Monday, May 06, 2013

Dari ki-ka: Erlan Primansyah, Rosidayati Rozalina, Zamzami

Mengembangkan Ekosistem Industri Buku Indonesia 
---Anwar Holid

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2013 penerbit Remaja Rosdakarya melakukan sosialisasi e-book untuk penulis sekaligus melakukan rilis ebook di Google Play. Mayoritas dihadiri rekanan penerbit yang sudah berusia 52 tahun itu, para penulis dalam berbagai tanggapannya menyambut antusias rencana tersebut. Bukan saja karena mereka berpeluang mendapat tambahan royalti dari penjualan ebook, melainkan karena dunia ebook membuka banyak kesempatan, termasuk menghidupkan lagi buku yang "mati", out of print, maupun mendapatkan kembali buku penting yang dibutuhkan.

Direktur Utama Rosdakarya Rosidayati Rozalina menyatakan bahwa ebook tak terhindarkan bagi penerbit. Tiap tahun pasar ebook membuktikan gejala terus meningkat, teknologi informasi semakin canggih, dan jumlah penggunanya membuka pangsa pasar yang terus membesar. Karena itu pada 2013 ini Rosda memutuskan memasuki babak baru, yaitu menerbitkan dan membuka toko buku digital lewat layanan e-Rosda. Layanan ini akan secara resmi diluncurkan pada 18 Mei 2013 saat penerbit Rosda merayakan ulang tahun ke-52.

Ebook tidak butuh kertas, tapi tetap butuh biaya untuk mendevelopnya, termasukjasa tambahan lain seperti membuat enkripsi, animasi, survey, dan metadata. Keamanan ebook, dari isi hingga proses jual-belinya, menjadi faktor sangat penting baik bagi penerbit dan pembaca, apa lagi di Indonesia yang tingkat pembajakannya tinggi, termasuk di dunia cyber.

Erlan Primansyah dari Techbator yang menjadi mitra utama Rosda dalam bisnis ini menjelaskan pihaknya ingin mengembangkan ekosistem perbukuan, mau diapakan ebook ini, keterjangkauan, kemudahan, serta bagaimana membangun industrinya agar sesuai dengan platform dan kondisi teknologi di Indonesia yang tergolong belum sangat maju bila dibandingkan banyak negara lain. Dia yakin ke depan para penerbit Indonesia yang masuk dunia ebook bukan berebut market share, melainkan membesarkannya, karena pasar dan penggunanya terus tumbuh. Sejumlah penerbit umum dan perguruan tinggi disebut-sebut juga telah siap memasuki kancah ini. Berdasar survey, Erlan menegaskan ebook bukanlah substitusi, melainkan komplementer untuk print book.


Direktur Penerbitan Rosda Zamzami Djahuri menginformasikan bahwa ebook bisa membuka pasar internasional bagi penulis Indonesia. Dia menyebut ada 80.000 perpustakaan di dunia yang tertarik membeli ebook, kalau menarik. Belum lagi kemungkinan terjadi jual-beli copyrights. Fakta ini diamini Aan Merdeka Permana, seorang penulis fiksi-sejarah asal Bandung. Beliau menyebutkan buku-bukunya suka dibeli oleh perpustakaan luar negeri, terutama Belanda. Sementara dia juga berniat menerbitkan lagi karya-karyanya yang sudah kembali hak ciptanya dan suka dicari-cari orang karena tidak tersedia lagi di toko buku biasa.

Pasar ebook memang tampak masih labil. Tipikalnya harga ebook bisa 30 % lebih murah dari print book. Tapi banyak pula pembaca yang suka gratis dulu, baru setelah yakin menarik, mereka mau beli. Namun dalam kasus tertentu ketika tidak ada versi print booknya, harga ebook malah bisa lebih mahal. Fakta membuktikan begitu sebuah judul ebook laris, versi printnya pasti dicari-cari pembaca dan segera akan muncul, baik lewat penerbitan biasa maupuan print on demand (POD). Untuk penulis, pihak Rosda menawarkan royalti antara 14 - 19 %, lebih besar dari royalti biasa antara 8 - 10 %.

Didirikan oleh Rozali Usman pada tahun 1961, penerbit Rosda menonjol di dunia buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Mayoritas bukunya ditulis oleh guru besar dan terkemuka di bidangnya, antar lain Jalaluddin Rakhmat, Deddy Mulyana, A. Chaedar Alwasilah, dan Ahmad Tafsir.[]

Link terkait:
www.rosda.co.id

No comments: