Saturday, November 20, 2010


[REVIEW]
The Guru Behind the Axe
---Anwar Holid

Black Swans and Wormhole Wizards (album studio)
Musisi: Joe Satriani
Rilis: Oktober 2010 
Rekaman: Skywalker Sound, California, Amerika Serikat, 2010 
Durasi: 53:23 menit (11 track)
Label: Epic/RED
Genre: rock instrumental, hard rock
Produser: Mike Fraser & Joe Satriani
Rating: ***


Apa sebenarnya daya tarik rock instrumental bila sebagian musisi rock mutakhir telah menemukan genre post-rock yang mengksplorasi wilayah itu secara gila-gilaan? Apalagi rock instrumental dari dulu tipikalnya sangat bergantung pada permainan gitar? Ambil contoh "Brighton Rock" dari Queen, sebuah lagu yang memberi kesempatan sehebat-hebatnya kepada Brian May, gitaris mereka, untuk unjuk kepiawaian dan sebentar mengistirahatkan ketiga personil lain. Post-rock tidak mengistimewakan gitaris, dan justru memberi keleluasaan para anggotanya untuk menciptakan suasana yang cenderung psikedelik tanpa harus dibatasi oleh interpretasi terhadap lirik.

Tapi nyatanya genre instrumental rock tetap bertahan dan hingga kini secara konsisten melahirkan dewa-dewanya---terlebih-lebih gerakan yang dikomandani para gitaris utama (lead guitarist). Di antara para dewa itu tersebutlah nama Joe "Satch" Satriani yang reputasinya satu tingkat di atas mereka sebab beliau bergelar "Profesor Satchafunkilus" dan sudah lama dikenal sebagai mahaguru para dewa gitar itu. Kirk Hammett, Alex Skolnick, dan Paul Gilbert hanyalah sedikit dari muridnya yang sangat menonjol di kelas masing-masing, begitu juga muridnya yang terkenal lebih flamboyan dan atraktif bernama Steve Vai. Bila para muridnya sudah pada jago dan malang melintang menguasai dunia persilatan, apa perlu sang guru juga turun gunung? Mau membuktikan apa lagi dia bila tetap bersikeras ingin unjuk kebolehan? Barangkali ada pendekatan lain atau jurus baru yang hendak dia perlihatkan, bahwa dia terus berusaha inovatif dan dinamik.

Black Swans And Wormhole Wizards merupakan album yang dirilis sang mahaguru setelah dirinya bergabung dengan para veteran hard rock dalam supergrup Chickenfoot. Grup ini terbilang sukses sebab di Amerika Serikat saja album debut mereka terjual lebih dari 500 ribu kopi. Sejumlah pengamat menilai bahwa Satch melakukan pendekatan cukup lain dalam Chickenfoot, karena dia harus mengiringi vokalis untuk bernyanyi dan membangkitkan emosi, sementara pemain bas dan drummer mereka pun harus mendapat ruang setara. Pendekatan seperti itu konon terbawa lagi dalam Black Swans And Wormhole Wizards, meski tentu saja unsur vokal dan lirik dihapus bersih-bersih dari sini. Untuk proyek album ini Satch mengatur ulang studio dan peralatannya demi mendapatkan sound dan chemistry yang hebat di antara pendukungnya.

Hasilnya ialah mirip pertemuan antara album Joe Satriani dengan Strange Beautiful Music yang soulful, melodius, bluesy, enggak mengumbar efek atau teknologi berlebihan, cenderung minimalis, namun justru mencari sound yang dalam, catchy, serta mampu melahirkan efek emosional. Satch kembali ke pola lama yang terbilang tradisional dalam menjelajahi musik rock, sederhana, dan langsung menggebrak, sementara di tengah-tengah itu dia mengeksplorasi kekuatan dan kekhasannya di setiap track. "Premonition", sebagai track pembuka, menggambarkan itu dengan baik. Lagu ini dinamik, mampu membuat pendengar melonjak-lonjak, dan penuh dengan sayatan dan kocokan gitar yang menggairahkan. Unsur bluesy dan balada misalnya terungkap pada "Littleworth Lane", "Two Sides To Every Story", "The Golden Room", serta track pamungkas, "God Is Crying." Sisi simpel Satch hadir dalam nomor "Solitude" dengan memanfaatkan echo dan sentuhan sederhana, meskipun durasinya terasa terlalu singkat.

"Wind In The Trees", selain menjadi track terpanjang (berdurasi lebih dari 7 menit) bagi saya terdengar begitu sempurna dan karena itu mungkin bisa dibilang merupakan track terbaik di album ini. Lagu bertempo lambat ini seakan-akan mengumpulkan semua chemistry dan penjiwaan seluruh musisi pendukung yang terlibat dalam album ini, yaitu Allen Whitman (bass), Mike Keneally (keyboards), dan Jeff Campitelli (drums & perkusi). Keindahannya terletak pada harmoni antara gitar dan keyboards yang lama, intens, dan saling timpal sampai menjelang akhir lagu. Sangat melodius sekaligus emosional.

Di zaman post-rock, rock instrumental memang jadi terasa usang dan terkesan jadi pertunjukan perseorangan, bahkan bila itu merupakan karya sang mahaguru sekalipun---meski komentar ini mungkin sulit diterima dan bisa jadi gegabah di mata penggemar umum musik rock. Album seperti ini tetaplah kelanjutan dari formula-sukses-khas Satriani. Dia misalnya menolak merambah musik klasik atau orkestra sekadar untuk mengayakan khazanah, sebagaimana telah dilakukan Uli Roth, Vai, ataupun Malmsteen. Sementara mengubah instrumentasi jadi bernuansa post-rock juga berisiko dikecam lantaran latah dan belum tentu sukses. Satch lebih suka sedikit menoleh pada musik etnik (terutama dari wilayah Arab dan Afrika) atau mengentalkan unsur musik blues. Itu merupakan sikap dan pilihan sang profesor. Wajar bila sebagian orang tetap sulit menerima rock instrumental sebab jenis ini tidak menawarkan interpretasi lirikal. Dalam kasus aura musik Profesor Satch, dia menyodorkan imajinasi yang cenderung sci-fi dan futuristik, selain terasa sensasional.

Karena itu lebih menarik mengungkap sisi lain kesuksesan Black Swans and Wormhole Wizards. Di negeri Abang Sam, album ini terjual 10.000 kopi pada minggu pertama rilisnya, bertengger di urutan no. 45 daftar The Billboard 200. Rekor tersebut menjadi posisi pembukaan tertinggi bagi catatan penjualan album sang mahaguru dalam rentang karir musiknya yang panjang. Artinya album studio ke empat belas beliau ini masih diminati para umat penikmat musik rock dan jelas akan digalakkan lagi di panggung konser.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Copyright © 2010 oleh Anwar Holid

1 comment:

posicionamiento web said...

I totally match with anything you have written.