Showing posts with label Musik. Show all posts
Showing posts with label Musik. Show all posts
Tuesday, April 14, 2015
Murid Ambisius Ketemu Guru Killer
--Anwar Holid
WHIPLASH
Sutradara: Damien Chazelle | Penulis: Damien Chazelle | Produser: Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster | Distribusi: Sony Pictures Classics | Tahun rilis: 2014 | Durasi: 106 menit |
Pemain: Miles Teller (Andrew), J. K. Simmons (Fletcher), Paul Reiser (ayah Andrew), Melissa Benoist (pacar Andrew)
Whiplash ialah sebuah film drama produksi Amerika Serikat, persisnya diinisiasi sejak dari Sundance Film Festival. Tidak ada agama di film ini, apa lagi soal Islam, terorisme, maupun Syiah.
Ini film tentang dunia pendidikan, persisnya interaksi antara guru dan murid. Ceritanya mengisahkan bagaimana Andrew, seorang murid sekolah musik jurusan drum, bersinggungan dengan Fletcher, guru sekaligus dirijen band sekolah tersebut. Andrew ambisius dan disiplin, sementara Fletcher sangat killer dan perfeksionis. Keduanya sepadan bersaing dan adu kuat-kuatan.
Andrew dengan semangat penuh mendorong dirinya agar bisa mencapai standar sempurna yang diinginkan Fletcher, tak peduli sampai badannya sakit, tangannya cedera, bahkan dengan dingin memutuskan pacarnya biar bisa fokus main musik. Tapi begitu Fletcher dia nilai berbuat semena-mena, tak menghargai kerja keras, dan kemampuannya, dia berani berkata jujur dengan lantang, menantang, dan akhirnya melawan. Akhirnya murid dan guru itu berkelahi. Ujungnya, Andrew di keluarkan dari sekolah, sementara Fletcher dipecat jadi guru.
Klimaks film ini sangat dramatis, sementara endingnya bikin aku termenung. Ia meletupkan pertanyaan tentang pendidikan, pilihan, ambisi, persaingan, berdisiplin memupuk bakat, bagaimana harus latihan, juga memotivasi seseorang. Perlukah seseorang begitu keras berlatih, ditekan sampai melampaui batas dan akurasi demi mencapai kesempurnaan? Atau kesempurnaan bisa terwujud begitu saja bila memang sudah dikehendaki oleh takdirnya? Beruntung, Andrew dan Fletcher bukan orang cengeng yang suka meratapi nasib. Mereka berdua bertemu, berhadap-hadapan, merasa menuju tujuan yang sama, meski caranya berbeda.
Menurutku, film ini setingkat lebih bagus dari Dead Poets Society (1990)---sebuah film klasik lain yang sama-sama mengusung tema tentang sekolah, pendidikan, dan nilai keluarga. Cara penuturan film ini lebih dramatik, sementara konfliknya sangat kuat dan bikin tegang. Alasan lain, film ini menonjolkan karakter individualitas, bukan kolektivitas. Penonton bisa belajar berani berkata jujur, seburuk apa pun konsekuensinya.
Whiplash merupakan sebuah film yang sangat pantas ditonton siapapun, baik bareng-bareng sekeluarga, orangtua, guru, murid, dan mereka yang suka musik, terutama jazz.[]
Link terkait: http://bit.ly/1ypD16e
Labels:
[halaman ganjil],
Anwar Holid,
drama,
drummer,
film review,
jazz,
Murid Ambisius Ketemu Guru Killer,
Musik,
pendidikan,
Review,
sekolah,
simpel review,
Whiplash (2014)
Thursday, May 30, 2013
Bintang yang Terlalu Cepat Menghilang
--Anwar Holid
Grace Around The World
Musisi: Jeff Buckley
Jenis: DVD musik
Rilis: 2 Juni 2009
Rekaman: November 1994 - Juli 1995
Genre: Rock, Alternatif Rock, Folk Rock
Label: Columbia
Produser: Mary Guibert, Tony Faske
Menyaksikan musisi yang mati muda di awal karir dan baru terkenal setelahnya kerap membuat kita merasa antara miris dan nelangsa, sebab seolah-olah kreativitas, kehebatan kinerja, dan pencapaian itu jadi sia-sia, tidak bisa dinikmati keberhasilannya oleh diri sendiri, melainkan oleh ahli warisnya atau publik secara luas. Apa kondisi ini patut disayangkan?
Meski dipuji habis-habisan dan mendapat penghargaan baik dari banyak media musik dan media massa umum, satu-satunya album studio Jeff Buckley---Grace (1995)---sebenarnya hanya sedikit terjual waktu dirilis dan itu membuat lagu-lagunya terbatas pula mendapat kesempatan diudarakan di banyak radio. Tapi barangkali kualitas memang tidak bohong dan media pelan-pelan akhirnya berhasil mempengaruhi jutaan massa di luar sana bahwa album itu memang benar-benar "sesuatu." Hasilnya? Banyak orang menyesal kenapa mereka dulu lolos melewatkan begitu saja album ini sejak pertama kali kelar. Di sisi lain, para pendengar jadi begitu penasaran seperti apa penampilannya di konser selama promosi dan tur album tersebut.
Grace Around The World merupakan DVD berisi penampilan live dan dokumentasi Jeff Buckley bersama band semasa mempromosikan Grace. Sebagai musisi muda yang albumnya tidak meledak, Jeff Buckley masih cukup beruntung mendapat kesempatan serta dukungan label dan promotor untuk tur di berbagai belahan dunia, terutama Eropa. Wajar bila di awal-awal DVD ini, Jeff dan kawan-kawan tampil di cafe kecil yang penontonnya pun bahkan masih bisa memesan minuman, karena sama sekali tidak penuh. Dia hanya diperhatikan sejumlah penonton muda yang tampak khusuk menyimak nada-nada tinggi dari gitar dan vokal Jeff. Tapi satu hal, Jeff dan tiga kawannya: Michael Tighe (gitar), Mick Grondahl (bass), dan Matt Johnson (drums) tetap bermain dengan pol. Ini sungguh mengharukan, betapa dirinya memperlihatkan etos sebagai musisi yang berdedikasi dan disiplin, meski peralatannya standar dan krunya tak kelihatan. Soundnya jernih dan rapi, bahkan iringan rhythm bass dan drumsnya pun terdengar bergelora. Mereka main penuh perasaan, bertenaga, tak peduli penonton sedikit. Penampilannya di konser besar ialah gig bersama yang diselenggarakan MTV dan VH1.
Di antara konser ke konser, DVD diselipi dokumentasi obrolan dengan seorang host wanita terutama mengenai isi lagu-lagunya dan pandangan artistik dan spiritualnya, juga keseharian tur. Jeff berkali-kali menyatakan bahwa dirinya tidak mau berpura-pura, baik dalam kehidupan sehari-hari dan di panggung. Mungkin itu membuat penampilannya tidak mencolok berubah ketika di panggung. Sebagai musisi yang masuk kategori genre "alternatif rock", penampilannya sangat mencerminkan semangat zaman tersebut, yaitu pakaian casual dan bersahaja. Yang membedakan Jeff Buckley mungkin rujukan musikalnya. Dia cukup terpengaruh musik Qawwali (musik puji-pujian Islam dari Pakistan) dan penggemar berat Nusrat Fateh Ali Khan. Itu yang menyebabkan dia mengeksplorasi lolongan ekspresi vokal yang bisa dibilang jarang dilakukan musisi sealirannya. Penampilan dalam "Mojo Pin" dengan baik memperlihatkan itu, bahkan durasinya pun dibuat lebih lama dari versi aslinya. Bisa jadi lagu cover dia yang begitu legendaris dan brilian, "Hallelujah", diaransemen sangat hening dan "dalam" karena terpengaruh musik religius seperti itu.
Menonton Grace Around The World ialah seperti menyaksikan seorang bintang yang sinarnya redup karena terlalu cepat menghilang. Jadinya mengharukan. Kita sadar dia belum terkenal, namun tahu bahwa dirinya telah jadi legenda. DVD ini memperlihatkan betapa bakat dan pencapaian Jeff Buckley yang belum berkembang maksimal sesungguhnya sudah mulai mekar berkat eksplorasi dan disiplin yang dilatih setiap hari, baik dalam hidup sehari-hari maupun penampilan rutin di cafe tempat mangkalnya, Cafe Sin-é.[]
Ilustrasi dari Internet.
DVD Grace Around The World bisa ditonton atau disewa di Kineruku, Bandung.
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
--Anwar Holid
Grace Around The World
Musisi: Jeff Buckley
Jenis: DVD musik
Rilis: 2 Juni 2009
Rekaman: November 1994 - Juli 1995
Genre: Rock, Alternatif Rock, Folk Rock
Label: Columbia
Produser: Mary Guibert, Tony Faske
Menyaksikan musisi yang mati muda di awal karir dan baru terkenal setelahnya kerap membuat kita merasa antara miris dan nelangsa, sebab seolah-olah kreativitas, kehebatan kinerja, dan pencapaian itu jadi sia-sia, tidak bisa dinikmati keberhasilannya oleh diri sendiri, melainkan oleh ahli warisnya atau publik secara luas. Apa kondisi ini patut disayangkan?
Meski dipuji habis-habisan dan mendapat penghargaan baik dari banyak media musik dan media massa umum, satu-satunya album studio Jeff Buckley---Grace (1995)---sebenarnya hanya sedikit terjual waktu dirilis dan itu membuat lagu-lagunya terbatas pula mendapat kesempatan diudarakan di banyak radio. Tapi barangkali kualitas memang tidak bohong dan media pelan-pelan akhirnya berhasil mempengaruhi jutaan massa di luar sana bahwa album itu memang benar-benar "sesuatu." Hasilnya? Banyak orang menyesal kenapa mereka dulu lolos melewatkan begitu saja album ini sejak pertama kali kelar. Di sisi lain, para pendengar jadi begitu penasaran seperti apa penampilannya di konser selama promosi dan tur album tersebut.
Grace Around The World merupakan DVD berisi penampilan live dan dokumentasi Jeff Buckley bersama band semasa mempromosikan Grace. Sebagai musisi muda yang albumnya tidak meledak, Jeff Buckley masih cukup beruntung mendapat kesempatan serta dukungan label dan promotor untuk tur di berbagai belahan dunia, terutama Eropa. Wajar bila di awal-awal DVD ini, Jeff dan kawan-kawan tampil di cafe kecil yang penontonnya pun bahkan masih bisa memesan minuman, karena sama sekali tidak penuh. Dia hanya diperhatikan sejumlah penonton muda yang tampak khusuk menyimak nada-nada tinggi dari gitar dan vokal Jeff. Tapi satu hal, Jeff dan tiga kawannya: Michael Tighe (gitar), Mick Grondahl (bass), dan Matt Johnson (drums) tetap bermain dengan pol. Ini sungguh mengharukan, betapa dirinya memperlihatkan etos sebagai musisi yang berdedikasi dan disiplin, meski peralatannya standar dan krunya tak kelihatan. Soundnya jernih dan rapi, bahkan iringan rhythm bass dan drumsnya pun terdengar bergelora. Mereka main penuh perasaan, bertenaga, tak peduli penonton sedikit. Penampilannya di konser besar ialah gig bersama yang diselenggarakan MTV dan VH1.
Di antara konser ke konser, DVD diselipi dokumentasi obrolan dengan seorang host wanita terutama mengenai isi lagu-lagunya dan pandangan artistik dan spiritualnya, juga keseharian tur. Jeff berkali-kali menyatakan bahwa dirinya tidak mau berpura-pura, baik dalam kehidupan sehari-hari dan di panggung. Mungkin itu membuat penampilannya tidak mencolok berubah ketika di panggung. Sebagai musisi yang masuk kategori genre "alternatif rock", penampilannya sangat mencerminkan semangat zaman tersebut, yaitu pakaian casual dan bersahaja. Yang membedakan Jeff Buckley mungkin rujukan musikalnya. Dia cukup terpengaruh musik Qawwali (musik puji-pujian Islam dari Pakistan) dan penggemar berat Nusrat Fateh Ali Khan. Itu yang menyebabkan dia mengeksplorasi lolongan ekspresi vokal yang bisa dibilang jarang dilakukan musisi sealirannya. Penampilan dalam "Mojo Pin" dengan baik memperlihatkan itu, bahkan durasinya pun dibuat lebih lama dari versi aslinya. Bisa jadi lagu cover dia yang begitu legendaris dan brilian, "Hallelujah", diaransemen sangat hening dan "dalam" karena terpengaruh musik religius seperti itu.
Menonton Grace Around The World ialah seperti menyaksikan seorang bintang yang sinarnya redup karena terlalu cepat menghilang. Jadinya mengharukan. Kita sadar dia belum terkenal, namun tahu bahwa dirinya telah jadi legenda. DVD ini memperlihatkan betapa bakat dan pencapaian Jeff Buckley yang belum berkembang maksimal sesungguhnya sudah mulai mekar berkat eksplorasi dan disiplin yang dilatih setiap hari, baik dalam hidup sehari-hari maupun penampilan rutin di cafe tempat mangkalnya, Cafe Sin-é.[]
Ilustrasi dari Internet.
DVD Grace Around The World bisa ditonton atau disewa di Kineruku, Bandung.
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
Monday, November 05, 2012
Puber ke Dua Mendengar Musik
---Anwar Holid
Aku praktis berhenti membeli album beberapa tahun sebelum kematian mantan Presiden Suharto di awal tahun 2008. Waktu itu aku menjual sekotak koleksi terakhir kasetku buat beli sembako. Yang tersisa dari koleksiku adalah kaset atau cd yang mungkin tidak punya nilai jual, kebanyakan berupa album tanpa sleeve atau rekaman kopian karena waktu itu aku sangat kesulitan mendapat yang asli atau terlalu malas untuk beli, juga rekaman yang masuk dalam kategori "rare". Setelah penjualan itu, keinginanku untuk membeli rekaman nyaris hilang dengan sendirinya. Memang sesekali aku dihadiahi rekaman cd oleh kawan dan kenalan, atau dalam kesempatan yang sangat jarang aku beli rekaman ketika berada di kota lain. Belinya pun tidak lagi di toko musik, melainkan di toko oleh-oleh---tempat yang dari dulu kuanggap kurang pantas menjual rekaman.
Tapi meski begitu aku tetap antusias mendengar musik, menyimak album, membaca rilisan baru, atau memperhatikan berita musik. Kali ini medianya mayoritas berasal dari Internet. Sebenarnya, ini tampak sebagai kelanjutan dari kebiasaanku mencari musik-musik susah di awal tahun 2000-an, ketika aku punya akses Internet bagus. Terus terang, untuk alasan tertentu sejak itu aku pilih mendengar album via mp3 atau mwa. Ketika itu aku masih punya Walkman dan Discman dan kalau ada niat aku membuat mixtape. Tapi karena Discman boros batere, akhirnya barang itu aku jual. Waktu itu aku pikir bahwa komputer/laptop sudah bisa memuaskan antusiasmeku terhadap musik, dan ternyata keyakinan itu bertahan hingga sekarang. Apalagi sekarang aku juga punya mp3 player.
Kenapa pilih mp3? Alasan utamanya adalah karena murah. Tentu tidak bisa dibilang 100 % gratis, tapi lebih terjangkau dan yang jauh lebih penting download memungkinkan kita mendapatkan musik apa pun dan dari mana pun, bahkan mendapatkan yang tidak bisa dibeli di toko musik biasa dalam negeri. Singles, EP, reissued, remastered, maupun deluxe edition, termasuk rekaman dadakan pemusik yang hanya muncul di negeri tertentu--yang industri musiknya bagus--mustahil didapatkan di negeri ini.
Industri dalam sudut pandang mereka yang berdaya beli kecil memang menyebalkan. Kita dirayu membeli semua produk, padahal bisa jadi tidak semua artis ingin mengomersilkan karya ciptanya. Apalagi tidak setiap orang mampu membeli dan lebih ingin mendapatkan sesuatu dari penciptanya, bukan pengganda atau pemilik hak edarnya. Sejak awal, tampaknya orang lebih peduli pada musisi karena karyanya, alih-alih memilih perusahaan rekaman, meski perusahaan jelas berjasa dalam menyebarkan musik.
Ada musisi yang awalnya cuma ingin karyanya didengar sebanyak mungkin orang tanpa harus dibebani target penjualan. Pikirkan ketika Wilco menyimpan Yankee Hotel Foxtrot di Internet dan menyilakan orang mendownloadnya. Kadang-kadang musisi hanya lebih ingin populer dan berhasil menyampaikan pesan dibandingkan ingin kaya karena berhasil menjual jutaan keping album. Kata seorang musisi pendukung download mp3, "Seperti seks, musik itu lebih bagus kalau gratis." Ambil contoh Coldplay. Rugikah band ini bila nyaris semua lagunya didownload secara ilegal? Mungkin tidak. Mereka bisa jadi justru harus berterima kasih karena memiliki tambahan penggemar. Yang jelas rugi adalah perusahaan pengganda CD karena gagal mendapatkan uang dari jualan, produksi, atau anak asuhnya. Sebagian musisi lebih memprioritaskan orang mendengar dan suka musiknya. Tapi industri dan artis bisa jadi berpandangan berbeda.
Perdebatan antara gratis dan harus beli maupun ilegal vs legal masih berlangsung hingga kini. Tetapi sudah terbukti bahwa internet, teknologi multimedia, dan cyberspace menjadi biang turunnya penjualan fisik industri musik. Tapi bisa jadi karena hal itu pula maka fans sebuah group musik jauh lebih banyak dan beragam. Kalau mau, orang bisa memenuhi cyberspace dengan hasil download atau menyimpan hasilnya agar bisa dibagikan kepada yang tertarik. Biarlah cd, kaset, vinyl, menjadi semacam kebutuhan eksklusif jika seseorang memang ingin mendapatkan barang itu secara fisikal, lebih rinci, bisa diraba-raba, ada aromanya.
Tentu mp3 juga masih belum menjadi segala-galanya, meski cyber bisa menyediakan banyak hal. Daya tawar terpenting teknologi ialah betapa mp3 dan cyberspace memberi kemudahan untuk mendapatkan sesuatu. Di Internet, kita masih harus mencari sejumlah hal yang kerap terpencar, baik artwork (sleeve), lirik, kredit, dan "keutuhan" bahwa file tersebut memang album. Pada rilisan fisik, itu sudah sepaket atau semacam one-stop shopping. Di internet kita harus meluangkan waktu mencari itu semua demi merasakan keutuhan sebuah album dan itu berarti lebih menghabiskan energi, waktu, serta ribet, menghambat banyak hal lain. Buruknya, kadang-kadang kita dikecoh oleh nama file yang salah, dipersulit password menyebalkan, juga kualitas suara yang mengerikan. Kita memang harus memilih dan berendah hati menerima kekurangan. Dari sisi ini, industri rekaman tentu masih bisa bangga bahwa layanan mereka jelas tidak bisa begitu saja dihapus oleh tawaran kemudahan yang sering menipu. "Namanya juga gratisan," begitu gurau seorang kawan.
Di tengah ketidakberdayaanku, aku jelas bersyukur atas penemuan mp3, teknologi p2p, file sharing, serta para penyedia dan penyimpan file. Bayangkan saja, setelah dulu agak putus asa cari album Nusrat Fateh Ali Khan atau Youssou N'Dour di dunia nyata, kini aku bisa mendapatkannya gratis dan dalam jumlah yang justru bisa membuat aku gelagepan karena enggak tahu lagi apa yang mesti diambil saking banyaknya. Walhasil kadang-kadang aku kepayahan juga dengan file-file itu, cuma didengar selintas untuk kemudian tertelantar atau sekalian dihapus permanen. Sebagian orang meledek bahwa mengumpulkan album sebesar 287 gb di komputer jelas lain dengan punya 287 rekaman fisik yang bisa ditilik-tilik.
Secara fisik, aku cukup meminjam rekaman koleksi Kineruku atau dari kawan-kawan yang kerap beredar di situ bila benar-benar merasa perlu. Beberapa kenalanku punya antusiasme jauh lebih ganas terhadap musik, apalagi mereka rela dan mampu belanja rock. Jakartabeat.net berhasil mengumpulkan banyak orang yang mampu menyimak dan menjelajahi musik secara lebih solid. Memang cara mereka mengungkapkan cinta pada musik kadang-kadang nadanya terdengar agak snob, berlebihan, atau over-intelektual, tapi antusiasme, penemuan, penafsiran, maupun pendalaman mereka betul-betul menyegarkan gairahku terhadap musik. Dengan idealisme mereka bekerja keras dan bersenang-senang mendefinisikan lagi jurnalisme musik. Di sana, musik bukan cuma berisi album yang mencoba menelurkan hits, melainkan menjadi pernyataan dan berusaha memiliki makna sosial dan semangat zaman.
Di siang hari aku sekarang jadi pelayan Garasi Opa, toko barang vintage di Kineruku yang salah satu hot itemnya adalah vinyl. Toko ini juga menjual kaset, terutama album lawas yang dinilai legendaris dan dicari-cari pendengar. Hal itu membuat aku jadi kembali sering memegang kaset dan vinyl. Bukan hanya album pop rock Indonesia lama, melainkan juga keroncong, dangdut, orkes melayu, gambang kromong, kasidah, musik daerah, termasuk band-band kabur tapi dinilai penting dalam ceruk pasar tertentu, seperti Blossom Toes, Bonzo Dog Band, Young Marble Giants, The Fugs, juga Kelompok Kampungan. Di Garasi Opa aku jadi bisa mendengar dengan baik album Harry Roesli, Lemon Trees Anno '69, Leo Kristi, Waldjinah, Remy Sylado, Franky & Jane, Yockie Suryoprayogo, Bimbo, dan lain-lain setelah dulu waktu remaja cuma sepintas ikut dengar di kamar kawan yang suka mendengar musik lawas Indonesia . Aku jadi ingat waktu mendengar Kiayi Kanjeng, Uking Sukri, Kua Etnika, Zithermania, Slamet Abdul Sjukur, Suarasama, juga Mukti-Mukti, Keroncong Rindu Order, dan lain-lain yang pendengarnya barangkali terbatas.
Anak muda yang datang ke Garasi Opa suka menanyakan keroncong, gambang kromong, dan entah kenapa hal itu membuatku terharu dan penasaran apa mereka sedang mencari harta karun terpendam musik Indonesia dari masa lalu? Pernah suatu hari aku nyetel album Gesang, seorang pengunjung mendadak bilang, "Mas, aku mau ini dong. Dulu ibu saya sering nyetel musik kayak ini." "Wah maaf," jawabku. "Yang ini belum dilepas oleh bos saya. Hanya untuk didengar dulu." Di tengah sajian musik kodian lewat radio, televisi, dan jaringan supermarket, mendengarkan keroncong, gambang kromong, album seminal, atau musik eksperimental yang dirilis baik untuk ekspresi, eksplorasi nada, pernyataan estetika, kolaborasi ide, maupun bersenang-senang jelas lain nuansanya. Salah satu yang berharga ialah betapa tetap menarik membicarakan relevansi album itu di zaman sekarang. Masih menantang membicarakan jeroan atau visi musik Rhoma Irama, AKA, Gombloh; tapi musik setipe karya Obbie Messakh cuma enak didengar di karaoke atau bus antarkota. Di luar itu, musik mereka mati gaya. Mau dibolak-balik ulang kayak apa juga tetap terdengar kacangan dan merengek. Tapi harus diakui mau mendengar kaset juga ada kendala. Sebagian generasi muda bakan tidak pernah melihat atau punya pemutar kaset. Mereka mendengar lewat hp atau mp3 player dan parahnya mendengar per lagu, bukan menyimak per album.
Meski kini paling banyak menyimpan musik di harddisk, keinginan untuk membuka-buka kaset atau cd terbit lagi, bahkan sengaja merawat lagi agar kondisinya tetap baik. Yang berjamur aku bersihkan satu-satu. Memang sudah pupus niat mewariskan barang itu kelak pada anakku seperti dulu, karena aku sadar mereka membentuk selera dan punya zaman sendiri, cuma aku jadi memelihara yang ada. Tape playerku kembali bersaing dengan Windows Media Player untuk memutar lagu, bahkan menyetel kaset nasyid generasi awal The Zikr milik istriku, ceramah Aa Gym, atau mengumandangkan lagu Sunda karya Doel Sumbang yang akhirnya jadi disukai Ilalang (12 tahun). September lalu aku memboyong puluhan kaset adikku dari rumah orangtuaku di Lampung yang sudah masuk kardus karena tapenya rusak dan tidak diperbaiki. Wah, senang banget! Rasanya aku menemukan lagi jalur bisa yang membuatku sedikit lebih bergairah dan melihat-lihat panorama.
Apa aku pelan-pelan kembali pada kebiasaan lama yang sebenarnya nyaris punah? Entahlah. Cuma beberapa minggu lalu untuk pertama kali aku tersenyum-senyum sendirian di sebuah toko rekaman, menilik berbagai album sampai tangan penuh debu, dan akhirnya memutuskan mengambil Pulau Bali, Keroncong Instrumental Vol. 3 oleh Orkes Keroncong Irama Jakarta. Itulah kaset pertama yang aku beli barangkali setelah lebih dari sepuluh tahun lalu. Rasanya mirip dulu waktu aku pertama kali beli kaset Queen. Gemetaran.[]
Link terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com/2008/03/selamat-jalan-kaset-dan-mantan-presiden.html
Link terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com/2008/03/selamat-jalan-kaset-dan-mantan-presiden.html
Monday, December 06, 2010
[Review Album]
Sifat Bunglon dalam Diri Norah Jones
...Featuring Norah Jones
Musisi: Norah Jones (album kompilasi)
Durasi: 83 menit (19 track)
Rekaman: 2001-2010
Rilis: November 2010
Label: Blue Note
Genre: Jazz, pop, pop country, alternative rock
Rating: ***
Apa Norah Jones sudah baikan lagi dengan Lee Alexander hingga album kompilasi ini dirilis? Lee Alexander ialah pemain bass sekaligus produser yang menemani perjalanan karir musik Norah Jones sejak awal. Dia memimpin The Handsome Band, band yang dulu setia mendukung dan menemani Norah tampil di setiap tur. Lebih dari itu, Norah Jones dan Lee Alexander ialah sepasang kekasih sekaligus kawan kerja, sebelum akhirnya mereka pisah ketika Norah Jones merilis The Fall tahun 2009.
Apa kaitan hubungan personal dua orang ini dengan kompilasi ini? Album ini mengumpulkan nyaris semua proyek Norah Jones dengan musisi lain, sejak awal karir di awal tahun 2000-an hingga 2010. Ini artinya minimal di empat track, minimal secara virtual Norah harus bersanding lagi dengan Lee. Track pembuka pun berjudul "Love Me" yang mereka bawakan ketika sama-sama mendirikan The Little Willies di awal karir. Lantas "Loretta" (bareng The Handsome Band), "Creepin' in" (karena diambil dari album Feels Like Home yang di situ Lee berperan besar), bahkan ketika berduet amat mesra dengan M. Ward menyanyikan "Blue Bayou", itu pun dilakukan ketika bersama The Handsome Band konser di kota Austin, Amerika Serikat, dengan Ward sebagai musisi pembuka.
Kalau Anda telah mengikuti setiap proyek sampingan Norah Jones dengan musisi lain, album ini mungkin terasa kurang mengejutkan, meski tentu menyenangkan dan memuaskan selera fanatik karena sengaja mengumpulkan hampir semua proyek sempalan selain sebagai penyanyi solo. Memudahkan kita menyimak secara utuh. Dari album ini akan terasa betapa Norah Jones sangat adaptif, memberi energi positif, dan berusaha selalu tampil istimewa di setiap proyek yang melibatkan dirinya. Rentang musik dalam kompilasi berdurasi panjang ini lebar dan beragam sekali.
Norah terkenal berkat kekhasan musik, cara berdendang, dan permainan piano. Di kompilasi ini ketiga unsur tersebut menonjol dengan manis, baik saat jadi lead vocalist maupun ketika harus berduet dengan orang lain. Kehadiran Norah senantiasa berpengaruh baik dan perannya seakan-akan selalu memberi nilai lebih pada sebuah komposisi. Terlebih-lebih dalam lagu balada yang menuntut nafas panjang demi mengeluarkan energi lebih untuk mencapai nada tinggi, kemampuannya akan muncul secara maksimal.
Dia bisa muncul murni membawakan jazz murni bareng Ray Charles, Herbie Hancock, Dirty Dozen Brass Band, Charlie Hunter, juga Willie Nelson; memadukan dengan country bareng Sasha Dobson dan Dolly Parton; melantunkan lagu pop bersama M. Ward, Belle & Sebastian, Sean Bones; hip-hop dengan OutKast, Q-Tip, Talib Kweli, Wyclef Jean; juga merambah genre alternatif-manis bersama Foo Fighters, Ryan Adams, juga El Madmo---trio pseudo punk yang dibentuk Norah entah setelah kesambet apa. Di El Madmo Norah mencampakkan piano, mengganti nama, menyamar dengan mengenakan stocking jaring, rok mini, memakai wig blonde, bermakeup topeng, mengubah dirinya jadi lead guitarist sekaligus berani nyanyi dengan menggeram. Dari band ini dipilih "The Best Part", lagu bertempo lambat bernada repetitif-monoton, biar penggemar utama Norah tahu bahwa penyamarannya terbongkar meski berusaha keras menyembunyikan jati diri.
"Jelas sangat menggairahkan, menyenangkan, dan membuat tersanjung bila diminta bernyanyi dengan seseorang yang aku kagumi," kata Norah tentang album ini. "Bekerja dengan musisi lain memang sedikit menarik kamu ke luar dari zona nyaman. Kita mungkin cuma bisa meraba-raba apa yang bakal bisa diharapkan dari sana. Rasanya seperti jadi bocah yang sedang asyik main-main."
Di album ini kita akan menyaksikan Norah Jones berperan sebagai bunglon yang menunjukkan minat tinggi pada berbagai jenis musik dan bahkan mungkin memang sengaja ingin menghindarkan dirinya dari cap sempit terhadap genre tertentu. Hanya saja untuk tujuan komersil dan keterbatasan media, eksperimen musiknya yang sangat ajaib---misal dengan Mike Patton atau Anoushka Shankar---diabaikan dari daftar. Dia leluasa bekerja sama baik dengan musisi veteran, seumuran, maupun junior.
Karena campur aduk dari berbagai sumber, susunan daftar tracknya juga terasa makin pas. Di awal-awal kita mendengar lagu smooth jazz dengan nuansa main-main dan menghibur yang pasti bakal segera disukai para penggemar berat Norah. Di tengah album hadir musik hip-hop, alternatif, dan pop dengan kadar cukup besar, dan di akhir bagian kembali hadir lagu-lagu manis. Durasi yang sangat panjang seperti sengaja menjadi persembahan atau usaha memanjakan agar pendengar betah berlama-lama menyimak penyanyi favoritnya.
Kalau toh album ini dirilis semata-mata untuk keperluan komersil dan bukan untuk rekonsiliasi, kita masih bisa berharap bahwa di masa depan Norah Jones bisa bekerja sama dengan siapa saja, selama proyek itu menarik dan berhasil, meski untuk keperluan jangka pendek sekalipun. Sebab untuk mampu mengeluarkan album utuh memang butuh dukungan musisi dengan chemistry yang kuat, biar hasilnya lebih dari sekadar featuring.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Copyright © 2010 oleh Anwar Holid
Monday, November 22, 2010
[Repost]
A Sort of Homecoming, An Evening with Dream Theater & Octavarium (Double CD)
Band: Dream Theater
Rilis: 2005
Label: Universal Music
Genre: Progressive Metal, prog-rock
Produser: Dream Theater
Rating: ***
Di Bandung, bisa jadi hanya Rumah Buku/Kineruku yang memiliki double cd langka ini: gabungan antara konser tur Dream Theater usai merilis album Train of Thought (2003) dan Octavarium (2005). CD pertama berisi live concert di Madison Square Garden, sebuah gedung pertunjukan legendaris di New York City, Amerika Serikat. CD ini antara lain berisi single hit "Caught in A Web" (dari album Awake tahun 1994), permainan drum solo Mike Portnoy, lantas berduet dengan bitang tamu Scott Rockenfield (drummer Queensryche), solo guitar John Petrucci, banyak melakukan jam session dan improvisasi berlama-lama, termasuk membawakan nomor instrumental berdurasi terpanjang mereka, yaitu "Stream of Consciousness" (11 menit).
