Jacobs & Helena Hjalmarsson, eds.) dan Menuju Jurnalisme Berkualitas. Semua merupakan pustaka berharga.

Persoalan editing juga yang saya kemukakan kepada bang Mula Harahap waktu dia menelepon saya membicarakan sekolah tulis-menulis yang sedang dia rancang di kepalanya. "Iseng-iseng aku search tentang sekolah menulis, ternyata muncul nama kau," katanya. Wah, senangnya ditelepon senior ramah seperti dia. Sudah lama kami tak kontak.

Setelah workshop penulisan selesai, saya harus segera meneruskan order yang terbengkalai karena berhari-hari berkutat menyiapkan materi. Rekan kerja saya sampai penasaran karena saya membiarkan respons editannya. "Apa pembicaraan kita mengenai teks itu sudah berhenti? Saya harap tak ada salah paham di antara kita." Ah, tidak, jawab saya. Saya hanya sebentar teralihkan ke subjek yang juga penting untuk dikaji dengan sungguh-sungguh.

Entah kapan dan di mana lagi saya punya kesempatan berbagi ilmu penulisan.[]

Anwar Holid sehari-hari bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Friday, October 30, 2009



Meluangkan Waktu dan Mencurahkan Energi untuk Menulis

--Anwar Holid


Some readers write. All writers read.


Dari interaksi dengan sejumlah orang yang tertarik dunia tulis-menulis, ada satu hal yang sungguh bisa membedakan apa seseorang itu benar-benar menulis atau baru sekadar membicarakannya. Ketika menjadi instruktur menulis di visikata.com, saya kenalan dengan peserta dari Banda Aceh. Dia bekerja di sebuah LSM. Setiap kali kami mengadakan pertemuan rutin (chatting di ruang virtual situs itu), dia selalu sulit hadir. Dia terlalu sibuk bekerja dan menyelesaikan tugas kantor---yang sebenarnya positif juga. Yang buruk buat kemampuan menulisnya ialah dia tetap kesulitan dan mengaku bahwa tugas menulis selalu membuatnya tertekan dan degdegan.

Kesimpulan saya: orang seperti dia kehabisan waktu buat menulis dan mencurahkan pikiran dan energi untuk benar-benar menyelesaikan tulisan.

Mengalokasikan waktu, mencurahkan pikiran dan energi akan benar-benar bisa membuat perbedaan dalam menulis. Setiap tulisan memang merupakan kerja (keras). Penulis harus duduk untuk menuangkan isi kepala pada kertas atau file di komputer. (Seperti saya sekarang saat menulis tentang topik ini. Saya duduk, meluangkan waktu, mengumpulkan energi, berkonsentrasi untuk menghasilkan tulisan yang berusaha fokus pada topik ini.)

Kondisi itu cukup mirip dengan pengakuan Bagus Takwin---dosen Jurusan Psikologi Universitas Indonesia yang telah menghasilkan sejumlah buku. Saya bertanya kepadanya: "Persiapan apa yang paling penting dalam menulis?"

Jawab dia, "Kalau dari pengalamanku secara umum banyak baca. Lalu, secara khusus penting untuk meningkatkan sensitivitas." Bagus Takwin memang sudah melampaui tahap "bingung mau menulis apa." Meski begitu dia tetap butuh persiapan khusus ketika akan menulis. "Dari segi teknis, sangat penting tersedia rokok dan kopi serta air putih supaya tetap bisa menulis sambil mendapat kenikmatan kopi dan rokok serta terus minum air agar ginjal tidak rusak," tambahnya mengenai kebiasaan bacanya.

Setiap orang punya kebiasaan tertentu ketika akan menulis. Semua penulis butuh waktu dan energi untuk betul-betul menghasilkan tulisan. Natalie Goldberg terus berseru: "Keep your hand moving!" (Terus gerakkan tanganmu!) untuk meyakinkan peserta workshop penulisannya benar-benar menulis, bukan berpikir mengenai isi tulisan atau khawatir soal bagus dan jelek tulisannya nanti.

