Tuesday, November 09, 2010


Kartu Efek Domino Lalang
---Anwar Holid

Kesenangan terbaru Ilalang (10 tahun) ialah menyusun kartu hingga jadi rangkaian tertentu, lantas dirobohkan menjadi efek domino yang dramatik. Dia bisa menyusun kartu berpuluh-puluh menit baik dalam posisi tegak dan melintang---caranya dengan dilengkungkan sebelumnya---ditambah variasi antara lain berupa lorong, rangkaian bunga, memadukannya dengan tambahan buku, tanjakan, juga bisa dengan efek saling bertabrakan. Untung dia punya koleksi kartu yang amat banyak, bekas mainan favoritnya dulu, jadi rangkaian kartu itu bisa mengular panjang mengelilingi ruang.

Beberapa hari lalu dia tanya, "Yah, aku boleh pinjam kartu nama ayah enggak?"
"Buat apa?"
"Buat tambahan kartu Lalang."
Aku menjawab dengan mengambil segepok kartu nama yang cetakannya buruk. Aku sampai sungkan bila terpaksa memberi kartu itu ke rekanan baru. Sekarang ada manfaatnya. Aku berikan semua kartu itu ke dia; dan aku akan segera bikin yang baru. Kartu Ilalang tambah banyak dan itu menambah efek dramatik dalam kehancuran kartu-kartunya.

Kalau sudah mulai menyusun kartu, dia tahan berlama-lama tanpa ribut sama sekali. Konsentrasinya penuh, dan imajinasinya tentang efek domino sangat macam-macam. Dia sekarang bahkan sedikit lupa dengan game Command & Conquer yang suka dimainkan sehabis sekolah atau kalau diizinkan ibunya; dia juga jadi mengabaikan ngelayap berlama-lama dengan sepedanya.
 

Aku enggak tahu kapan persisnya dia mulai suka permainan itu atau dia dapat ide dari mana. Aku pernah tanya, tapi jawabnya cuma, "Dari video." Sebelumnya dia sempat tanya-tanya ke aku apa itu domino, di mana bisa dibeli, apa bahannya, dan seterusnya. Jawabanku jelas membuat dia mengira bahwa domino itu mahal, dan mustahil ayah atau ibunya bakal mau membelikan barang seperti itu. Tapi daya kreatifnya ternyata terus jalan. Dia memanfaatkan kartu-kartu yang dulu pernah digila-gilainya untuk diubah fungsi. Dulu dia menggunakan kartu untuk mengadu. Aku sendiri agak heran bagaimana dia akhirnya bisa mengumpulkan kartu sebanyak itu. Dia bilang itu dapat dari menang bertarung. Sudah lama ratusan kartu itu tampak dia lupakan, sampai akhirnya kini jadi berguna lagi.

Ilalang sangat menikmati saat mulai menyusun rangkaian dan mengembangkan imajinasi kira-kira akan seperti apa efek robohnya. Jadi saat yang dia nantikan ialah merobohkan kartu terakhir dan memperhatikan efeknya seperti apa.

Tapi jangan ditanya kalau sedang merangkai tiba-tiba kartunya tumbang sebelum waktunya, dia akan sangat ngambek. Apalagi kalau jatuhnya karena hentakan angin dari seseorang yang lewat. Wah, dia bisa nangis, marah, dan mengadu. Jadinya kelihatan rewel sekali. Huh, khas anak-anak saja.

Bagi Ilalang, kegiatan ini menyenangkan dan menenangkan. Bahkan mungkin merupakan segala-galanya. Sebuah kebahagiaan sederhana bagi anak-anak.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

Copyright © 2010 oleh Anwar Holid

No comments: