Monday, November 01, 2010


[REVIEW ALBUM]
A Thousand Suns: Album Politis Linkin Park
---Anwar Holid

A Thousand Suns (album studio)
Band: Linkin Park
Produser: Rick Rubin, Mike Shinoda
Rilis: 8 September 2010
Proses rekaman: 2008-2010 
Genre: Alternative rock, nu-metal
Durasi: 47:56  (15 track)
Label: Warner Bros.
Rating: ****


Setelah bertindak cukup drastik di album Minutes to Midnight (2007), Linkin Park kembali mengambil inisiatif mengejutkan di A Thousand Suns, album studio ke empat mereka. Mereka membuat album konsep. Ini merupakan langkah ambisius dan berani bagi band yang sudah sangat hype, bahkan dianggap sebagai salah satu band terdepan dan tipikal nu-metal yang masih eksis namun tengah menghadapi tantangan besar karena genre ini terdengar mulai usang dan sebagian eksponennya mengalami kesulitan mengikuti perkembangan zaman. Di titik ini, Linkin Park bisa dianggap jadi komandan bagi genre rock/alternatif yang bisa bertahan dengan baik di medan peperangan industri musik, bahkan kini kembali menguasai jalannya pertempuran.

Seperti apa konsep di album ini? Mike Shinoda menyatakan, "Bila orang membayangkan album konsep, aku kira mereka membayangkan suatu kisah tertentu---nyaris seperti opera rock atau sesuatu yang bercerita tentang kisah tertentu, mulai dari konflik dan berakhir dengan resolusi. Kami merasa tampaknya pandangan seperti itu bakal sedikit mengekang. Jadi kami memutuskan akan membiarkan konsep itu sebagaimana yang ingin kami bicarakan, lantas membuatnya sedikit lebih abstrak dan lepas." Dalam wawancara dengan MTV, dia menambahkan, "Di album ini, konsepnya ialah gabungan antara gagasan manusia dengan teknologi."

A Thousand Suns merupakan metafora untuk ledakan bom atom. Album ini secara keseluruhan bicara tentang perang nuklir, militerisme, kehancuran, juga efek peperangan pada manusia. Boleh dibilang ini album politis. Maka bebunyian ledakan hebat, dentuman, derit kekacauan, rentetan tembakan, derap pasukan tengah melakukan penyergapan, kericuhan di medan perang, suasana chaos, teriakan marah, jeritan putus asa, suasana panik dan menderu-deru, juga makian kekesalan amat terasa di sini.

Album konsep idealnya didengar dari awal hingga akhir tanpa jeda. Linkin Park mengawali album ini dengan lagu kematian ("The Requiem") yang meski bertempo lambat dan bernada murung, tapi tetap optimistik:
God save us
everyone will be burn
inside the fires of a thousand suns


Lantas dilanjutkan dengan dentuman besar diiringi pernyataan ancaman akan munculnya perang nuklir, berasal dari ucapan Robert Oppenheimer, Direktur Proyek Bom Atom Los Alamos (1943-1945) dan Komisi Energi Atom Amerika Serikat (1946-1953), yang mengutip ucapan Wishnu di Bhagawad Gita: "Now I am become Death, the destroyer of worlds."

Dua intro itu menjebloskan pendengar pada intensitas situasi perang, para tentara yang terhadang kematian, betapa mereka jadi seperti robot yang sudah diprogram melaksanakan perintah untuk mengakhiri kehidupan, meskipun dahulu mereka cinta damai. Semua orang terancam keselamatannya. Tambah lama suasana semakin kacau. Dua lagu di pertengahan album ini menggambarkan situasi dengan sangat emosional. "Blackout" dan "Wretches And Kings" benar-benar penuh dengan kegaduhan bertempo cepat yang muncul dari semua instrumen, terutama turntable, distorsi gitar, dan derap drum; sementara duet Chester Bennington dan Shinoda mewartakan kehancuran dengan hebat. Resolusi di album ini berlangsung dengan mulus; situasi kembali damai, masa-masa gawat telah lewat, dan meyakinkan bahwa ke depan akan lebih selamat. Untuk itu mereka menawarkan lagu bertempo sedang dan balada yang kuat, terutama "The Messenger" yang jadi track penutup; di situ Brad Delson memainkan gitar akustik dengan perlahan-lahan. "Secara harfiah, lagu ini sebenarnya surat kepada anak-anakku betapa aku mencintai mereka," ungkap Bennington pada Yahoo!News. Lagu ini kalem, dalam, dan kembali optimistik:
When life leaves us blind
Love, keeps us kind!
When life leaves us blind
Love keeps us kind!