Prinsip menulis Natalie Goldberg sangat sederhana:
(1) Keep your hand moving!
(2) Jangan mencoret, jangan mengedit waktu menulis.
(3) Jangan khawatir soal ejaan, tanda baca, tata bahasa.
(4) Lepaskan kontrol.
(5) Jangan berpikir, tidak mesti logis.
(6) Carilah urat nadinya.

Prinsip itu dia ulang-ulang secara konsisten. Soal baik dan buruk, itu soal nanti. Lagi pula ada proses editing (menyunting). Yang paling utama ialah menyempatkan diri untuk menulis dulu, sampai selesai.

Ada tulisan yang bisa cepat selesai baik karena pendek atau benar-benar sudah matang dalam isi kepala penulis, jadi tinggal menuangkan dalam tulisan. Bila begitu, penulis hanya butuh waktu sebentar untuk menulis. Tapi ada juga tulisan yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, baik karena sulit maupun banyak bahan yang harus ditulis. (Bayangkan novel atau buku nonfiksi tebal yang butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.)

Bagi Bagus Takwin, meski sekarang alokasi waktu untuk menulisnya berubah-ubah, minimal dalam sehari pasti ada yang dia baca dan tulis. Dia membutuhkan kira-kira 2 - 3 jam untuk membaca dan menulis. Dia juga membiasakan diri menulis hal-hal yang menurutnya menarik sehabis baca buku, termasuk membuat catatan atau ide-ide yang terlintas.

Kalau saya lihat pola menulis Fenfen, biasanya dia menulis topik yang menarik minatnya. Terus meluangkan waktu, pikiran, dan energi untuk menuntaskannya dalam sekali waktu. Sepertinya ide dan isi kepalanya sudah merupakan tempat yang bagus untuk merancang tulisan. Sampai tulisan itu benar-benar tuntas (terpoles), dan siap untuk dikirim ke media massa atau diposting di Internet.

Pola menulis saya agak lain. Biasanya saya mulai dengan pointer yang akan ditulis, terus menjelajahinya sesuai pointer itu. Meski begitu, saya suka menuliskan segala lintasan pikiran, meskipun bisa jadi hal itu tak tertulis dalam pointer. Bila sudah merasa tuntas atau materinya cukup, tulisan itu dibaca ulang, saya perhatikan kepaduannya, lantas diedit. Mungkin karena percaya pada fase editing, saya cukup yakin bahwa setiap tulisan pada dasarnya bisa diubah-ubah komposisinya, diperbaiki, dan dinegosiasikan kembali oleh penulis.

Bila kasusnya penulis butuh waktu lama (bisa berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun) untuk menyelesaikan tulisan, kebiasaan dan rutinitas menulis jadi penting, atau dia harus menciptakan waktu khusus untuk menulis. Misal penulis paling punya waktu ideal sehabis subuh atau ketika anak-anaknya sudah ke sekolah semua. Manfaatkan waktu itu.

Untuk penulis pemula, menulis 10 - 25 menit setiap hari sudah sangat bagus untuk membangun kebiasaan menulis atau menyempurnakan tulisan yang tertunda hari kemarin. Untuk lebih memudahkan mulai menulis, Patricia L. Fry----yang telah menerbitkan 25 buku---memberi tips dari mana saja kita bisa memulai sebuah tulisan:

1/ Tulislah hal yang kamu tahu.
Ini nasihat paling prinsipil. Tulislah hal yang merupakan keahlian atau keunggulan kamu. Tulisan itu akan berisi dan penting. Perhatikan keterampilan yang kamu kuasai, apa ketertarikan dan hobi kamu, bakat kamu, termasuk pengalaman yang menurut kamu menarik untuk dibagikan kepada pembaca.

Hampir semua tulisan saya pasti mengenai hal yang saya tahu.

2/ Tulis tentang hal yang ingin kamu ketahui.
Menulis tentang hal ini biasanya akan membawa kita pada pengetahuan baru, menjelajahi topik serupa, bahkan melakukan riset kecil-kecilan. Misal tentang "home schooling"; apa benar ini bisa dilakukan, bagaimana melakukannya, bagaimana dengan sertifikasi (bila anak benar-benar tidak sekolah formal), dan seterusnya.

3/ Berbagi pengalaman.
Orang itu suka berbagi, suka cerita, suka hal-hal yang tidak mereka miliki. Tulisan mengenai pengalaman yang bisa jadi unik biasanya bisa memudahkan penulis, karena dia benar-benar mengalaminya, juga menarik buat orang lain karena pembaca bisa jadi penasaran.

4/ Ceritakan/tulis pengalaman orang lain.
Sebagian orang lain suka bila namanya masuk dalam tulisan, koran, jadi pembicaraan, termasuk diwawancarai untuk media massa. Saya juga menulis tentang penulis lain atau sastrawan, orang yang bergerak di industri buku, baik sebagai narasumber maupun profil dalam artikel.

5/ Diam, perhatikan, dan dengarkan.
Perhatikan dunia sekitar kita. Ada banyak yang bisa ditulis. Orang lain merupakan sumber menakjubkan buat ide tulisan kita. Misal ketika saya mengajak Ilalang ke museum Siliwangi, sepulang dari sana saya terdorong menulis tentang nasionalisme, perjuangan, pelajaran PSPB, perang kemerdekaan, dan sejenis itu.

6/ Akrab dengan berita.
Berita selalu bisa merangsang kita untuk berkomentar dan mengembangkan pikiran. Apalagi bila berita itu mengenaskan, sensasional, sulit dipercaya, atau dramatik. Berita seperti itu sering bisa mendorong orang menulis. Berita tentang Prita, Dede si 'Manusia Pohon,' orang yang kesulitan ekonomi sampai tak bisa menguburkan anaknya... semua bisa jadi rangsang menulis yang hebat.

7/ Gunakan Internet.
Internet merupakan sumber subur bagi penulisan. Saya biasanya browse dulu sebelum menulis, baik untuk memperkaya wawasan atau mencari rujukan. Media massa juga berlangganan berita dari kantor berita lain untuk diberitakan kembali kepada pembca mereka.

8/ Tulislah dengan jujur.
Menulislah seperti kita bicara kepada teman. Alamiah. Apa yang benar-benar membuat kamu semangat? Memasak? Tulislah sesuatu tentang memasak. Apa kamu benar-benar ingin membuat perubahan? Kamu benar-benar bertentangan ide dengan pendapat orang lain? Tulislah ide dan keyakinanmu. Utarakan pendapat kamu. Kuatkan argumen kamu. Biasanya keyakinan yang kuat bisa menghasilkan tulisan yang berbeda dan mengesankan.[]12/09/09

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141


Upaya Editor Menghindari Frustrasi
---Anwar Holid


Hampir dua bulan ini aku menangani dua naskah yang mirip. Secara prinsip, terjemahan naskah itu sudah benar. Setidaknya itulah klaim penerbit. Penerjemah naskah itu orang terkemuka dan ahli di bidangnya. Jadi secara keilmuan dia bisa diandalkan dan wawasannya mumpuni. Untuk sementara, aku sulit membantah klaim itu dan percaya omongan penerbit.