Banyaknya jam sessions dan improvisasi ini membuat James LaBrie (vokalis) jadi sering menganggur. Bagi penikmat musik, terlebih-lebih penggila genre prog-rock, menu sajian seperti itu jelas seperti oleh-oleh dari surga---tentu surga versi pecinta musik, bukan versi penganut agama. Improvisasi dalam "The Spirit of St. Louis" misalnya, mula-mula seakan-akan mengurung pendengar di dalam hutan yang penuh oleh bunyi-bunyi misterius dan menakjubkan, namun mulai pertengahan hadir kejar-kejaran cukup lama antara solo dan melodi gitar John Petrucci dengan hentakan drum Portnoy, dibungkus dalam suasana sensasional yang melambungkan angan-angan. Sangat memuaskan.
Cd kedua persis berisi album Octavarium (2005). Member Rumah Buku/Kineruku sangat beruntung bila mau meminjam album ini, karena pinjam satu item dapat dua album. Dijamin.
Dream Theater merupakan band yang penuh pengabdian, baik demi mencapai kualitas keterampilan musikalitas maupun memuaskan para fans. Durasi lagu mereka panjang-panjang dan dengan senang hati mengumbar kepiawaian masing-masing anggota. Mereka jelas bukan jenis band yang jadi favorit pilihan di acara musik di teve-teve, tapi tetap saja mereka memiliki nomor yang mudah dinikmati dan sebenarnya cukup mudah didengar dan didendangkan, seperti "I Walk Beside You" dan "Caught in A Web."
Mau didengar per cd atau simultan langsung dua cd juga sama nikmat---tapi tentu durasinya jadi tambah lama lagi. Dengan dua cd seperti ini, dijamin pendengar segera mudah beralih-alih nuansa; dari suasana progressive rock/metal yang cepat, rumit, rancak, berubah-ubah tempo secara drastik, bisa juga menuju ke irama slow rock yang manis, antara lain berkat "Answer Lies Within" dan "I Walk Beside You."
Kekurangan A Sort of Homecoming yang mungkin bisa mengganggu para pendengar perfeksionis bertelinga super ialah sound yang dihasilkan dari konser ini terasa kurang jernih. Bisa jadi ini masalah teknis mixing rekaman, namun sebentar menyesuaikan equalizer akan menyelesaikan persoalan minor tersebut.
Sebagai band, Dream Theater saat kini boleh dibilang merupakan eksponen genre progressive rock/metal yang paling sukses dan berpengaruh sangat besar. Mereka juga inovatif dalam berkarya, termasuk antara lain merilis album "official bootleg" yang mula-mula disalurkan lewat Dream Theater's International Fan Club (DTIFC). Nah, cd pertama dari A Sort of Homecoming ini merupakan salah satu produk dari DTIFC.
Lepas bahwa Dream Theater sering dikritik karena selalu gagal menciptakan hits melalui jalur mainstream atau sukses komersial lewat jalur umum, band ini diakui oleh semua kritik sebagai band yang pantang menyerah dalam menyiasati perubahan zaman dan penjelajahan musik. Album studio terakhir mereka ialah Black Clouds & Silver Linings (2009), dan di tahun 2010 tersiar kabar mengejutkan dari band ini bahwa Mike Portnoy---drummer sekaligus satu dari tiga orang founding father dan konseptor band ini---memutuskan ke luar dan bergabung dengan band junior yang mengaku terpengaruh oleh Dream Theater, yaitu Avenged Sevenfold.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Copyright © 2010 oleh Anwar Holid
A Sort of Homecoming, An Evening with Dream Theater & Octavarium (Double CD)
Band: Dream Theater
Rilis: 2005
Label: Universal Music
Genre: Progressive Metal, prog-rock
Produser: Dream Theater
Rating: ***
Di Bandung, bisa jadi hanya Rumah Buku/Kineruku yang memiliki double cd langka ini: gabungan antara konser tur Dream Theater usai merilis album Train of Thought (2003) dan Octavarium (2005). CD pertama berisi live concert di Madison Square Garden, sebuah gedung pertunjukan legendaris di New York City, Amerika Serikat. CD ini antara lain berisi single hit "Caught in A Web" (dari album Awake tahun 1994), permainan drum solo Mike Portnoy, lantas berduet dengan bitang tamu Scott Rockenfield (drummer Queensryche), solo guitar John Petrucci, banyak melakukan jam session dan improvisasi berlama-lama, termasuk membawakan nomor instrumental berdurasi terpanjang mereka, yaitu "Stream of Consciousness" (11 menit).
Banyaknya jam sessions dan improvisasi ini membuat James LaBrie (vokalis) jadi sering menganggur. Bagi penikmat musik, terlebih-lebih penggila genre prog-rock, menu sajian seperti itu jelas seperti oleh-oleh dari surga---tentu surga versi pecinta musik, bukan versi penganut agama. Improvisasi dalam "The Spirit of St. Louis" misalnya, mula-mula seakan-akan mengurung pendengar di dalam hutan yang penuh oleh bunyi-bunyi misterius dan menakjubkan, namun mulai pertengahan hadir kejar-kejaran cukup lama antara solo dan melodi gitar John Petrucci dengan hentakan drum Portnoy, dibungkus dalam suasana sensasional yang melambungkan angan-angan. Sangat memuaskan.
Cd kedua persis berisi album Octavarium (2005). Member Rumah Buku/Kineruku sangat beruntung bila mau meminjam album ini, karena pinjam satu item dapat dua album. Dijamin.
Dream Theater merupakan band yang penuh pengabdian, baik demi mencapai kualitas keterampilan musikalitas maupun memuaskan para fans. Durasi lagu mereka panjang-panjang dan dengan senang hati mengumbar kepiawaian masing-masing anggota. Mereka jelas bukan jenis band yang jadi favorit pilihan di acara musik di teve-teve, tapi tetap saja mereka memiliki nomor yang mudah dinikmati dan sebenarnya cukup mudah didengar dan didendangkan, seperti "I Walk Beside You" dan "Caught in A Web."
Mau didengar per cd atau simultan langsung dua cd juga sama nikmat---tapi tentu durasinya jadi tambah lama lagi. Dengan dua cd seperti ini, dijamin pendengar segera mudah beralih-alih nuansa; dari suasana progressive rock/metal yang cepat, rumit, rancak, berubah-ubah tempo secara drastik, bisa juga menuju ke irama slow rock yang manis, antara lain berkat "Answer Lies Within" dan "I Walk Beside You."
Kekurangan A Sort of Homecoming yang mungkin bisa mengganggu para pendengar perfeksionis bertelinga super ialah sound yang dihasilkan dari konser ini terasa kurang jernih. Bisa jadi ini masalah teknis mixing rekaman, namun sebentar menyesuaikan equalizer akan menyelesaikan persoalan minor tersebut.
Sebagai band, Dream Theater saat kini boleh dibilang merupakan eksponen genre progressive rock/metal yang paling sukses dan berpengaruh sangat besar. Mereka juga inovatif dalam berkarya, termasuk antara lain merilis album "official bootleg" yang mula-mula disalurkan lewat Dream Theater's International Fan Club (DTIFC). Nah, cd pertama dari A Sort of Homecoming ini merupakan salah satu produk dari DTIFC.
Lepas bahwa Dream Theater sering dikritik karena selalu gagal menciptakan hits melalui jalur mainstream atau sukses komersial lewat jalur umum, band ini diakui oleh semua kritik sebagai band yang pantang menyerah dalam menyiasati perubahan zaman dan penjelajahan musik. Album studio terakhir mereka ialah Black Clouds & Silver Linings (2009), dan di tahun 2010 tersiar kabar mengejutkan dari band ini bahwa Mike Portnoy---drummer sekaligus satu dari tiga orang founding father dan konseptor band ini---memutuskan ke luar dan bergabung dengan band junior yang mengaku terpengaruh oleh Dream Theater, yaitu Avenged Sevenfold.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Copyright © 2010 oleh Anwar Holid
Monday, November 01, 2010
[REVIEW ALBUM]
A Thousand Suns: Album Politis Linkin Park
---Anwar Holid
A Thousand Suns (album studio)
Band: Linkin Park
Produser: Rick Rubin, Mike Shinoda
Rilis: 8 September 2010
Proses rekaman: 2008-2010
Genre: Alternative rock, nu-metal
Durasi: 47:56 (15 track)
Label: Warner Bros.
Rating: ****
Setelah bertindak cukup drastik di album Minutes to Midnight (2007), Linkin Park kembali mengambil inisiatif mengejutkan di A Thousand Suns, album studio ke empat mereka. Mereka membuat album konsep. Ini merupakan langkah ambisius dan berani bagi band yang sudah sangat hype, bahkan dianggap sebagai salah satu band terdepan dan tipikal nu-metal yang masih eksis namun tengah menghadapi tantangan besar karena genre ini terdengar mulai usang dan sebagian eksponennya mengalami kesulitan mengikuti perkembangan zaman. Di titik ini, Linkin Park bisa dianggap jadi komandan bagi genre rock/alternatif yang bisa bertahan dengan baik di medan peperangan industri musik, bahkan kini kembali menguasai jalannya pertempuran.
Seperti apa konsep di album ini? Mike Shinoda menyatakan, "Bila orang membayangkan album konsep, aku kira mereka membayangkan suatu kisah tertentu---nyaris seperti opera rock atau sesuatu yang bercerita tentang kisah tertentu, mulai dari konflik dan berakhir dengan resolusi. Kami merasa tampaknya pandangan seperti itu bakal sedikit mengekang. Jadi kami memutuskan akan membiarkan konsep itu sebagaimana yang ingin kami bicarakan, lantas membuatnya sedikit lebih abstrak dan lepas." Dalam wawancara dengan MTV, dia menambahkan, "Di album ini, konsepnya ialah gabungan antara gagasan manusia dengan teknologi."
A Thousand Suns merupakan metafora untuk ledakan bom atom. Album ini secara keseluruhan bicara tentang perang nuklir, militerisme, kehancuran, juga efek peperangan pada manusia. Boleh dibilang ini album politis. Maka bebunyian ledakan hebat, dentuman, derit kekacauan, rentetan tembakan, derap pasukan tengah melakukan penyergapan, kericuhan di medan perang, suasana chaos, teriakan marah, jeritan putus asa, suasana panik dan menderu-deru, juga makian kekesalan amat terasa di sini.
Album konsep idealnya didengar dari awal hingga akhir tanpa jeda. Linkin Park mengawali album ini dengan lagu kematian ("The Requiem") yang meski bertempo lambat dan bernada murung, tapi tetap optimistik:
God save us
everyone will be burn
inside the fires of a thousand suns
Lantas dilanjutkan dengan dentuman besar diiringi pernyataan ancaman akan munculnya perang nuklir, berasal dari ucapan Robert Oppenheimer, Direktur Proyek Bom Atom Los Alamos (1943-1945) dan Komisi Energi Atom Amerika Serikat (1946-1953), yang mengutip ucapan Wishnu di Bhagawad Gita: "Now I am become Death, the destroyer of worlds."
Dua intro itu menjebloskan pendengar pada intensitas situasi perang, para tentara yang terhadang kematian, betapa mereka jadi seperti robot yang sudah diprogram melaksanakan perintah untuk mengakhiri kehidupan, meskipun dahulu mereka cinta damai. Semua orang terancam keselamatannya. Tambah lama suasana semakin kacau. Dua lagu di pertengahan album ini menggambarkan situasi dengan sangat emosional. "Blackout" dan "Wretches And Kings" benar-benar penuh dengan kegaduhan bertempo cepat yang muncul dari semua instrumen, terutama turntable, distorsi gitar, dan derap drum; sementara duet Chester Bennington dan Shinoda mewartakan kehancuran dengan hebat. Resolusi di album ini berlangsung dengan mulus; situasi kembali damai, masa-masa gawat telah lewat, dan meyakinkan bahwa ke depan akan lebih selamat. Untuk itu mereka menawarkan lagu bertempo sedang dan balada yang kuat, terutama "The Messenger" yang jadi track penutup; di situ Brad Delson memainkan gitar akustik dengan perlahan-lahan. "Secara harfiah, lagu ini sebenarnya surat kepada anak-anakku betapa aku mencintai mereka," ungkap Bennington pada Yahoo!News. Lagu ini kalem, dalam, dan kembali optimistik:
When life leaves us blind
Love, keeps us kind!
When life leaves us blind
Love keeps us kind!
Kekuatan vokal Bennington menjadi pusat emosi album ini. Dia berteriak, meradang, menjerit, ngotot, sekaligus menyanyi dengan energi dan emosi yang kental. Mereka juga mengambil kekuatan aktivisme dari orasi Mario Savio dan Martin Luther King, Jr. yang menggugah. Secara musikal mereka berbalik lagi ke rap-metal dengan haluan cukup besar; kembali ada banyak sound bites dan berbagai manipulasi bebunyian. Satu-satunya lagu yang disertai solo gitar cukup menonjol hanya "Iridescent." Shinoda kembali banyak ngerap untuk menguatkan situasi, seperti muncul dalam "The Catalyst" dan "Waiting For The End" yang berturut-turut mereka lempar sebagai single dari album ini.
Selama hampir satu jam, A Thousand Suns menjadi karya yang bisa dinikmati secara utuh dan kuat. Mungkin belum sehebat The Dark Side of The Moon (Pink Floyd) atau seberani Radiohead saat bereksperimen dalam Kid A, namun Linkin Park maju selangkah lagi ke jenjang yang lebih dewasa dari tingkat sebelumnya. Ini memuaskan, patut dipuji dan dihargai.[]
Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Tuesday, August 18, 2009


Pat Metheny, Mahadewa Gitar yang Pernah Ada
---Anwar Holid
KARENA TERBIASA DENGAR MUSIK ROCK DAN SEJENISNYA, dulu aku cukup yakin bahwa Brian May, Eddie van Halen, Joe Satriani, atau Steve Vai merupakan gitaris paling hebat sedunia. Tapi semakin banyak jenis musik yang aku dengar, tambah yakinlah bahwa keyakinan itu bisa dibantah, dan akhirnya rontok perlahan-lahan. Perubahan itu semakin drastik ketika makin banyak album Pat Metheny yang aku dengar.
Aku pertama kali dengar Pat Metheny dari KLCBS, stasiun radio jazz di kotaku, Bandung. Tentu awalnya aku belum tahu bahwa itu karya gitaris berambut bak surai singa itu. KLCBS menggunakan satu atau dua karya Metheny sebagai musik latar untuk informasi mereka, sampai sekarang. Sebagian lagi mereka putar per lagu. Penyiar KLCBS, entah karena kebijakan apa, jarang menyebut musisi atau judul lagu yang mereka putar. Tapi kadang-kadang mereka menyebutkannya juga. Lama-lama aku tahu bahwa lagu yang mereka gunakan ialah "Last Train Home" dan "Phase Dance."
Minatku pada Pat Metheny tambah besar ketika aku makin sering dan intens dengar jazz. Suatu hari seorang temanku meminjami aku vcd konser Pat Metheny, Secret Story, yang menurutku jauh lebih subtil daripada konser gitaris rock atau heavy metal. Tampaknya gitaris rock cenderung heboh sendiri atau narsis bila sedang manggung, apalagi ketika sedang melakukan solo gitar; sementara gitaris jazz justru cenderung lebih mementingkan musik apalagi bila sedang melakukan solo. Mereka mungkin jarang kelihatan bergaya, tapi malah memperlihatkan performa hebat secara keseluruhan.
Kira-kita tahun 1996, aku beli album Pat Metheny yang terdengar sangat ajaib dari Yuliani Liputo, judulnya Zero Tolerance for Silence. Album itu sepertinya terdengar hanya berisi distorsi gitar. Selama mendengar, keherananku hanya begini: "Kok kepikiran sih bikin album seperti ini?" Album itu membuyarkan bayanganku bahwa karya-karya dia senantiasa agung dan diciptakan dengan ketelitian hebat. Tapi rupanya album itu menyimpan kontroversi dengan cerita sendiri. Setelah itu dengar Beyond the Missouri Sky (Short Stories) yang nuansanya mengawang-awang, seakan-akan mengetengahkan semesta nan luas.