Kekuatan vokal Bennington menjadi pusat emosi album ini. Dia berteriak, meradang, menjerit, ngotot, sekaligus menyanyi dengan energi dan emosi yang kental. Mereka juga mengambil kekuatan aktivisme dari orasi Mario Savio dan Martin Luther King, Jr. yang menggugah. Secara musikal mereka berbalik lagi ke rap-metal dengan haluan cukup besar; kembali ada banyak sound bites dan berbagai manipulasi bebunyian. Satu-satunya lagu yang disertai solo gitar cukup menonjol hanya "Iridescent." Shinoda kembali banyak ngerap untuk menguatkan situasi, seperti muncul dalam "The Catalyst" dan "Waiting For The End" yang berturut-turut mereka lempar sebagai single dari album ini.

Selama hampir satu jam, A Thousand Suns menjadi karya yang bisa dinikmati secara utuh dan kuat. Mungkin belum sehebat The Dark Side of The Moon (Pink Floyd) atau seberani Radiohead saat bereksperimen dalam Kid A, namun Linkin Park maju selangkah lagi ke jenjang yang lebih dewasa dari tingkat sebelumnya. Ini memuaskan, patut dipuji dan dihargai.[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

3 comments:

divansemesta said...

Kalau di kompas biasanya saya suka Budiarto Shambazzy ketika mereview Music Legend, btw kenapa Mas Anwar nggak coba 'meng-invasi' rolling stone indonesia, review-nya Mas Anwar menarik loh.

[HALAMAN GANJIL] and TEXTOUR said...

makasih. aku juga favorit juga sama tulisan budiarto shambazy. tapi kata seorang jurnalis musik lain, dia udah karatan. pengetahuannya klise. kalau kamu terbiasa baca majalah musik barat, tulisan budiarto merupakan padu-padan dari berbagai sumber yang sangat halus.

kadang-kadang aku ingin kirim tulisan tentang musik media seperti itu, tapi mungkin belum waktunya. suatu hari insya allah akan aku coba.

divansemesta said...

Wah angkat tangan deh untuk Budiarto itu, yang jelas sy masih ngerasa tulisannya cocok untuk sy, nggak tau kedepannya (mungkin kalau teknik menulis dan pengetahuannya nggak ditambah-tambah juga) bisa jadi sy juga bakal nggak suka lagi nantinya.

Kasusnya sy pikir sama dengan tulisan Samuel Mulia di Kompas. Dulu sekali sy suka, sekarang nggak sama sekali. Bukan masalah etik yang berbeda dengan etiknya saya tapi lebih karena beputar-putar terus di hal yang sama. Kalau kata orang sunda bilang Mulikbek.

Rolling stone Indonesia, dan luar juga kayanya isunya di situ-situ aja. Malah sy pikir Playboy Indonesia (diluar pro kontra) essai essainya bagus.

Nampaknya para penulis, artist harus hidup di bawah gunung Vesuvius ya, atau di bawah merapi supaya nggak stagnan dan nggak membosankan. Pekerjaan yang berat.

Btw, karna resensi mas juga saya langsung cabut ke 4shared.com. Emang format A thousand suns beda banget sama format yang dulu. Seengaknya mereka udah sadar kalau segala sesuatu itu punya umur. termasuk genre musik dan kalau pun ada siklus tentu siklusnya harus lebih bagus, lebih berwarna dari sebelumnya. Begitulah.