Di ruang kerja sederhanaku, ketika siap-siap membedah naskah itu, barulah aku merasakan sulitnya menangani terjemahan itu. Memang tugas editor ialah meluweskan penuturan, memadukan inkoherensi paragraf, membuat keterbacaan naskah tinggi. Itu mirip tugas utama dokter ialah menyembuhkan pasien atau petugas kebersihan kota menyingkirkan sampah. Begitulah adanya. Tapi kalau kamu mendapati tugas kamu ternyata begitu bikin suntuk, terlalu sulit atau menggunung, wajar bila ia bikin stres atau frustrasi. Seorang striker bisa frustrasi dan kalap kalau terus-menerus gagal mencetak gol dan kesulitan mendobrak pertahanan lawan, atau kiper lawan terlalu tangguh. Kalau sifat ksatrianya cedera, dia bisa gelap mata dan akhirnya bertindak curang dengan melakukan diving. Tantangan setiap pekerjaan itu sama. Namun menyebalkan bila faktanya beban kamu terlalu berat. Ada yang salah, dan itu bukan salah kamu, melainkan proses sebelumnya atau kasusnya memang berat. Untuk itu kamu hanya harus tabah dan bertahan. Lakukan inovasi dan istirahat secukupnya.

Begitu menghadapi baris kalimat sulit, aku yakin ada yang salah dari penanganannya. Aku kerap kesulitan menangkap maksud kalimat itu sebenarnya apa. Bahasanya ribet. Banyak banget kalimat panjang melelahkan, bahkan bisa terdiri dari satu paragraf! Yang terdiri dari tiga - empat baris juga banyak. Polanya pun masih dalam bahasa sumber, dan kerap berbentuk negatif. Dalam kalimat panjang itu selalu ada sisipan anak kalimat berisi tambahan informasi, termasuk hal-hal trivial yang bahkan sering berulang di bagian sebelumnya. Ini jelas gaya sang penulis, dan penerjemah membiarkannya. Bikin capek baca, dan energiku terkuras dengan cepat. Penerbit suka menggampangkan kondisi ini, bilang bahwa beban editor ringan. Padahal meluweskan bahasa, dengan penyampaian yang enak itu penting sekali dalam sebuah buku.

Kalimat pendeknya saja suka membingungkan. Contoh: "Pidatonya merupakan yang tidak lazim antara kepalsuan dan sifat agresif yang terang-terangan." Maaf, ini apa maksudnya?

Kalimat panjangnya antara lain begini: "Al-Quran menjasadkan di depan mata kita suatu gambaran yang hidup, dan menggerakkannya pada lebih dari satu arah, untuk mengimbau orang-orang yang merasa tidak berdaya itu untuk membebaskan diri dari tekanan, sejak sekarang, agar kelak mereka tidak menghadapi konsekuensinya sesudah mereka mati, dengan sikap menyerah pada kelemahan diri, sebagai suatu unsur yang sangat diperingatkan untuk dijauhi."

"Kekuatan-kekuatan hegemonis itu, yang menganggap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa merdeka dan mandiri sebagai ancaman terhadap monopoli mereka dalam instrumen kekuasaan yang penting ini dan yang tidak ingin melihat keberhasilan yang sama di negara-negara lain, telah salah mengartikan teknologi nuklir Iran yang terjaga dan aman sebagai usaha untuk membuat senjata nuklir."

"Bagaimanapun, kalau ada kebebasan pribadi yang akan dipertahankan mati-matian oleh seseorang di dunia modern, itu adalah haknya yang tidak boleh diingkari untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi, dan kuatnya dorongan pandangan umum, bahkan di kalangan Islam fundamentalis dengan kepala yang penuh dengan dalih-dalih teologis untuk menentangnya, pemerintah terpaksa menayangkan pertandingan sepakbola di televisi."

Halo... rasanya aku menerima sandi dari alien.

Seberapa besar usaha seorang editor menyunting kalimat itu, berapa lama waktu yang dia butuhkan? Atau sebaliknya, seberapa toleran dia boleh bilang bahwa kalimat itu sudah jernih?

Kondisi itu membuat tugasku mengubah penyampaian agar luwes, lincah, mudah dicerna, dan lancar justru bakal paling besar menyita energi. Memoles dan melenturkan kalimat itu kerap butuh coba-coba dan mengutak-atik dulu sebelum akhirnya menemukan penyampaian yang paling pas. Butuh waktu dan energi besar. Bayangkanlah pekerja furnitur kayu jati yang mengamplas ukiran kasar menjadi halus. Dia melakukannya berhari-hari, terpaksa harus menghirup hamburan serbuknya, dengan tenaga yang hebat. Itulah kerja keras. Itulah yang juga harus dihadapi penyunting bila menemukan kalimat-kalimat kasar, penuh gerinjul, menyulitkan makna.

Saking sebal, aku berprasangka penerjemah ini mungkin awalnya berpikir bahwa pekerjaannya sudah keren, jadi dia serahkan ke penerbit. Coba kalimat-kalimat berlepotan dan penuh lumpur itu dibiarkan, lantas langsung dibungkus dan ditawarkan ke publik. Aku yakin seminggu kemudian pembacanya pada sakit kepala. Atau mereka langsung melemparkannya ke tong sampah. Aku jadi ingat pelajaran pertama seorang penyunting dari dosenku, ibu Sofia Mansoor, yang mengenalkan istilah "keterbacaan"---yaitu tingkat suatu naskah mudah atau sulit dipahami.

Penulis, penerjemah, penyunting bahu-membahu untuk menghasilkan naskah dengan keterbacaan tinggi. Bila rendah, harus diubah, atau minimal membuatnya lebih mudah. Tapi itu pun bukan harga mati. Keterbacaan sebagian karya memang rendah. Misal Finnegan's Wake (James Joyce) atau puisi Afrizal Malna dan Nirwan Dewanto. Mau apa kita dengan naskah seperti itu? Mau berkompromi? Di ranah nonfiksi juga sama. Aku pernah berusaha baca The Uses of Literacy (Richard Hoggart) yang konon penting, tapi hanya sedikit sekali yang aku paham dari pemaparannya. Kemungkinannya ialah otakku terlalu tebal terhalang kabut. Susah memahami membuat orang jadi mudah frustrasi.

Seorang penyunting lain mendapat kasus serupa, mengeluhkan buruknya bahasa yang dia garap, sampai merasa bahwa tawaran honornya terlalu kecil untuk menangani naskah menyebalkan seperti itu. Aku setuju. Karena menyita energi, emosi, bikin frustrasi, kompensasi menggarapnya harus sepadan. Penerbit bagus biasanya bisa diajak bicara tentang seberapa jauh tingkat kesulitan editing yang dilakukan editornya, terutama editor outsource. Mereka biasanya minta bukti (sampel). Kalau sepakat bahwa naskah itu memang sulit, mereka setuju menaikkan honor---sesedikit apa pun itu.

Kalau setiap hari menemukan kalimat kacau, manusia akan jadi cepat lapuk. Ada yang salah bila kita gagal menangani kesulitan berbahasa, menangkap pesan dengan jernih, atau mengungkapkan dengan baik. Di dalam Writing Tools (2006), Roy Peter Clark mensinyalir malapetaka dari konsekuensi tulisan buruk, baik untuk bisnis, profesi, pendidik, konsumen, dan warga negara. Buruknya tulisan dalam laporan, memo, pengumunan, dan pesan menguras biaya dan waktu. Itu merupakan gumpalan darah di lembaga politik dan pemerintahan. Membuat arus informasi mampat. Masalah penting terus mengendap dan tertutup. Kesempatan untuk perbaikan dan efisiensi tetap terkubur (hal. 7-8).

Tulisan sulit membuat pembaca kepayahan. Padahal tujuan membaca dan menulis ialah kefasihan, mengungkapkan maksud secara jernih dan lancar. "Tulisan juga harus mengalir dengan lancar dari penulis. Idealnya memang seperti itu," tegas Clark.

Aku bukan hendak memuliakan editor atau memberat-beratkan tugasnya. Seperti aku bilang, profesi ini sama dengan profesi lain. Ia memiliki tantangan dan kesulitan sendiri. Jadi editor mungkin mustahil membuat kamu mati luka-luka seperti tentara tertembak di medan perang. Tapi kamu bisa gila kalau gagal menangani kalimat kacrut yang bikin akal dan logika jadi putus asa.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141