Baru waktu Rumah Buku menyediakan sejumlah album Pat Metheny, kepenasaranku pada musik dia makin terpenuhi. Di sana tersedia Still Life (Talking), Letter from Home, The Road to You, We Live Here, Imaginary Day, juga Beyond the Missouri Sky, Pat Metheny Trio, I Can See Your House from Here, dan One Quiet Night, album solo terbarunya.
I Can See Your House from Here merupakan album duet bersama John Scofield, seorang dewa gitar lain yang mungkin juga terabaikan dari scene gitaris umum---yang biasanya memang lebih peduli pada gitaris rock. Album ini ternyata sangat hebat. Judulnya saja sangat kena, seakan-akan bilang mereka tahu rahasia dapur masing-masing. HIGHLY RECOMENDED.
Kerja sama Metheny/Scofield bukan sekadar pertemuan dua mahadewa gitar atau datang untuk bersahut-sahutan, melainkan saling isi dan menjalin. Seakan-akan berusaha saling paham, berkomunikasi. Rasanya belum pernah aku dengar album gitar sehebat ini, bahkan hasil pertemuan gitaris rock sekalipun. Terlintas nama Cacophony (Marty Friedman & Jason Becker) untuk diadukan, tapi menurutku Cacophony monoton dan lebih ngotot untuk kebut-kebutan. Mungkin lebih menarik membayangkan Tom Morello dan Steve Vai bikin album yang betul-betul senyawa, bukan sekadar pamer aksi memainkan efek dan kecepatan. Menurutku, nuansa I Can See Your House from Here ini lebih condong ke rock daripada jazz.
PATRICK BRUCE METHENY lahir pada 12 Agustus 1954 di Lee's Summit, Missouri, Amerika Serikat. Dia memutuskan total main musik setelah ke luar dari University of Miami, yang hanya dia masuki satu semester. Namanya mulai muncul di ranah jazz pada 1975, ketika dia gabung dengan band Gary Burton dan merekam sebuah album trio bersama Jaco Pastorius (bass) and Bob Moses (drum) berjudul Bright Size Life. Pada 1977 Metheny merilis Watercolors, yang menampilkan Lyle Mays (piano, keyboards). Kerja sama dengan Mays ini secara resmi dia kukuhkan sebagai Pat Metheny Group (PMG), yang pada 1978 menghasilkan album perdana menggunakan nama tersebut.
Dengan PMG boleh dibilang Metheny mencapai puncak kreativitas dan popularitas, meski dia terus bertualang mencari berbagai alternatif terhadap batasan-batasan musik. Dia bisa berkolaborasi baik sebagai duet, trio, pemain tamu, menghasilkan album etnik, belum lagi solo. Maka gayanya sulit dijelaskan, tapi yang jelas merupakan unsur dari progressive jazz dan jazz kontemporer, post-Bop, jazz-rock fusion, and folk-jazz. Salah satu contohnya ialah pada tahun 1998 PMG memenangi dua Grammy Award kategori Rock Instrumental Performance untuk "The Roots Of Coincidence" dari album Imaginary Day, sekaligus Contemporary Jazz Performance untuk album tersebut. Ke mana saja tuh gitaris rock pada tahun itu?
Di album Pat Metheny Trio-->Live (2000), aku berspekulasi, kalau penggemar rock/metal dengar, mereka mungkin akan malu bilang bahwa John Petrucci, Yngwie J. Malmsteen, atau Vernon Reid sebagai dewa gitar. Ini tentu pendapat berlebihan untuk menonjolkan betapa gila daya jelajah Metheny. Di album itu ada lagu "Faith Healer" (19 menit), yang mungkin tak pernah terbayang bakal tercipta bahkan oleh gitaris metal terhebat yang pernah ada.
PMG juga termasuk band jazz besar yang awet. Selain dua pendirinya, anggota lain yang paling bertahan ialah Steve Rodby (Bass) dan Paul Wertico (drums). Meski begitu mereka kerap menampilkan musisi tamu, yang lama-lama jadi bagian utuh grup tersebut, terutama ketika tur, misalnya Mark Ledford (vocals, trumpet, gitar), Armando Marçal (perkusi), dan Nana Vasconcelos (perkusi dan suara mulut). Dengan PMG juga Metheny memenangi belasan Grammy Award. Tapi entah kenapa, setelah menghasilkan The Way Up (2005) yang ambisius, grup ini istirahat. Metheny kemudian malah terlibat dengan Brad Mehldau, sesama pianis seperti Mays, untuk menghasilkan dua album. Hanya saja Mehldau lebih tampak sebagai pianis tradisional daripada Mays yang memberi nuansa begitu kaya dalam latar musik mereka.

The Way Up merupakan album konsep yang terdiri dari satu lagu sepanjang 68 menit, namun dipecah jadi empat bagian, semata-mata untuk kepentingan navigasi cd dan keperluan komersial. Pembukanya (Opening) merupakan intro sepanjang lima menit yang amat luar biasa dan sempurna sebelum masuk ke wilayah musik yang kompleks, meliuk-liuk, mengawang-awang, menegangkan, namun juga amat terampil, dinamik, dan memperlihatkan improviasasi dan permaian solo hebat. Metheny menyatakan bahwa album itu merupakan reaksi terhadap kecenderungan musik sekarang yang biasanya menuntut perhatian singkat-singkat namun kekurangan nuansa dan detail. Argumen yang sangat wajar. Ganjarannya, pada 2006 album ini memenangi Grammy Award untuk Best Contemporary Jazz Album.
Dengan puluhan album yang telah dia hasilkan, mendengarkan Pat Metheny seperti merupakan petualangan menjelajahi musik yang tiada habis. Aku sendiri belum mendengar SEMUA karya dia. Namun, apalagi yang ingin aku dengar dari karyanya, kecuali sejumlah album yang mungkin sulit aku dapat, misalnya Upojenie (2002) albumnya bersama Anna Maria Jopek dan The Falcon and the Snowman (1985), sebuah soundtrack dari film berjudul sama, di sana mereka bekerja sama dengan David Bowie---teman main Setiawan Djody. Aku sendiri bergantung pada Rumah Buku dan Satia Nugraha untuk mendapatkan banyak diskografi Metheny.
Moral utama yang aku dapat dari mendengar karya-karya Metheny ialah totalitas dan kualitas. Jika kamu seorang gitaris, jadilah gitaris hebat, produktif, inovatif, membuka seluruh kemungkinan. Jika kamu penulis, tulislah sebaik-baiknya, sebanyak mungkin, totallah di sana. Semangat seperti itu tentu baru sedikit saja bisa aku lakoni, itu pun dengan kualitas yang boleh dipertanyakan. Tapi seperti daya dobrak Metheny yang hebat, inspirasinya selalu kuat. Bukankah hebat ketika kita dengar musik, ternyata di sana juga ada semangat dan dinamika hidup?[]
Anwar Holid, sayangnya, tidak bisa main gitar. Apa ini termasuk ganjil? Dia bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Untuk pinjam CD album Pat Metheny, silakan hubungi http://www.rukukineruku.com
Thursday, June 26, 2008

Menyimak Pink Floyd
--Anwar Holid
Aku pertama kali suka Pink Floyd (PF) karena musiknya, seingatku karena dengar The Wall punya Kang Indra, saudara tua yang sangat suka rock dan punya banyak koleksi kaset. Waktu itu aku mungkin SMA awal; tentu saja kemampuan Inggrisku boleh dibilang lima koma sekian. Baru ketika perlahan-lahan tambah ngerti Inggris, aku baca syair grup musik tersebut, itu pun terbata-bata, hanya bisa ngerti yang kasar atau memang sangat mudah diartikan. Sekarang, kemampuan Inggriskku sedikit ada peningkatan, tapi tetap saja aku kesulitan bila baca syair utuh mereka, dan tentu harus dibantu kamus. Itu mending, sekarang begitu menemukan syair yang terasa bagus, langsung aku copy, save, untuk dijadikan kutipan. Lumayan, nambah kosakata. Karena memang hanya satu-dua pasase lirik yang benar-benar paham, aku berani bertaruh, misalnya, berapa orang Indonesia suka PF yang benar-benar ngerti lirik lagu per lagu album The Wall, The Dark Side of the Moon, Wish You Were Here, The Division Bell, A Momentary Lapse of Reason, dan album lainnya.
Kerap aku meragukan pernyataan bahwa pendengar Indonesia yang suka musik Barat (atau grup tertentu) terutama karena mereka suka dengan lirik-liriknya, terlebih-lebih bila dikuatkan dengan pernyataan seperti ini: "liriknya kuat, dalam banget" atau "kekuatan grup itu terletak pada lirik/syair." He he he, aku suka nyengir kuda. Di antara ribuan orang Indonesia yang suka PF, misalnya, berapa persen yang betul-betul paham liriknya, apalagi dari lagu demi lagu? Kenapa aku bilang begitu? Pertama, karena kemampuan Inggrisku masih buruk, tapi ternyata berani ngaku suka PF. Kenapa? Lebih karena musik, bukan lirik---tapi jelas orang lain bisa beda. Persis ketika aku kerap menemui generasi lebih muda yang jauh lebih canggih ngomong Inggris.
Jadi kalau ada orang Indonesia bilang bahwa kekuatan PF ada di lirik, dalam hati aku bilang, "Ayolah... mending dengar musiknya. Kalau lirik mah denger Iwan Fals atau Rhoma Irama. Lebih langsung ngerti." Rhoma Irama, Taufik Ismail, Ebiet G. Ade, dan lain-lain juga sama hebat kok. Saat acara dengar The Pink Floyd Chamber Suite for Grand Piano and String Quartet, ada peserta diskusi komentar, "Ruh Pink Floyd tak muncul dari karya-karya serius itu," menurutku itu karena persoalan bahasa, komunikasi, pemahaman, dan tafsir. (Pernyataan: aku belum tahu tentang album itu.) Bagaimana mungkin mendapat ruh PF tanpa paham lirik mereka dengan sungguh-sungguh? Atau sebagian orang lebih suka pernyataan ini, "Dengarkan musiknya, lupakan liriknya?"
Tiap kali dengar lagu PF, misalnya Mother, Goodbye Blue Sky, Shine on You Crazy Diamond (lengkap), Echoes, dari The Dark Side of the Moon, Wish You Were Here... yang terbetik adalah "Ya Tuhan, bagus amat ini lagu." Dan kemudian lagu itu mampu memaksa aku membaca lirik mereka; tanpa baca lirik, mana ngerti aku nyanyian langsung dari mulut mereka? Listeningku boleh dibilang juga buruk. Waktu pertama kali dengar Goodbye Blue Sky, rasanya reaksi pertamaku ialah, "Apa ini lagu rock?"---alih-alih memperhatikan lirik, sebab lagu itu balada.
Yang mengherankan, setelah baca-baca berbagai info tentang PF, lama kelamaan ternyata aku kurang simpatik, sebal pada Roger Waters, penulis lirik PF yang paling kuat. Dalam prasangkaku, ketika masih di PF dan secara de facto dianggap pemimpin, dia ini mungkin tipe orang arogan, self-centered, sok, sombong, dominan, penuh kuasa. Apalagi ketika akhirnya dia dan tiga temannya berseteru, pecah, dan terus-terusan saling gugat di pengadilan. Dengar-dengar, Waters ini sudah sampai tahap jijik pada David Gilmour. Yang membuatku "senang" tanpa kejelasan, dari perpecahan itu, menurutku, Waters yang kalah; Gilmour (dan PF) menang. Setidak-tidaknya karena Gilmour dianugerahi gelar Sir (atau CBE) oleh pemerintah Inggris, sedangkan Waters tidak. Album dan konser PF era pimpinan Gilmour masih laku keras, sedangkan album solo Waters boleh dibilang biasa. Aku malas dan kehilangan niat dengar album solo Waters, meski ada akses; tapi malah kepingin dengar album solo Gilmour. Aku pernah lihat dia main solo gitar di sebuah video gitaris rock, tapi sayang nggak dicopy. Artinya, tanpa PF, Waters mungkin boleh dibilang sama dengan pencipta lagu lain. Jadinya aku suka merasa aneh; menyukai lagu ciptaan orang yang di bawah sadar aku sebali. Dipikir-pikir ini mirip "kasusku" pada Pramoedya Ananta Toer; meski baca sejumlah bukunya, suka, dan amat terkesan, tapi aku nyaris nggak punya simpati pada dia---dengan alasan pribadi tertentu. Tapi apa pengaruhnya aku suka dan benci pada seseorang? :(
Sudah satu-dua bulan ini Winamp dan Windows Media Player di komputerku nyaris tiap hari mengumandangkan album-album PF, apa saja. Enaknya, aku bisa menyusun sesuai selera, terutama pada lagu yang berdurasi lama. Aku hampir selalu suka lagu berdurasi lama; rasanya penuh dan puas. Setiap dengar, aku selalu takjub dengan ciptaan itu, dengan kreativitas mereka. Lalu ditambah beberapa kali nonton vcd live mereka, mungkin yang paling mengesankan ialah Live at Pompeii. Aku bahkan minta seorang teman agar mengopikan Animals, mencari siapa yang punya Atom Heart Mother. Dulu saudaraku Uzie punya kaset double live album Delicate Sound of Thunder, tapi sekarang dia di luar jangkauanku. Dari Kineruku aku mendengar lagi P*U*L*S*E* dan A Momentary Lapse of Reason.
Seorang teman yang punya ribuan cd bilang bahwa dia paling suka A Saucerful of Secrets dan kurang suka The Wall atau album konsep PF. Kenapa? Ternyata menurut dia, "Terlalu bernuansa opera." Teman lain, namanya Haris Fauzi, sangat memuji The Final Cut, dan menyatakan ada salah satu lagu di sana yang dicontek habis oleh Kantata Takwa. (Lagu mana jadi apa ya?). Padahal, menurut bawah sadarku, The Final Cut justru merupakan album PF yang paling malas aku dengar. Lebih jelas lagi, dari berbagai info, ini adalah album PF yang total dihasilkan di bawah kendali Waters, bahkan boleh dibilang album solo Waters yang dikerjakan PF. Sebaliknya A Momentary... yang oleh sebagian kritik dibilang album solo Gilmour yang dikerjakan PF (minus Waters, karena waktu itu dia sudah ke luar). Di Wikipedia ada pernyataan betapa Waters jelas sekali jijik dengan A Momentary... Nah!
Baru-baru ini secara mengejutkan aku dapat album The First Three Singles di sebuah warnet. Menurut Budi Warsito, album ini ternyata sangat langka dan hanya ada dalam satu box set mereka yang harganya ratusan ribu. Wah, punya barang kolektor dong! Acia akhirnya mendownloadkan Atom Heart Mother (1970), Delicate Sound of Thunder (1988), ditambah album solo David Gilmour. Kemudian Erick menghadiahi aku satu cd-rom berisi 11 album mereka dengan kualitas prima. Berkat itu semua, rasanya hampir semua lagu PF sudah aku dengar. Apa lagi? Penyair Urip Herdiman Kambali menulis sajak High Hopes, mengambil sebuah judul lagu PF di The Divison Bell (1994.) Rupanya lagu itu bisa memicu kreativitas seseorang. Queensryche dalam Take Cover mengcover version Welcome to Machine; sementara Dream Theater pernah membawakan cover The Dark Side of the Moon versi mereka sendiri.
Bagiku pribadi, mendengarkan PF ternyata punya kenikmatan sendiri, apalagi bila dibarengi baca lirik, mengartikan, dan sambil melihat-lihat desain grafis album mereka yang cantik-cantik. Menyimak album mereka yang sudah berusia puluhan tahun, kadang-kadang terdengar lebih menakjubkan dibandingkan menghiraukan album A Perfect Circle, Tool, atau Porcupine Tree yang lahir tahun-tahun belakangan. Lagu-lagu PF terkesan mengambang, melayangkan pendengar melampaui ruang dan waktu, mengantarkan aku memasuki wilayah imajinal dan kenikmatan yang mungkin hanya bisa diceritakan setelah mengalami.[]
Anwar Holid, pada dasarnya seorang penggemar Queen.
Subscribe to:
Comments (Atom)








